KKP Akan Kembangkan Budidaya Ikan di Lepas Pantai

Usaha budidaya off-shore (lepas pantai) merupakan satu jurus KKP untuk mencapai target peningkatan produksi perikanan budidaya pada 2017 sebesar 22,46 juta ton.

MARINDO–Julukan raksasa sedang tidur (sleeping giant) bagi perikanan budidaya, khususnya budidaya laut, memang bukan isapan jempol. Di sub sektor ini Indonesia memiliki potensi 4,5 juta hektar, tetapi baru dimanfaatkan hanya 2 persenan.

Salah satu potensi perikanan budidaya laut yang belum dikembangkan adalah potensi di lepas pantai (off-shore). Selain tuna, di wilayah perairan tersebut ada potensi perikanan yang memiliki nilai ekonomi tinggi, antara lain ikan bawal bintang, kakap putih dan kerapu.

Dirjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan Slamet Soebijakto mengatakan, untuk mengoptimalkan perikanan off-shore, Ditjen Perikanan Budidaya pada tahun 2017 akan melakukan pengembangan usaha budidaya di sana. Usaha ini akan dipadukan dengan program Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) di 15 pulau terluar.

“Akan ada tiga wilayah perairan yang akan dikembangkan untuk budidaya perikanan offshore yaitu di Sabang, Karimun Jawa dan di selatan Jawa antara Cilacap dan Pangandaran,” kata Slamet Soebijakto kepada wartawan, Selasa (1/11).

Menurut Slamet, teknologi untuk usaha budidaya off-shore akan dikerjasamakan dengan Norwegia yang telah sukses mengembangkan budidaya ikan salmon. Untuk tahap awal akan dilakukan pada 6 lobang dengan diameter 60 meter.

Menurut Slamet, dengan areal tersebut diprediksi untuk satu areal memiliki kapasitas produksi mencapai 668 ton per siklus dengan jenis ikan kakap putih. Atau mencapai 1500 ton per siklus untuk tiga areal.

“Untuk merealisasikan proyek ini kami akan kerja sama dengan BUMN Perikanan, apakah itu Perinus atau Perindo. Ini sedang kami godok bagaimanan nanti pelaksanaannya,” ujar Slamet.

Disebutkan, usaha budidaya off-shore merupakan satu jurus KKP untuk mencapai target peningkatan produksi perikanan budidaya pada 2017 sebesar 22,46 juta ton. Pada tahun 2015 produksi perikanan budidaya mencapai 15,7 juta ton. Sementara pada 2016 hingga semester I sudah mencapai 7 juta ton. Ditaksir hingg Desember 2016 bisa mencapai 16 juta ton.

Asuransi budidaya

Pada kesempatan yang sama Dirjen Slamet juga menyatakan akan mengasuransikan para pembudidaya ikan bagi skala kecil atau pembudidaya ikan dan udang yang memiliki lahan di bawah satu hektar.

Program ini merupakan tindak lanjut dari Undang-Undang No. 7 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudi Daya Ikan dan Petambak Garam. Program asuransi ini telah dilakukan oleh Ditjen Perikanan Tangkap dengan mengasuransikan 1 juta nelayan dengan nilai klaim pertanggungan hingga Rp 200 juta. Untuk program ini Ditjen Perikanan Tangkap menggandeng asuransi Jasindo.

Untuk program asuransi pembudidaya, kata Slamet, berbeda dengan asuransi yang diberikan pada nelayan. Jika pada nelayan adalah asuransi jiwa, untuk pembudidaya adalah usahanya yang diasuransikan. “Kita mengasuransikan usahanya bukan bukan asuransi jiwa,” tambahnya.

Dijelaskan, sering terjadinya permasalahan pada usaha budidaya seperti bencana banjir atau kekeringan dan serangan virus atau penyakit ikan, yang membuat meruginya para pembudidaya, menjadi pertimbangan bagi pemerintah untuk mengasuransikan usaha pembudidaya ikan.

Untuk tahap awal, lanjut Slamet, KKP akan mengalokasikan dana untuk 1.000 hektar lahan budidaya. Mulai bulan Nopember hingga akhir tahun 2016 akan dilakukan inventarisasi dan identifikasi siapa saja yang berhak menerima asuransi tersebut. Kerjasama dengan Pemda tentunya akan dilakukan.

“Untuk program ini pun kami belum menentukan siapa dan asuransi apa yang akan kami gandeng. Tapi soal premi sudah ada ancer-ancer sekitar Rp 1,5 juta per hektar per tahun,” jelas Slamet. [nss]

238 total views, 3 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *