Ekspedisi Oseanografi : KKP-LIPI Teliti Arus Air Laut Saat La Nina

Hasil kajian yang telah dilakukan selama ini diketahui bahwa pada saat terjadi La Nina, Arlindo cenderung menguat, sehingga volume massa air yang dialirkan dari Samudera Pasifik ke Hindia akan lebih besar dan hal ini akan berdampak signifikan pada kondisi cuaca dan iklim regional dan global serta ekosistem laut di Indonesia.

MARINDO-Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan (Balitbang KP) bekerjasama dengan Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2O LIPI) menyelenggarakan serangkaian ekspedisi oseanografi di perairan Indonesia bagian timur.

Ekspedisi oseanografi yang akan mengukur beberapa parameter penting ini, dimulai dari Pelabuhan Benoa Bali menuju ke Laut Banda, Maluku dan Sulawesi, Selat Makassar dan Lombok, dan berakhir di Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman Jakarta.

Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan KKP Umi Windriani mengatakan, pelayaran ilmiah yang akan dimulai dari Pelabuhan Bitung, Sulawesi Utara, ini sangat strategis mengingat tahun 2016 adalah tahun La Nina. Dari hasil kajian yang telah dilakukan selama ini diketahui bahwa pada saat terjadi La Nina, Arlindo cenderung menguat, sehingga volume massa air yang dialirkan dari Samudera Pasifik ke Hindia akan lebih besar dan hal ini akan berdampak signifikan pada kondisi cuaca dan iklim regional dan global serta ekosistem laut di Indonesia.

Menurut Umi, sda beberapa misi khusus yang diemban Balitbang KP melalui ekspedisi ini, antara lain, untuk lebih memahami dinamika oseanografi di perairan dalam, mempelajari pertukaran massa air antara Samudera Pasifik dan Hindia dan keterkaitannya dengan iklim dan kondisi ekosistem, mengumpulkan data untuk validasi output dari Infrastructure Development for Space Oceanography (INDESO) Project, dan menginventarisir keberadaan rumpon (fish aggregating devices).

Ekspedisi oseanografi Indonesia timur ini dibagi menjadi 3 leg, yaitu, pertama, Ekspedisi Prediksi Dinamika Laut, berangkat dari Pelabuhan Benoa, Bali dan berakhir di Pelabuhan Ambon dengan wilayah kajian Laut Banda, lama ekspedisi 10 hari, dari tanggal 27 Agustus hingga 5 September 2016.

Kedua, Ekspedisi INDESO Joint Expedition Program, berangkat dari Pelabuhan Ambon dan berakhir di Pelabuhan Bitung, Sulawesi Utara dengan wilayah kajian Laut Maluku dan Sulawesi, lama ekspedisi 10 hari, dari tanggal 6 hingga 15 September 2016.

Ketiga, Expedition on the Transport, Internal Wave and Mixing in The Indonesian Through flow Region and Its Impact on Marine Ecosystem, berangkat dari Pelabuhan Bitung, Sulawesi Utara dan berakhir di Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman, Jakarta dengan wilayah kajian Selat Makassar dan Lombok. Ekspedisi leg 3 selama 12 hari, dari tanggal 21 September hingga 2 Oktober 2016.

“Leg ke-1 dan 2 telah dapat dilaksanakan dengan baik. Pengukuran insitu dan pengambilan sampel air di sekitar 40 titik pengamatan telah dapat dilakukan dengan lancar, yang meliputi pengukuran temperatur dan salinitas, pengambilan sampel kualitas air, dan pengukuran arus terhadap kedalaman dan pCO2 secara underway di sepanjang jalur pelayaran,” katanya.

Pasca ekspedisi, tim peneliti yang terlibat dalam ekspedisi akan melakukan pengolahan dan analisis data hasil pengukuran, termasuk analisis sampel air di laboratorium dan melakukan analisis secara komprehensif fenomena oseanografis yang ada dengan menggunakan bantuan model numerik oseanografi.

Jika pada leg ke-1 dan 2 fokus kegiatan ekspedisi adalah pengukuran insitu dan pengambilan sampel air, maka di leg yang ke-3, fokus kegiatan adalah mengambil pelampung (buoy) yang dilengkapi dengan sensor pengukur suhu, salinitas, dan arus laut terhadap kedalaman di Selat Makassar dan Lombok yang telah dipasang pada bulan Oktober 2015.

Pemasangan buoy di Selat Makassar dan Lombok ini ditujukan untuk memetakan dan mendapatkan gambaran yang lebih utuh tentang kondisi hidro dinamika, transport massa air, dan gelombang internal (internal waves) di Selat Lombok dan Makassar serta pengaruhnya pada ekosistem laut Indonesia dan untuk memvalidasi model prediksi laut Indonesia.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan ekspedisi, dilakukan mini seminar Ekspedisi Oseanografi Indonesia Timur dengan tema “Menuju Pelestarian dan Pemanfaatan Sumberdaya Laut yang berkelanjutan” di gedung CTI Center Manado pada tanggal 19 September. Pada kesempatan tersebut dipaparkan hasil sementara pelayaran leg 1 dan leg 2 yang telah selesai dilaksanakan dan pemaparan tentang rencana pelayaran leg 3.

Mini seminar dihadiri oleh instansi lokal seperti Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulut, PSDKP Pangkalan Bitung, Loka Konservasi LIPI, Regional Office CTI-CFF, Loka Penelitian Sumberdaya dan Kerentanan Pesisir (LPSKP) Sorong, Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut Makassar, Balai Konservasi Sumberdaya Alam KLHK Manado. [nss]

376 total views, 3 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *