2017, Bandeng Jadi Unggulan Minapolitan di Kabupaten Pati

Satu di antara 10 lokasi minapolitan, Kabupaten Pati paling potensial untuk dipilih. Dengan potensi bandeng yang sangat besar, kabupaten di Pantura Jawa Tengah itu bisa berkembang melalui ekonomi perikanannya.

MARINDO-Program minapolitan yang digagas di era Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad dirasakan masih relevan pada saat ini. Di sub sektor perikanan budidaya, adalah Kabupaten Pati, Jateng, dengan komoditas andalan ikan bandeng menjadi prioritas untuk dikembangkan.

Direktur Kawasan Budidaya Ditjen Perikanan Budidaya KKP Arik Hari Wibowo kepada Maritim Indonesia mengatakan, dari 110 kawasan atau lokasi minapolitan budidaya yang telah dikembangkan sejak tahum 2010, di tahun 2017 akan dikerucutkan menjadi 10 lokasi. Namun Arik belum menyebutkan di mana saja 10 lokasi tersebut.

“Belum kita bahas. Mungkin Oktober ini berbarengam dengan penyusunan anggaran akan kita tentukan 10 lokasi kawasan minapolitan,” ujar Arik Wibowo di ruang kerjanya, Senin (29/9).

Namun Ari menyebutkan satu di antara 10 lokasi, Kabupaten Pati paling potensial untuk dipilih. Dengan potensi bandeng yang sangat besar, Pati bisa berkembang dari ekonomi perikanannya, mulai dari hulu hingga hilir melalui komoditas unggulan tersebut.

“Sebagai daerah sentra bandeng potensial, Pati akan kita kembangkan sebagai minapolitan budidaya bandeng. Di sana nantinya semua sektor, lembaga dan instansi keroyokan membangun Pati,” tambah Arik.

Bandeng menjadi pertimbangan untuk dikembangkan sebagai komoditas unggulan minapolitan karena ikan tersebut mudah dibudidayakan. Sebagai ikan khas Indonesia, bandeng juga familiar untuk diolah menjadi beragam menu olahan. Selain itu teknologi budidayanya pun sudah dikuasai, baik yang tradisional maupun moderen.

“Minapolitan bisa menjadi pendobrak soal pemasaran yang selama ini menjadi hambatan utama pada produk perikanan kita. Dengan minapolitan itu bisa menjadi jembatan pemasaran,” terangnya.

Direktur Kawasan Budidaya KKP Arik Hari Wibowo
Direktur Kawasan Budidaya KKP Arik Hari Wibowo

Ke depan, Arik berharap bandeng tidak saja banyak dikonsumsi di dalam negeri tetapi juga untuk ekspor. “Selama ini, impor bandeng Arab Saudi bukan dari kita malahan dari Filipina, ini kan ironis,” katanya.

Dengan program minapolitan masuk ke satu wilayah atau kawasan, lanjutnya, maka pemerintah daerah memiliki peran penting dan didorong oleh berbagai sektor dan instansi. Pasalnya, kawasan tersebut sudah terintegrasi dengan berbagai sektor, dari hulu ke hilir, dari produksi hingga pemasaran.

Sebagai catatan, saat ini kawasan minapolitan budidaya yang sudah berkembang adalah Bogor dengan komoditas lele dan Kampar dengan komoditas patinnya.

“Di Bogor dan Kampar karena ada minapolitan maka semua sektor dan lembaga masuk ke sana. Di sana juga masuk perbankan, infrastruktur seperti jalan juga ditingkatkan sehingga mendorong daerah tersebut lebih berkembang,” jelasnya.

Pemerintah pusat, dalam hal ini KKP, akan memberi bantuan tapi sifatnya stimulus dan koordinasi antar instansi dan lembaga. Selebihnya mungkin pelatihan dan pendampingan.

“Karena anggaran terbatas, KKP hanya menstimulus dan koordinasi dengan instansi lain, semisal soal listrik dan jalan. Tetapi tentunya Pemda setempat juga harus menganggarkan dananya ke sana,” harapnya.

Saat ditanya apakah minaplotan akan masuk ke wilayah 15 pulau yang kini sedang dikembangkan KKP, Arik mengatakan belum ada rencana ke arah sana. [nss]

421 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *