Perikanan Budidaya Jadi Solusi Pemenuhan Sumber Pangan Dunia

Dirjen Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebijakto mengundang para investor dari dalam dan luar negeri untuk dapat melakukan investasi perikanan budidaya di Indonesia, terutama di pulau pulau kecil terluar Indonesia yang potensial untuk budidaya laut.

MARINDO—Perikanan budidaya menjadi salah satu sektor industri penting. Pasalnya, ikan akan terus menjadi salah satu komoditas pangan yang paling diperdagangkan di seluruh dunia, terutama bagi negara-negara berkembang. Di sisi lain, sektor budidaya juga menyediakan lapangan pekerjaan dan kehidupan bagi puluhan juta bahkan ratusan juta jiwa lainnya.

“Wajar jika pemerintah dan pengusaha memberikan perhatian lebih pada pengembangan perikanan budidaya. Karena diketahui bahwa populasi penduduk global diperkirakan akan tumbuh sebanyak sembilan miliar orang hingga tahun 2050, yang merupakan tantangan besar dalam pemenuhan sumber pangan dunia,” ujar Dirjen Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebijakto saat memberikan sambutan pada International Conference of Aquaculture Indonesia 2016 (ICAI 2016), di Kuta, Bali, Jumat (28/10).

Menurut Slamet, tantangan pembangunan saat ini adalah terdapat lebih dari 800 juta orang mengalami gizi buruk (malnutrisi), yang memerlukan sumber protein yang murah namun bergizi tinggi. Hal ini hanya bisa ditemukan pada ikan.

Berdasarkan data FAO 2016, pada 2014 Indonesia mampu menjadi negara kedua terbesar untuk produksi perikanan dunia setelah China, dengan produksi perikanan mencapai 14,3 juta (dengan total senilai US$ 10.50 milyar). Sementara China mencapai 58,8 juta dan di urutan ketiga ada India yang produksinya mencapai 4,9 juta (termasuk rumput laut).

Lebih jauh Slamet mengungkapkan, jumlah pembudidaya ikan di Indonesia juga meningkat dari 2,50 juta orang pada tahun 2005 hingga 3,34 juta orang pada tahun 2014. Budidaya rumput laut di Indonesia merupakan penyumbang terbesar pertumbuhan produksi rumput laut di dunia, dengan jumlah produksi meningkat lebih dari 10 kali pada tahun 2014, dibandingkan pada tahun 2005.

Pusat bisnis dunia

Slamet yakin bahwa Indonesia akan menjadi salah satu pusat bisnis perikanan budidaya di dunia, Pasalnya, potensi sumber daya alam untuk perikanan budidaya sangat besar. Saat ini yang telah dimanfaatkan baru sebesar 2,7% dari jumlah total 12,1 juta hektar.

Kedepan, kata Slamet, dalam rangka mendukung program ketahanan pangan, pemerintah akan meningkatkan produksi budidaya, melalui pengembangan budidaya laut lepas pantai (off-shore), revitalisasi tambak, budidaya lele sistem bioflok, budidaya rumput laut, kekerangan, minapadi, pembangunan pabrik pakan dan pengembangan industri pakan ikan berbahan baku lokal, pengembangan budidaya di pulau terdepan, serta pengembangan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) di wilayah Indonesia.

Dirjen PB Slamet Soebijakto
Dirjen PB Slamet Soebijakto

Namun Slamet menyadari saat ini masih terdapat banyak tantangan yang harus dihadapi dalam pengembangan akuakultur. Beberapa isu penting yang diidentifikasi sebagai prioritas yaitu, perbaikan genetik dan konservasi, peningkatan kesehatan ikan dan biosekuriti, pengembangan bio-technology budidaya untuk menekan biaya produksi.

Selain itu, ada pengurangan dampak lingkungan dari industri budidaya intensif, peningkatan produksi perairan umum melalui Culture-Based Fisheries (CBF), peningkatan pendapatan pembudidaya ikan melalui perbaikan pakan yang murah dan bermutu, serta Pengembangan teknologi budidaya yang adaptif pada perubahan iklim.

Dalam kesempatan itu Slamet juga mengundang para investor dari dalam dan luar negeri untuk dapat melakukan investasi perikanan budidaya di Indonesia, terutama di pulau pulau kecil terluar Indonesia yang potensial untuk budidaya laut.

“Berbagai kemudahan pun akan diberikan oleh pemerintah, diantaranya adalah penyediaan dan penyederhanaan prosedur investasi, percepatan pelayanan, serta keringanan pajak impor pada beberapa komponen input produksi,” katanya.

Terkait pengembangan pakan ikan, Ditjen Perikanan Budidaya mempunyai program pengembangan industri pakan mandiri berbasis bahan baku lokal, yang disebut sebagai Gerakan Pakan Ikan Mandiri (GERPARI),melalui pemberian bantuan sarana dan prasarana produksi pakan, bahan baku pakan, pengembangan pakan alami, dan pengembangan sertifikasi Cara Pembuatan Pakan Ikan yang Baik (CPPIB).

Slamet berharap International Conference of Aquaculture Indonesia 2016 (ICAI 2016) yang ke-enam ini dapat dibahas semua tantangan untuk menemukan cara yang bijak dan terbaik untuk mempromosikan budidaya berkelanjutan di tingkat regional, nasional, dan internasional. Dengan demikian, dapat memperkuat dan mempercepat pembangunan industri perikanan yang berkelanjutan. [nss]

269 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *