Menko Luhut Sebut Laut Sudah Tercemar Limbah Plastik

Diperkirakan 20 persen dari terumbu karang telah rusak secara permanen dan sekitar 24 persen terumbu karang berada dalam resiko kepunahan.

MARINDO–Laut yang sehat memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Sebabnya, 50 sampai 70 persen udara yang dihirup manusia berasal dari lautan. Di sisi lain, laut juga memegang peranan penting ekonomi masa depan.

Namun bagaimana jika kondisi laut yang tercemar oleh plastik. Terang saja, saat ini laut sudah tercemar aktivitas manusia dengan membuat limbah plastik laut. Ditaksir sekitar 80 persen sampah plastik di laut berasal dari daratan. Sampah tersebut telah merusak rantai makanan biota laut, yang dalam jangka panjang bisa berpengaruh terhadap kesehatan manusia.

“Selain pemanasan global, pencemaran laut juga bisa mengancam keanekaragaman hayati. Diperkirakan 20 persen dari terumbu karang telah rusak secara permanen dan sekitar 24 persen terumbu karang berada dalam resiko kepunahan,” kata Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Pandjaitan saat membuka Konferensi Serpihan Plastik Laut Indonesia di Jakarta, Selasa (2/11).

Menurut Luhut, polusi mengurangi kemampuan laut untuk mendukung kehidupan manusia. Karena itu, sebagai salah satu negara kepulauan terbesar, Indonesia harus memiliki kemampuan untuk menjaga laut dan penjagaan kelestarian laut ini harus dilakukan dengan serius.

“Sampah plastik (di laut) itu dimakan ikan, ikannya dimakan manusia, dan menurut sains, dalam jangka waktu lama hal itu bisa mengubah DNA manusia,” tandasnya.

Ubah jadi energi

Menko Luhut mengajak masyarakat Indonesia untuk bersama-sama melindungi laut dari sampah. Salah satu alternatif solusi untuk menangani masalah ini adalah dengan mengkonversi sampah menjadi sumber energi.

Indonesia saat ini sedang giat melakukan pengelolaan sampah menjadi sumber energi listrik sebagai salah satu solusi untuk mengatasi masalah sampah.

Menurut Luhut, salah satu mesin insulator, yang merupakan sumbangan Dubes Denmark, ada di Semarang berkapasitas 1,3 MW. Selanjutnya menyusul di Solo berkapasitas 7,5 MW dan akan menyusul di tujuh kota lain seperti yang sudah diputuskan pada rapat kabinet. Tujuh kota tersebut termasuk, antara lain, Jakarta dan Surabaya.

“Negara-negara Eropa menyatakan siap berinvestasi di bidang ini. Pemerintah akan memberikan insentif, di mana listrik dari sampah akan dihargai 13-16 sen per Kwh, lebih tinggi dari listrik batubara yang sembilan sen per Kwh,” kata Menko Luhut kepada wartawan.

Ia menambahkan bahwa keberadaan mesin-mesin insulator tersebut terbukti telah mambantu pemerintah setempat menyelesaikan masalah sampahnya. Di Solo, misalnya, setiap harinya sekitar 1.000 ton sampah diproses oleh alat tersebut. Listrik yang dihasilkan diharapkan dapat turut membantu PLN dalam memenuhi kebutuhan listrik di Indonesia. [nss]

3,554 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *