‘Deg-degan’ Menunggu Realisasi Pengadaan Kapal Ikan

Jika mesin kapal terlambat dikirim, dikhawatirkan kapal tidak bisa selesai seluruhnya hingga Desember nanti.

 

MARINDO-Dari kejauhan galangan kapal PT Siagan Boats itu tampak sepi. Tak ada hiruk aktivitas para pekerjanya. Semua hening dan tenang, tidak seperti pada umumnya aktivitas sebuah galangan kapal. Hanya dua-tiga pekerja yang sedang melapisi lambung kapal dengan mat-roving, yakni serat kasar yang terbuat dari polyester. Namun saat menaiki deck kapal yang selesai dicetak itu, tampaklah puluhan pekerja sedang bekerja melapisi bilah-bilah kapal tersebut.

Di pinggiran Sungai Tallo, Kota Makasar, yang airnya tenang mengalir ke Selat Makasar itu, PT Siagan Boats mengerjakkan 13 kapal ikan ukuran 30 GT, yakni program pengadaan 3.450 kapal yang menjadi andalan Kementerian Kelautan dan Perikanan 2016. Namun karena terganjal ‘pemotongan anggaran’ serta kehati-hatian dalam pemberian bagi calon penerima (nelayan) sehingga tidak salah sasaran, program ini terpangkas separuhnya atau hanya tersisa menjadi 1.716 kapal.

Awalnya KKP memang menargetkan hingga Desember 2016 kapal yang akan dibagikan secara gratis itu sebanyak 3.450 kapal yang terdiri dari 1.510 unit untuk ukuran 3 GT (Gross Tonage), 1.020 unit kapal 5 GT, 690 unit kapal 10 GT, 200 unit kapal 20 GT dan sebanyak 30 unit untuk kapal berukuran 30 GT.

Galangan kapal yang rencana dilibatkan sebanyak 140 pun, hanya 70 galangan yang lolos. Separuhnya sudah menandatangani kontrak dimulainya pembuatan, separuhnya masih kontrak payung atau menunggu ‘tayangan’ dari LKPP (Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah).

Melalui program pengadaan kapal ikan inilah justru membuat Direktur Kapal Perikanan dan Alat Penangkapan Ikan KKP Minhadi Noer Sjamsu ‘tidak nyenyak tidur’. Sebagai pimpinan dari program ini tentu namanya dipertaruhkan. Ia harus bekerja keras agar mampu menggolkan program ini sehingga tercapai target pada Desember 2016 dan kapal bisa diterima oleh koperasi calon penerima.

Direktur Kapal Perikanan dan Alat Penangkap Ikan Minhadi NS bersama Dirut PT Siagan Boats Harry Jost berbincang serius.
Direktur Kapal Perikanan dan Alat Penangkap Ikan Minhadi NS bersama Dirut PT Siagan Boats Harry Jost berbincang serius.

Tidak genah tidur pun rupanya bukan saja dialami oleh Minhadi, para penerima kontrak atau produsen pun ketularan ‘insomnia’ dadakan. Dirut PT Siagan Boats, Harry Jost, pemilik galangan kapal pemenang tender 13 kapal ukuran 30 GT, misalnya, harus sport jantung. Untuk merealisasikan program ini tepat waktu, dia pun harus melemburkan 100 karyawannya hingga jam 10 malam.

Terang saja, waktu yang mepet, yang baru di awal September tanda tangan kontrak pembangunan, membuat ia ‘deg-degan’, apakah mampu menyelesaikan pekerjaan besar ini. Dari beberapa ukuran yang ada, kapal 30 GT memang kapal yang paling besar. Namun ia tetap optimis menyelesaikan hingga Desember 2016 nanti. Kini pembuatan kapal 30 GT itu sudah berjalan sekitar 30 persenan. Empat kapal sudah tercetak dan tinggal memasuki finishing. Kapal-kapal lainnya sedang antri di proses cetakan.

“Kalau sudah ada cetakan sebenarnya cepat, dan kami memiliki dua cetakan. Untuk satu kapal ukuran 30 GT hanya memerlukan waktu 8 hari keluar dari satu cetakan. Setelah itu finishing-nya (plus pemasangan mesin) butuh waktu satu bulan,” ungkap Harry Jost kepada Maritim Indonesia di kantor galangan kapal miliknya, di Kelurahan Tallo, Kecamatan Tallo, Kota Makasar, Sulawesi Selatan, Kamis (6/10).

Kerja lembur

Kerja siang malam di galangan kapal PT Siagan Boats memang tampak hasilnya. Berdasarkan pantauan Maritim Indonesia di galangan yang sudah berdiri sejak tahun 1980-an itu, ada 2 unit dari 4 unit kapal sudah tercetak dengan rapi dan tinggal menunggu proses pemasangan mesin. Harry sengaja mengosongkan ruang mesin itu tidak tertutup, lantaran memang sedang menunggu kiriman mesin dari KKP. 2 kapal lainnya sedang dalam proses pelapisan serat-serat feber.

Direktur Minhadi NS saat peninjaun ke galangan kapal PT Siagan Boats
Direktur Minhadi NS saat peninjaun ke galangan kapal PT Siagan Boats

Menunggu kiriman mesin datang memang diakui Harry Jost hal yang paling memompa jantungnya tambah cepat. Pasalnya, jika mesin lambat datang, maka ia tidak bisa menjamin apakah kapal ini bisa selesai semuanya hingga Desember nanti. Terang saja, untuk memasang satu unit mesin dengan instalasinya memerlukan waktu kurang lebih satu bulan.

“Saya berharap KKP secepatnya mengirimkan mesin. Karena jika mesin terlambat datang, saya tidak tahu harus bagaimana. Kalau cepat datang, akan langsung saya pasang dan tutup. Lalu satu-satu akan saya kirimkan ke lokasi penerima,” ujar Harry.

Saat ditanya kapan mesin kapal tiba, Minhadi menjanjikan pada pertengahan bulan ini atau tepatnya pada 15 Oktober mesin akan segera dikirimkan ke PT Siagan Boats. Minhadi mengatakan, sudah ada 6 mesin untuk ukuran 30 GT, 3 di antaranya akan segera dikirmkan agar bisa segera dipasangkan sehingga bisa secepatnya dikirimkan kepada calon penerima. Kata Minhadi, calon penerima kapal 30 GT ini kebanyakan di daerah timur, antara lain di Gorontalo, Kendari dan Papua.

Dari 30 unit kapal ukuran 30 GT yang direncanakan memang hanya 18 unit saja yang sudah teken kontrak. 13 unit dikerjakan PT Siagan Boats dan sisanya 5 unit terpencar antara lain di Batam dan Jakarta. Sementara itu untuk satu unit kapal ukuran 30 GT, dipatok anggaran sebesar Rp 1,7 miliar. Rencananya, kapal dengan kecepatan 8 knot itu akan dilengkapi dengan alat tangkap gill net.

“Saat ini dari 2.700 pengadaan alat tangkap, sudah tersedia 30 persenan. Kami bahkan sudah kirimkan alat tangkapnya dulu kepada penerima, nanti kapalnya belakangan,” kata Minhadi di sela peninjauan pembuatan kapal 30 GT di galangan kapal PT Siagan Boats, Kamis (6/10).

Minhadi juga mengungkapkan, program ini memang banyak keterlambatan karena berbagai alasan, salah satunya karena merupakan tahun pertama digulirkan. Untuk tahun berikutnya, ia optimis akan bisa lebih mudah karena data-data sudah tersedia dan lebih akurat. “Tahun 2017 pastinya kerja kita akan lebih mudah. Dan inilah hasilnya kerja kami, dan saya rasa saya telah optimal bekerja,” ujar Minhadi.

Hal yang sama diungkapkan Harry. Ia mengatakan, jika tahun 2017 perusahaannya dipercaya lagi untuk membuat kapal-kapal milik KKP, tentunya akan lebih mudah karena pastinya kontrak akan dilakukan di awal tahun.

“Taruhlah jika kontrak di bulan Maret, bukan cuma 13 kapal, 50 unit pun kami sanggup mengerjakannya,” tantang lelaki 60 tahun yang sudah alang melintang selama 40 tahunan di dunia pembuatan kapal. Tahun ini sebenarnya PT Siagan Boats, menurut Harry Jost, juga mendapatkan pekerjaan pembuatan kapal ukuran 10 GT. Tapi karena waktu yang tidak memungkinkan, ia tidak mengambilnya.

Sementara itu Kepala Seksi Pemberdayaan Nelayan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan, Andi Agung, yang turut dalam peninjauan tersebut mengatakan, hingga saat ini koperasi nelayan Sulsel yang sudah klir akan mendapatkan bantuan kapal dari KKP sebanyak 8 koperasi. 2 koperasi di Kabupaten Takalar, 2 koperasi di Kabupaten Sinjai, 1 koperasi di Kabupaten Luwu Utara dan 1 koperasi dari Kabupaten Wajo.

“Sebenarnya kami mengusulkan 100 koperasi, tapi karena yang lain belum memiiki NIK (Nomor Induk Koperasi), jadi masih pending. Kami sedang mengurus NIK koperasi-koperasi itu agar yang lainnya bisa mendapatkan bantuan kapal juga,” ujar Andi Agung. [nss]

787 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *