Mogok Massal Kapal Ikan Tidak Pengaruhi Suplai Ikan

Pelaku usaha perikanan diminta kembali melakukan aktivitas seperti biasa. Jika ada permasalahan, sebaiknya dilakukan komunikasi antara pemerintah dan pelaku usaha, sehingga ada solusi yanng bisa dicapai.

MARINDO–Mogok massal yang dilakukan oleh para pemilik kapal ikan di sejumlah daerah untuk tidak melaut dalam sebulan ke depan, tidak akan mempengaruhi suplai dan kebutuhan konsumsi ikan lokal.

Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP Nilanto Perbowo tidak mengkhawatirkan terjadinya kekurangan pasokan ikan lokal dengan adanya mogok massal para pemilik kapal dan industri pengolahan ikan tersebut. Pasalnya, produksi ikan dari nelayan di sejumlah daerah lain tetap berjalan seperti biasa.

“Kami tidak khawatir adanya mogok ini. Itu kan yang tujuan ekspor saja. Lagi pula faktanya di tempat pelelangan ikan di sejumlah daerah masih berjalan seperti biasa. Hanya sebagian kecil saja yang tidak beroperasi,” ujar Nilanto kepada Maritim Indonesia di sela acara ‘Marine and Fisheries Business and Investment Forum’, di Gedung Mina Bahari III KKP, Selasa (11/10).

Seperti diketahui, sejak tanggal 1 Oktober 2016 sebannyak 401 kapal tuna long line yang tergabung dalam Asosiasi Tuna Long Line (ATLI) melakukan aksi mogok tidak melaut. Mereka menolak Permen 57 Tahun 2014 tentang Alih Muatan di Tengah Laut yang dirasakan mempersempit ruang gerak pelaku usaha kapal perikanan.

Sepuluh hari kemudian, tepatnya pada 10 Oktober 2016 giliran sejumlah nelayan di pantura Jawa, Bitung dan Jakarta melakukan hal yang sama. Di Jakarta, tepatnya di PPS Nizam Zachman, Muara Baru, bahkan sejumlah Unit Pengolahan Ikan (UPI) juga tutup operasional. Pemilik UPI menolak kenaikan sewa lahan di Muara Baru, sementara bagi nelayan Pantura menolak larangan penggunaan alat tangkap cantrang.

Dikabarkan, dengan adanya mogok massal ini membuat hasil tangkapan tuna menurun drastis hingga 50 persen. Dikhawatirkan hal ini akan berdampak sosial yakni terjadinya pengangguran skala besar yang ujungnya meningkatanya kemiskinan nelayan.

Namun Nilanto berharap semua pelaku usaha perikanan kembali melakukan aktivitas seperti biasa lagi. “Kalau ada masalah sebaiknya dilakukan komunikasi sehingga ada solusi yanng bisa dicapai,” pinta Nilanto. [nss]

220 total views, 2 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *