Jangan Takut Indonesia Memiliki Energi Laut

Listrik memang energi yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Semua orang dari berbagai sektor menggunakan listrik. Mulai dari bidang kesehatan, teknologi, pendidikan, dan industri. Namun seiring pertumbuhan rakyat Indonesia yang sangat cepat, di mana data dari BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) setiap tahun penduduk Indonesia bertambah 4 juta jiwa, maka penggunaan listrik akan terus bertambah dan jika dibiarkan kemungkinan Indonesia bisa mengalami krisis energi listrik.

 

Tak berlebihan jika kemudian Pemerintah Jokowi mengeluarkan Paket Kebijakan Ekonomi I pada tahun lalu, di mana salah satu poinnya adalah pemenuhan kebutuhan energi dan sumber daya mineral, dan soal listrik satu di dalamnya. Tetapi dengan penggunaan energi listrik yang semakin membengkak, maka pemerintah perlu juga mendorong mengembangkan energi alternatif, misalnya energi yang bersumber dari laut.

Bagi Indonesia, sebenarnya kebutuhan energi listrik bukan masalah yang perlu ditakuti, jika mau “menengok” ke laut. Bukankah kini pemerintah tengah mengarahkan paradigma pembanguan ke bidang kemaritiman? Poros Maritim Dunia yang menjadi cita-cita pemerintah Jokowi adalah menjadikan laut sebagai sumber penghidupan bangsa ini, tak terkecuali energi di dalamnya. Apalagi jika dikaitkan dengan kebutuhan energi yang terbarukan, bersih, dan yang pasti ramah lingkungan, tentu di laut jawabannya.

Laut sebagai sumber energi alternatif sebagai pengganti energi fosil bukanlah isapan jempol. Sayangnya, upaya pengembangan kelautan masih sangat minim. Selain belum digarap dengan serius, terkadang biaya dituding sebagai faktor menuju ke arah sana. “Padahal jika dikembangkan, Indonesia yang memilik laut dua pertiga lebih luas dari daratan, akan mampu mencukupi energinya dari laut tanpa harus bergantung ke sumberdaya fosil yang ditaksir kian menipis,” kata guru besar Teknik Kelautan Institut Teknologi Surabaya (ITS) Mukhtasor.

Pembangkit Listrik Tenaga Ombak

Menurut Mukhtasor, air laut memiliki banyak manfaat, salah satunya menghasilkan energi listrik dari pusat pembangkit listrik tenaga ombak. Sifat kontinyuitasnya yang tersedia setiap waktu menjadikan ombak bisa untuk dijadikan sebagai pembangkit tenaga listrik. “Listrik dari tenaga ombak ini diharapkan dapat menjadi solusi bagi krisis energi yang terjadi akhir-akhir ini,” katanya.

Sekadar menyebut contoh, pembangkit listrik tenaga ombak telah diuji-cobakan di pulau Islay, di lepas pantai barat Skotlandia yang menghasilkan 500 KW listrik yang cukup untuk kebutuhan 400 rumah tangga.

Cara kerja pembangkit listrik baru ini sangat sederhana. Sebuah tabung beton dipasang pada suatu ketinggian tertentu di pantai dan ujungnya dipasang di bawah permukaan air laut. Tiap kali ada ombak yang datang ke pantai, air di dalam tabung beton itu akan mendorong udara yang terdapat di bagian tabung yang terletak di darat.

Pada saat ombak surut, terjadi gerakan udara yang sebaliknya dalam tabung tadi. Gerakan udara yang bolak-balik inilah yang dimanfaatkan untuk memutar turbin yang dihubungkan dengan sebuah pembangkit listrik. Sebuah alat khusus dipasang pada turbin itu supaya turbin hanya berputar satu arah, walaupun arah arus udara dalam tabung beton itu silih berganti.

Selain skotlandia, langkah ini juga telah dirintis di New South Wales, Australia, baru-baru ini. Pembangkit listrik itu mempunyai luas seperempat lapangan sepak bola dan tingginya setara gedung bertingkat lima. Pembangkit listrik tenaga ombak pertama ini nantinya akan diletakkan 200 meter dari garis pantai. Ombak yang datang akan memasuki sebuah lorong dan menciptakan tiupan udara dengan kecepatan mencapai 400 kilometer per jam untuk memutar turbinnya menerangi 2.000 rumah. Keuntungan lain pembangkit listrik ini, tak menghasilkan gas emisi hingga ramah lingkungan. Selain itu, alat pembangkit itu dapat dioperasikan dari mana saja melalui sambungan internet.

Pembangkit Listrik Tenaga Pasang Surut

Wilayah Indonesia terdiri dari banyak pulau. Cukup banyak selat sempit yang membatasinya maupun teluk yang dimiliki masing-masing pulau. Hal ini memungkinkan untuk memanfaatkan energi pasang surut. Saat laut pasang dan saat laut surut aliran airnya dapat menggerakkan turbin untuk membangkitkan listrik.

Proyek pembangunan pusat listrik tenaga pasang surut yang pertama terdapat di La Rance, antara St. Maro dan Dinard, Brittany, Perancis. Secara resmi, proyek ini dibuka oleh presiden Perancis, Jenderal De Gaulle, bulan November 1956. Pelaksanaan proyek mercusuar ini bertujuan untuk memasok kebutuhan energi. Karena semasa Perang Dunia II, konsumsi listrik Perancis bertambah dua kali lipat.

Pemanfaatan pusat listrik energi pasang surut yang direalisasikan di La Ranche Perancis juga diikuti oleh Rusia di Murmansh, Lumboy, Tae Menzo Boy, dan The Thite Sea. Tidak jauh dari Indonesia, ada Australia yang memanfaatkannya di Kimberly. Saat ini potensi energi pasang surut di seluruh samudera di dunia tercatat 3.106 MW.

Pembangkit Listrik Energi Panas Laut

Konversi energi panas laut adalah sistem konversi energi yang terjadi akibat perbedaan suhu di permukaan dan di bawah laut menjadi energi listrik. Potensi terbesar konversi energi panas laut untuk pembangkitan listrik terletak di khatulistiwa. Soalnya, sepanjang tahun di daerah khatulistiwa suhu permukaan laut berkisar antara 25-30°C, sedangkan suhu di bawah laut turun 5-7°C pada kedalaman lebih dari 500 meter.

Terdapat dua siklus konversi energi panas laut, yaitu siklus Rankine terbuka dan siklus Rankine tertutup. Sebagai pembangkit tenaga listrik, konversi energi panas laut siklus Rankine terbuka memerlukan diameter turbin sangat besar untuk menghasilkan daya lebih besar dari 1MW. Sedangkan komponen yang tersedia belum memungkinkan untuk menghasilkan daya sebesar itu, alternatif lain yaitu siklus Rankine tertutup dengan fluida kerja amonia atau freon.

Berdasarkan letak penempatan pompa kalor, konversi energi panas laut dapat diklasifikasikan menjadi tiga tipe, yaitu, konversi energi panas laut landasan darat, konversi energi panas laut terapung landasan permanen, dan konversi energi panas laut terapung kapal.

Konversi energi panas laut landasan darat alat utamanya terletak di darat, hanya sebagian kecil peralatan yang menjorok ke laut. Kelebihan sistem ini adalah dayanya lebih stabil dan pemeliharaannya lebih mudah. Kekurangan sistem jenis ini membutuhkan keadaan pantai yang curam, agar tidak memerlukan pipa air dingin yang panjang.

Status teknologi konversi energi panas laut jenis ini baru pada tahap percontohan dengan kapasitas 100 W dan dengan fluida kerja freon yang dilakukan oleh TEPSCO-Jepang, dengan lokasi percontohan di Kepulauan Nauru. Selain itu dibangun pusat penelitian dan pengembangan konversi energi panas laut landasan darat yang terletak di Hawaii.

Untuk konversi energi panas laut terapung landasan permanen, diperlukan sistem penambat dan sistem transmisi bawah laut, sehingga permasalahan utamanya pada sistem penambat dan teknologi transmisi bawah laut yang mahal. Jenis ini masih dalam taraf penelitian dan pengembangan.

Konversi energi panas laut terapung kapal beroperasi dengan bebas karena dibangun di atas kapal. Biasanya energi listrik yang dihasilkan untuk memproduksi berbagai bahan yaitu amonia, hidrogen, methanol, dan lain-lain.

Status teknologi konversi energi panas laut jenis ini baru taraf percontohan, dengan nama pembangkit Mini OTEC yang berkapasitas 50 kW dengan lokasi percontohan di laut Hawaii. Mini OTEC menghasilkan daya bersih 10 kW sampai 15 kW. Selain itu, pada tempat yang sama beroperasi konversi energi panas laut dengan nama OTEC1 dengan kapasitas 1 MW. Perkembangan teknologi konversi energi panas laut di Indonesia baru mencapai status penelitian, dengan jenis konversi energi panas laut landasan darat dan dengan kapasitas 100 kW, lokasi di Bali Utara.[nss]

267 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *