Kebijakan Moratorium Menteri Susi Belum Berdampak Positif bagi Nelayan Karangantu

Pemberlakuan moratorium perizinan bagi kapal eks asing yang dilakukan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) belum bisa dirasakan manfaatnya oleh para nelayan kecil, khususnya bagi nelayan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Karangantu, Kota Serang, Banten.

MARINDO– Sudin, satu dari nelayan Karangantu kepada Maritim Indonesia mengatakan, hasil tangakapan ikannya tidak mengalami perubahan sejak 5 tahun lalu. Jika nasib sedang bagus, katanya, maka hasil tangkapan cukup lumayan. Tetapi terkadang impas bahkan tekor antara biaya melaut dengan hasil tangakapan tak bisa menutupi.

“Namanya rezeki, pak, kadang bagus hasilnya kadang gak dapet apa-apa. Ya beginilah nasib nelayan kecil seperti kami rezekinya sudah terukur,” ujar Sudin saat dihubungi di PPN Katangantu, Rabu (7/9).

Saat ditanya adakah dampak positif dari kebijakan Menteri Susi bagi nelayan Karangantu terkait dengan moratorium dan larangan transhipmen dan alat tangkap cantrang, Sudin mengatakan tidak tahu. Bahkan ketika ditanyakan soal kebijakan-kebijakan yang telah dikeluarkan KKP, ia juga mengatakan tidak tahu.

Namun ia kembali menegaskan bahwa hasil tangkapan yang diperolehnya nyaris tidak ada perubahan yang berarti. “Ya seperti saya sebutkan tadi kadang untung kadang buntung. Kalau pun untung tidak banyak-banyak amat. Sama seperti dulu-dulu juga,” tambahnya.

Padahal dalam setiap kesempatan Men-KKP Susi Pudjiastuti selalu mengatakan kebijakan yang dikeluarkannya telah berdampak pada produksi perikanan sehingga meningkatnya kesejahteraan nelayan. Bahkan Menteri Susi mengklaim jenis-jenis ikan yang dalam kurun waktu 10 tahun terakhir hilang, kini kembali muncul. Hal ini karena adanya pengendalian penangkapan ikan dari kebijakannya.

Deretan kapal sandar di dermaga PPN Karangantu.
Deretan kapal sandar di dermaga PPN Karangantu.

Sementara itu Kepala PPN Karangantu Bambang Koesminto saat dikonfirmasi Maritim Indonesia mengatakan, dalam jangka pendek memang belum kelihatan, tetapi dalam jangka panjang ia optimis pasti akan ada dampak positif bagi lingkungan laut, peningkatan produksi dan kesejahteraan nelayan.

“Kebijakan ini akan terasa dan kelihatan manfaatnya dalam jangka panjang. Namun saya kira saat ini pun ikan sudah terlihat variatif. Ikan-ikan seperti kakap merah dan ikan kue yang dulu jarang dan ukurannya kecil-kecil, kini sudah semakin banyak dan ukurannya besar-besar,” ujar Bambang di kantornya.

Saat ini sebagian besar nelayan Karangantu adalah nelayan yang mengoperasikan alat tangkap bagan, gillnet dan pancing dengan bobot kapal di bawah 20 GT. Sementara ikan yang ditangkap meliputi ikan kue, lemuru, teri dan cumi. Mereka umumnya hanya melaut di sekitar Teluk Banten, Lampung hingga ke Kepulauan Seribu Jakarta.

Kapasitas kolam dermaga yang dimiliki PPN Karangantu yang hanya 70 meter ini memang hanya bisa didaratkan sekitar 20 kapal tiap harinya sehingga ikan yang didaratkan pun tidak lebih dari 10 ton per hari. Tahun 2015 PNBP yang diraih PPN Karanganti hanya mencapai Rp 750 juta. Tahun ini hingga awal September sudah masuk sekitar Rp 500 juta.

Bambang jmengatakan kendala yang dihadapi saat ini di PPN Karangantu adalah dangkalnya kolam pelabuhan sehingga perlu pengerukan. Saat ini kedalaman kolam Karangantu yang berada di sepanjang alur muara sungai Cibanten ini hanya satu meter. Hal ini membuat kapal yang berlabuh di sana mengalami kesulitan terutama saat air laut surut.

Sementara untuk pasokan air bersih, cold storage dan pabrik es serta BBM dirasakan sangat cukup. Coldstorage memiliki kapasitas 50 ton, es bisa memproduksi 15 ton per hari dan ada SPDN (Solar Packed Dealer Nelayan) dengan kapasitas 130 KL per bulan.

“Soal pengerukan alur kolam sungai kami sudah koordinasi dengan pihak SDA (Dinas SDA Pemprov Banten, red). Karena sebenarnya soal alur sungai ini bukan kewenangan kami tapi pihak SDA. Tapi memang para nelayan yang memanfaatkannya untuk tambat kapal,” terang Bambang. [nss]

262 total views, 2 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *