Kejar Target Produksi 2017, DJPB Optimalkan Keramba Jaring Apung

DJPB KKP akan mengalokasikan anggaran sebesar Rp 12,5 milyar pada tahun 2017 untuk mengoptimalkan KJA yang mangkrak.

MARINDO–Untuk mengejar target produksi perikanan budidaya pada tahun 2017 sebesar 22,46 juta ton, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) KKP akan merevitalisasi keramba jaring apung (KJA) yang mangkrak, yang diperkirakan mencapai 15.582 lubang KJA yang tersebar di seluruh Indonesia.

Dirjen Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebijakto kepada wartawan mengatakan, KJA yang selama ini mangkrak akan dioptimalkan dengan cara dikerjasamakan dengan beberapa asosiasi dan BUMN. Salah satu asosiasi yang digandeng DJPB adalah Himpunan Pembudidaya Perikanan Laut Indonesia (Hipilindo).

Sebagai catatan, sebelumnya DJPB memiliki 7.316 lubang KJA. Selanjutnya DJPB juga mendapat bantuan KJA dari beberapa instansi seperti Kementerian Desa sebanyak 2.764 lubang, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut KKP 586 lubang dan dari Pemda sebesar 4.916 lubang, hingga totalnya mencapai 15.682 lubang. Dari angka tersebut, sebanyak 1.000 lubang di antaranya akan dioptimalkan untuk mendukung target pencapaian pproduksi dari sub sektor perikanan budidaya.

Menurut Slamet, untuk merealisasikan program tersebut Ditjen PB akan mengalokasikan anggaran sebesar Rp 12,5 milyar. Diprediksi, untuk satu lubang bisa menghasilkan 300 ton tiap satu kali panen. “Kita alokasikan anggaran untuk 1.000 lubang dan sisanya akan kami kerjasamakaan dengan pihak lain,” ujar Slamet Soebijakto pada wartawan, Senin (7/11).

Namun meskipun pemerintah siap merevitalisasi KJA, partisipasi dari pelaku usaha memang sangat diharapkan, khususnya dari asosiasi yang menanungi para pembudidaya ikan di KJA. “Makanya kami melakukan MoU dengan berbagai asosiasi dan BUMN. Dengan asosiasi ada Hipilindo dan Hiperindo, sementara dengan BUMN Perikanan ada Perindo,” tambah Slamet.

Ia juga menjelaskan, khusus dengan Perindo akan mengoptimalkan KJA di lepas pantai. Ada tiga wilayah yang akan dioptimalkan untuk KJA di lepas pantai antara lain di Sabang, Karimun Jawa dan di selatan Jawa antara Cilacap dan Pangandaran. Selain kerapu, ada juga bawal bintang untuk komoditas KJA di lepas pantai.

Ketua Umum Hipilindo Effendy mengatakan, pihaknya siap menyukseskan program DJPB untuk mengoptimakan KJA yang kurang produktif. Hipilindo yang beranggotakan 600 orang yang tersebar di seluruh Indonesia akan mengelola sedikitnya 15.000 lubang yang ada yang masih mangkrak. Di sana nantinya, tidak saja akan ditebari ikan kerapu macan dan kerapu bebek, tetapi ikan laut lainnya yang potensial seperti bawal bintang, kakap putih bahkan hingga ikan nila salin.

Menurut Effendy, keikutsertaan Hipilindo terhadap program ini karena didorong oleh besarnya potensi perikanan budidaya laut, tetapi di sisi lain belum dioptimalkan dengan baik. Potensi pasar budidaya perikanan laut, katanya, sangat terbuka. Tidak saja untuk pasar lokal, tetapi juga untuk ekspor. Di dalam negeri, gerakan pemerintah soal Gemar Makan Ikan sebagai upaya dalam peningkatan konsumsi ikan per kapita sebesar 48 kilogram per tahun, pun akan tercapai.

“Kalau dua puluh persen saja dari penduduk Indonesia yang 250 juta jiwa bisa digeser ketergantngan konsumsi mereka dari daging sapi ke makan ikan, maka berapa produksi yang harus dihasilkan dari usaha budidaya perikanan laut ini. Untuk itu, PR kita adalah bagaimana menggeser ketergantungan kita akan impor sapi dari Australia dengan mengonsumsi ikan hasil buddaya kita,” terang Effendy.

Peningkatan produk perikanan budidaya dari pemanfaatan beberapa KJA yang kurang produktif di berbagai daerah, lanjutnya, akan coba dilakukan oleh Hipilindo. “Jadi kami tegaskan sekali lagi, kami siap melaksanakan program KJA yang kurang produktif untuk dioptimalkan sesuai yang diharapkan KKP,” tantang Effendy.

Ia juga menambahkan, tidak ada kendala serius untuk mengoptimalkan KJA perikanan laut, karena tidak membutuhkan teknologi tinggi. Bahkan beberapa anggotanya di Medan, Sumut, telah berhasil panen perdana ikan kerapu. Di Brebes, anggota Hipilindo juga telah berhasil mengembangkan kepiting yang bisa dimanfaatkan untuk KJA.

“Di Brebes pemijahaan kepiting sudah berhasil. Dalam waktu dekat, kami akan mengadakan rapat kerja di Brebes untuk membahas tindak lanjut ini. Selain kepiting, kami juga sedang mengembangkan lobster untuk KJA,” jelasnya. [nss]

238 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *