Laos dan Filipina Siap Kembangkan Mina Padi Ala Indonesia

Mina padi dapat meningkatkan pendapatan petani serta mampu memberikan penyediaan sumber bahan pokok utama pangan yaitu karbohidrat dan protein.

MARINDO–Keberhasilan program mina padi yang dikembangkan Ditjen Perikanan Budidaya KKP mengundang minat stakeholder pertanian dan perikanan di sejumlah negara, antara lain dari Laos dan Filipina. Mereka ingin mencontoh model budidaya perikanan yang menggabungkan budidaya ikan dan padi itu.

Untuk menularkan ilmu mina padi Indonesia ke negara lain, KKP dan FAO telah melakukan lokakarya dan tinjau lapangan mina padi di Jawa Tengah dan Yogyakarta pada bulan September 2016 lalu.

Dirjen Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto mengatakan, keunggulan dari budidaya mina padi, selain dapat meningkatkan pendapatan petani, juga mampu memberikan keuntungan dari segi penyediaan sumber bahan pokok utama pangan yaitu karbohidrat dari padi dan protein dari ikan.

“Budidaya mina padi merupakan konsep bisnis yang dikembangkan untuk menjawab tantangan sistem ekonomi dunia saat ini, yang cenderung eksploitatif dan merusak lingkungan,” ujar Slamet saat menyerahkan bantuan 5 ton pakan ikan mandiri dan 5 juta ekor benih nila kepada sepuluh pembudidaya ikan di Kabupaten Sleman, Jogjakarta, Senin (10/10).

Benih tersebut merupakan produksi Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi.

Kegiatan yang dilaksanakan dalam rangkaian pertemuan The 2nd International Symposium on Fisheries Crime 2016 di Yogyakarta ini, juga ingin menyampaikan bahwa perikanan budidaya yang berkelanjutan dan berkeadilan mampu meningkatkan kesejahteraan para pelaku usaha.

Lebih jauh Slamet mengungkapkan, dengan mina padi, penggunaan pestisida dapat dihindari, penggunaan pupuk kimia berkurang signifikan, serta pendapatan menjadi lebih tinggi.

Inovasi teknologi

Perkembangan budidaya mina padi juga semakin luas dengan adanya inovasi teknologi menggunakan jenis ikan yang beragam.

Misalnya, budidaya mina padi dengan udang galah (UGADI), padi dengan nila (LADI), padi dengan lele (LeDi), padi dengan udang galah dan gurame (UGAMEDI) dan juga padi dengan udang galah dan koi (UGAKODI). Inovasi teknologi tersebut telah memberikan keuntungan dan peningkatan pendapatan bagi petani, tanpa mengurangi produktivitas padi.

“Ini adalah wujud kerjasama lintas sektoral antara pertanian dengan perikanan dalam meningkatkan produktivitas lahan dan pendapatan petani,” jelas Slamet.

Dirjen Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto saat memberian bantuan benih dan pakan ikan di Sleman, Jogjakarta.
Dirjen Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto saat memberian bantuan benih dan pakan ikan di Sleman, Jogjakarta.

Slamet juga memberi contoh budidaya mina padi di Dusun Cibuk Kidul, Desa Margoluwih, Kec. Sayegan. Produksi padi meningkat 10-20 persen dari semula hanya 7-8 ton/ha/MT, menjadi 8-9 ton/ha/MT. Ditambah lagi produksi ikan sebanyak 3-5 ton/ha/MT. Ini setara dengan penambahan penghasilan sebesar 1.700 dollar AS atau Rp 22 juta per ha per musim tanam.

“Percontohan budidaya mina padi pada tahun 2015 yang dilakukan FAO bekerjasama dengan KKP di Kab. Sleman, pada awalnya hanya seluas 25 ha, dan saat ini telah berkembang menjadi 102 ha,” terang Slamet.

Awalnya KKP mengalokasikan Dana Tugas Pembantuan (TP) Kab. Sleman, untuk budidaya mina padi di lahan seluas 25 ha. Pada tahun 2016, sudah berkembang menjadi 102 ha, karena masyarakat telah mengembangkan lahan budidaya mina padi seluas 52 ha secara swadaya.

Pada kesempatan yang sama Dirjen Slamet yang mewakili Menteri KP juga menyerahkan bantuan ikan segar sebanyak 15,5 ton kepada 12 Pondok Pesantren, 86 Panti Asuhan, 21 Panti Jompo dan 35 Lembaga Sosial. Bantuan ikan segar ini berasal dari Ditjen Peningkatan Daya Saing KKP, dalam upaya untuk meningkatkan konsumsi ikan di DI. Yogyakarta. [nss]

 

281 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *