Program Kapal Ikan 30 GT : Dari Jakarta Untuk Kedaulatan di Wilayah Perbatasan

Kapal yang sedang dibangun selalu di bawah pengawasan Biro Klasifikasi Indonesia (BKI), sehingga desain dan struktur kapal tidak akan melenceng sesuai desain awal. Dengan demikian, standar keselamatan dan keamanan kapal terjamin.

MARINDO–Beberapa kali kami harus bertanya. Ada gambaran setelah seseorang menunjuk lokasi satu arah dengan alamat Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP). Jika tidak, maka kami harus terus bergumul dengan kemacetan dan salah arah karena hanya mengandalkan catatan alamat saja. Sementara nomor kontak yang dituju tidak bisa dihubungi alias tulalit.

Ya, kami berangkat dari Gambir, Jakarta Pusat, butuh waktu setengah hari untuk mencapai Marunda, Cilincing, Jakarta Utara. Ironis, kemacetan, salah jalan, dan mencari-cari alamat yang dituju adalah faktor kami sulit mencapai tujuan. Padahal jika sebelumnya ada informasi bahwa lokasi berada tidak jauh dari Kanal Banjir Timur (KBT), dipastikan tidak akan berlama-lama di jalanan. Jujur saja, jika tidak disiasati, jalur Tanjung Priok-Cilincing adalah jalur “neraka” bagi pengendara.

Adalah CV. Cisanggarung Putra Mandiri, sebuah galangan kapal yang menjadi tujuan kami. Cisanggarung adalah satu di antara beberapa galangan yang mendapatkan tender pengadaan kapal ikan program Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tahun 2016.

Tidak banyak memang, cuma satu unit saja yang dikerjakan oleh Cisanggarung. Keadaan waktu yang mepet membuat Cisanggarung hanya menyanggupi satu unit dari 8 kapal yang diajukan. Terang saja, kontrak pembangunan kapal dengan KKP baru diteken pada akhir September 2016. Padahal akhir Desember 2016 kapal harus segera sampai kepada calon penerima di Natuna, Kepulauan Riau.

Karena adanya kebijakan penghematan anggaran (APBN) dan kehati-hatian dalam seleksi bagi calon penerima, rencana 30 unit untuk kapal ukuran 30 GT hanya bisa terealisasi 17 unit saja, yang terdiri dari 12 unit untuk kapal penangkap dan 5 unit untuk kapal angkut. Pembangunan tersebut tersebar di seluruh galangan, antara lain di Jakarta, Batam dan Makasar. Dari 17 unit itu, 13 unit di antaranya dikerjakan di galangan kapal PT. Siagan Boats di Makasar, Sulawesi Selatan.

Sebagai catatan, awalnya KKP memang menargetkan 3.450 kapal yang terdiri dari 1.510 unit untuk ukuran 3 GT (Gross Tonage), 1.020 unit kapal 5 GT, 690 unit kapal 10 GT, 200 unit kapal 20 GT dan sebanyak 30 unit untuk kapal berukuran 30 GT. Galangan kapal yang rencana dilibatkan sebanyak 140 pun, hanya 70 galangan yang lolos. Karena pemotongan anggaran tadi, maka kini tinggal 1.719 unit dan sampai saat ini hanya 991 kapal yang sudah ada calon penerima untuk 170 koperasi.

Sebelumnya Direktur Kapal Perikanan dan Alat Penangkapan Ikan KKP Minhadi Noer Sjamsu mengatakan, keterlambatan pembuatan kapal ini karena pemerintah tidak ingin salah sasaran bagi penerima bantuan kapal perikanan. Untuk itu, dalam program pengadaan kapal kali ini, nelayan diberikan pilihan, baik spesifikasi maupun bobot kapal melalui pengajuan proposal.

“Keterlambatan ini disebabkan kehati-hatian dalam memberikan kapal bagi penerima. KKP tak ingin program kapal Inka Mina pada tahun 2004 terulang di mana tidak ada kesesuaian antara pemberi dan penerima. Spek dan bobot kapal tidak diharapkan oleh penerima atau nelayan,” ungkap Minhadi.

Seleksi ketat

Dirut CV. Cisanggarung H. Artiman kepada Maritim Indonesia mengatakan, kapal yang dibangun oleh galangan miliknya akan dialokasikan untut wilayah perairan perbatasan di Natuna, Kepulauan Riau. Artiman optimis kapal yang sedang dibangun ini sudah bisa dikirimkan kepada calon penerima pada awal Desember 2016.

Menurut Artiman, kapal yang sedang dibangun Cisanggarung selalu di bawah pengawasan Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) sehingga desain dan struktur kapal tidak akan melenceng sesuai desain awal. Dengan demikian, standar keselamatan dan keamanan kapal terjamin.

Saat Maritim Indonesia meninjau di galangan tersebut, pihak BKI pun tengah mengawasi pembuatan kapal yang memakan biaya Rp 1,2 milyar itu. Kapal dengan kecepatan 8 knot ini, rencananya akan mengoperasikan alat tangkap gillnet.

Artiman juga mengakui program pembuatan kapal yang dilakukan KKP sangat ketat, khususnya bagi galangan yang akan menerima tender proyek pengerjaan.”Tidak hanya buat galangan, saya dengar untuk calon penerima pun seleksinya sangat ketat,” ujar Artiman.

Galangan kapal Kairos harus melemburkan karyawannya untuk mengejar target.
Galangan kapal Kairos harus melemburkan karyawannya untuk mengejar target.

Lolosnya Cisanggarung memenangkan tender lantaran galangan kapal yang berada di Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, ini memang sudah berpengalaman dalam pembuatan kapal. Perusahaan yang telah berdiri sejak tahun 1997 ini, sudah memproduksi ratusan kapal yang dipakai di dalam negeri maupun di luar negeri.

Direktur Marketing Cisanggarung Jogi Hutasuhut menambahkan, galangan kapal yang persis berada di bantaran Kali Blencong, Marunda, itu khusus untuk produk pembuatan kapal laut bahan fibre glass dan aluminium. Antara lain untuk kapal penumpang, kapal ikan, kapal patroli, kapal semi selam, puskesmas terapung, kapal penyelamat, kappal tongkang/tug boat, kapal pemadam kebakaran dan lainnya.

“Produk kami sudah teruji kualitasnya dengan memperhatikan peraturan konstruksi kapal yang berlaku secara nasional dan internasional. Kami juga melakukan service kapal,” ujar Jogi seraya menunjuk area galangan kapal seluas 5000 m2. Di sana juga dilengkapi hanggar 800 m2, gudang material tertutup 75 m2, dan untuk peluncuran kapal (slip way) 40 × 10 m2.

Kerja lembur

Selain di Cilincing, kami juga mengunjungi galangan kapal lainnya. Kali ini PT. Kairos Anugerah Marina. Galangan yang beralamat di Kelurahan Kalibaru, Pakuhaji, Tangerang, Banten, ini mengerjakan 3 unit kapal berbobot 20 GT. Rencananya kapal-kapal tersebut akan dikirim kepada calon penerima di Kepulauan Aru dan di Nusa Tenggara Timur.

Seperti halnya Cisanggarung, teken kontrak antara KKP dengan Kairos pun terlalu mepet, tepatnya pada 26 September 2016. Dari beberapa kuota dan pengajuan kapal, hanya 3 kapal yang disanggupi lantaran waktu yang tidak memungkinkan untuk dikerjakan. Bahkan untuk mengejar target hingga Desember kapal sudah harus sampai di calon penerima, Kairos harus melemburkan karyawan hingga jam sepuluh malam.

Saat Maritim Indonesia mengunjungi galangan kapal yang berada di bantaran Sungai Cisadane itu, hari telah memasuki malam. Tapi para pekerja masih bergumul dengan mat-ropping, galling, dan resin, yakni bahan-bahan pembuatan untuk kapal fibre glass.

“Kami terpaksa harus melemburkan karyawan untuk mengejar target hingga awal Desember. Dan kalau tidak ada aral melintang, pada 20 Desember kapal sudah sampai di penerima di NTT dan di Kepulauan Aru,” ujar Muali, Kepala Bagian Teknisi Galangan Kairos. Ada 40 orang karyawan Kairos yang dilibatkan dalam pengerjaan kapal ini.

Menurut Muali, tidak ada hambatan bagi Kairos dalam melakukan pembangunan kapal jika waktu yang diberikan tidak terburu-buru. Apalagi jika sudah ada cetakan tersedia, pengerjaan kapal pastinya akan sangat cepat.

Tapi Muali memahami, di awal-awal program, KKP memang harus berhati-hati sehingga proyek besar ini bisa dilakukan dengan baik. Untuk tahun depan, katanya, jika galangannya masih memenangkan proyek, pihaknya sanggup mengerjakan berapa unit pun, dengan catatan waktu di awal tahun.

Berdasarkan pantauan Maritim Indonesia di lapangan, sebenarnya tidak ada perbedaan yang signifikan antara kapal ikan 30 GT dengan 20 GT, baik spek maupun jenis. Yang membedakan hanya pada ukuran lebar dan palka. Demikian dengan anggaran, untuk biaya per unit, kapal 20 GT yang dikerjakan Kairos membutuhkan anggaran sebesar Rp 1,007 milyar (Rp 1.007.000.000). Sementara untuk kapal 30 GT pada kisaran angka Rp 1,2 milyar (Rp 1.200.000.000).[nss]

736 total views, 2 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *