Pakan dan Penyakit Kendala Pembudidaya Ikan di Waduk Gajah Mungkur

Pakan dan penyakit masih menjadi kendala serius bagi para pembudidaya ikan di Waduk Gajah Mungkur, Kabuapten Wonogiri, Jawa Tengah. Padahal waduk yang telah menenggelamkan 51 desa dan 7 kecamatan itu menjadi lahan mata pencaharian unggulan bagi masyarakat Kabupaten Wonogiri, khususnya bagi masyarakat di sekitar waduk.

 

MARINDO– Anto Dobleh, salah satu pembudidaya ikan nila di Waduk Gajah Mungkur kepada Maritim Indonesia mengungkapkan, saat ini ikan nila sangat mendominasi dan menjadi favorit usaha budidaya ikan. Selain mudah dibudidaykan, juga pasar sudah tersedia. Para pengepul akan datang sendiri ke sana. Harganya pun cukup menggiurkan, dari tingkat pembudidaya mencapai Rp 25 ribu hingga Rp 27 ribu per kilogramnya.

Namun saat ini masalah yang dihadapi oleh para pembudidaya di Waduk Gajah Mungkur, khususnya bagi para pembudidaya ikan individu atau kelompok adalah tingginya harga pakan. “Kami di sini menggunakan pakan apung sehingga tidak merusak lingkungan, tetapi harganya cukup mahal sehingga terkadang kami harus merugi atau hanya balik modal saja” ujar Anto.

Menurut Anto para pembudidaya di Waduk Gajah Mungkur rata-rata menggunakan pakan apung dari Pokphand di mana harganya mencapai Rp 275 ribu per sak dengan berat bersih 30 kilogram. “Jujur saja bagi kami dengan harga pakan tinggi sangat memberatkan. Untuk itu, kalau pemerintah memang mau mendorong para pembudidaya ikan, ya dikasih keringanan soal pakan, entah lewat subsidi atau apa pun,” harap Anto Dobleh.

Hal lain yang menajdi kendala bagi pembudidaya ikan di Waduk Gajah Mungkur, Anto melanjutkan, adalah kematian ikan sesaat setelah penebaran bibit. Kematian tersebut dipicu oleh penyait ikan yang kadang kematiannya mencapai lebih dari 30 persen untuk tiap penebaran bibit. “Untuk soal penyakit juga seharusnya pemerintah memberikan penyuluhan yang benar bagaimana agar bisa meminimalisir kematian hasil tebaran. Sebab ini juga sangat mempengaruhi hasil para pembudidaya ikan,” tambahnya.

Loso, pembudidaya ikan lainya di Waduk Gajah Mungkur juga mengungkapkan hal yang sama. Soal pakan dan kematian saat penebaran bibit memang masih menjadi kendala. Apalagi saat peralihan musim pancaroba. “Kalau tidak diantisipasi, saat air surut, kematian ikan pernah hampir mencapai seratus persen,” ungkap Loso. Tapi kini bisa mengatisipasi peralihan pancaroba itu dengan kincir air sehingga mampu merekayasa oksigen.

Tapi Loso menjelaskan, sejujurnya para pembudidaya ikan di Waduk Gajah Mungkur tidak pernah rugi. Kalau pun merugi paling hanya balik modal. “Kalau rugi sih belum pernah. Saya sudah lima belas tahun usaha di sini belum pernah rugi, tapi kalau hanya balik modal saja memang sering mengalaminya,” ujar Loso.

Menurut Anto, di tingkat pembudidaya ikan, tiap harinya tidak kurang dari 2 kwintal ikan nila merah diproduksi. Ini di luar hasil produksi PT. Aquafarm Nusantara, yakni PMA dari Swis yang ikut manambang uang di sana. Ikan-ikan tersebut disalurkan ke rumah-rumah makan dan bahkan dikirim ke luar Wonogiri seperti Jogja, Semarang dan daerah Jawa Tengah lainnya.

Sayang Maritim Indonesia tidak bisa menghubungi Kepala Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan kabupaten Wonogiri. Saat didatangi, Jumat beberapa waktu lalu, Kepala Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan tidak berada di tempat. Namun berdasarkan salah satu staf yang enggan disebutkan namanya, sebenarnya phak dinas sudah memberikan bimbingan dan penyuluhan baik terhadap pembudidaya maupun nelayan. Khusus bagi pembudidaya di saat peralihan pancaroba atau di saat musim kemarau di mana air mengalami surut, telah diberikan penyuluhan dengan menggunakan oksigen buatan dari kincir atau alat sejenisnya.

Untuk Ekspor

Waduk yang dibangun pada tahun 1980-an itu memang banyak memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat Jawa Tengah. Di luar Kabupaten Wonogiri, misalnya, Waduk Gajah Mungkur dimanfaatkan untuk pengairan irigasi untuk lahan pertanian sepertei di Kabupaten Klaten, Sukoharjo, Karanganyar, dan Sragen. Namun bagi warga Wonogiri, waduk tersebut telah memberikan manfaat besar khususnya bagi para pembudidaya ikan. Selain para pembudidaya, sebagian juga bisa memanfaatkan waduk tersebut dengan menjadi nelayan tangkap dan pengolah ikan. Ikan wader dan sogo adalah ikan lokal hasil tangkapan nelayan di sana.

Berdasarkan catatan Maritim Indonesia, dari waduk seluas 8.800 hektar itu, setiap tahun rata-rata dihasilkan 900 ton ikan hasil budidaya dan 1.000 ton ikan hasil tangkapan. Lahan yang digunakan untuk KJA seluas 176 hektar. Petani ikan pemilik KJA dan nelayan yang memanfaatkan waduk terbagi dalam 15 kelompok yang tersebar di 6 kecamatan di sekitar waduk, yakni Wonogiri, Ngadirojo, Nguntoronadi, Eromoko, Baturetno, dan Wuryantoro.

Usaha budidaya ikan di Waduk Gajah Mungkur tidak saja dilakukan oleh individu atau kelompok, bahkan perusahaan besar pun telah memanfaatkan waduk tersebut untuk usaha budidaya sejak tahun 1990-an. Adalah perusahaan modal asing dari Swis yakni PT Aquafarm Nusantara. Perusahaan ini fokus pada usaha nila merah untuk produk ekspor.

Menurut Humas PT Aquafarm Nusantara Budi Hartono, tiap hari perusahaannya memproduksi 12 ton ikan nila merah. Setelah dipanen ikan tersebut selanjutnya dibawa ke Semarang untuk di-fillet lalu diekspor ke Amerika dan Eropa. “Tiap hari kami panen untuk ukuran satu ekor satu kilogram. Ada 240 unit di mana masing-masing unit berukuran 12 kali 6 meter untuk mendukung produksi kami,” terang Budi.

Budi juga menjelaskan, di waduk Gajah Mungkur, usahanya hanya fokus pada usaha pembesaran, sementara untuk pembibitan dilakukan di Klaten. “Kami mendatangkan bibit dari Klaten,” jelasnya. [nss]

Teks Foto: Loso pembudidaya ikan di Waduk Gajah Mungkur.

367 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *