Urai Dwelling Time, CDP Harus Tingkatkan Kapasitas Tampung

Untuk bisa mengurai masalah bongkar muat pelabuhan dan bisa bersaing dengan pelabuhan-pelabuhan besar di regional maupun dunia, pelabuhan di dalam negeri harus meningkatkan kapasitas daya tampungnya, tak terkecuali bagi Cikarang Dry Port (CDP).

MARINDO-Dalam kunjungannya ke CDP, Rabu (21/9), Menko Maritim Luhut Pandjaitan mengatakan, Cikarang Dry Port harus menaikkan kapasitas daya tampungnya yang kini berada di kisaran 60,000-70,000 TEU’s. Sehingga dapat mampu mengurai bongkar muat di pelabuhan.

“Target pertumbuhan ekonomi kita 6 sampai 7 persen yang akan membuat pertumbuhan volume perdagangan kita semakin cepat, sehingga membutuhkan kapasitas pelabuhan yang lebih besar lagi,” ujar Menko Luhut di sela kunjungannya di CDP, Rabu (21/9).

Menko Luhut menyayangkan kapasitas yang digunakan saat ini masih jauh di bawah kemampuan CDP. Tanjung Priok yang saat ini memiliki kapasitas sekitar 3 juta TEU’s, katanya, diargetkan untuk dapat dinaikkan menjadi 16 juta TEU’s. Sebagai catatan, Singapura saat ini kapasitasnya sekitar 32 juta TEU’s..

Kepada pucuk pimpinan CDP, Menko Luhut meminta agar segera mengindentifikasi permasalahan yang selama ini menghambat kenaikan kapasitas. Ia berjanji akan akan membahasnya dengan kementerian terkait.

“Persoalan yang terlihat saat ini seperti regulasi, langsir kereta, tata ruang, dan perpanjangan rel kereta dan lain-lain akan kami bicarakan. Anda yang berada di lapangan dan regulator yang di atas, kita harus berdialog,” katanya.

Menurut Menko Luhut, pemerintah akan membuat kebijakan untuk mengoptimalkan dry port selama satu tahun. Setelah satu tahun pemerintah akan mengevaluasi dan perbaikan agar kebijakannya dapat diimplementasikan secara lebih baik.

Dalam pertemuan tersebut Menteri Luhut juga menyampaikan keinginannya agar CDP bisa mempersingkat waktu dwelling time menjadi dua hari dari saat ini yang masih sekitar tiga hari.

“Saya mendukung pengembangan dry port, termasuk menambah jumlah dry port yang ada, agar dwelling time dan biaya logistik dapat turun secara signifikan,” katanya.

Menurutnya, di Pulau Jawa saja sekarang memerlukan sekitar lima dry port untuk menurunkan biaya logistik. “Penurunan dwelling time akan menurunkan biaya logistik, yang pada akhirnya akan menigkatkan daya saing industri, baik di dalam maupun di luar negeri,” ujar Menko Luhut. [nss]

149 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *