Kemenhub Bangun ‘Rumah Kita’ Guna Efektifkan Tol Laut

Program ‘Rumah Kita’ yang dibangun untuk menyukseskan program Tol Laut ini, efektifnya akan dilakukan pada 2017. Rencananya ada lima titik Rumah Kita yang digagas oleh Kementerian Perhubungan.

MARINDO–Program Tol Laut yang digagas Presiden Jokowi memang bukan tugas Kementerian Perhubungan semata, tetapi tugas berbagai sektor sehingga terciptanya angkutan laut efektif, yang secara rutin dan terjadwal. Namun sejak Tol Laut diluncurkan oleh Kementerian Perhubungan di 5 trayek, program untuk mengurangi disparitas harga di wilayah barat dan timur ini dirasakan belum optimal.

Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut Ditjen Perhubungan Laut, Kemenhub, Bay M. Hasani kepada wartawan mengatakan, ada indikasi yang diuntungkan dari program Tol Laut melalui pemberian subsidi bagi kapal yang melakukan trayek Tol Laut itu adalah para pedagang. Sementara harga barang kebutuhan pokok di wilayah yang menjadi tujuan trayek To Laut masih terdapat disparitas harga yang masih tinggi.

“Pemerintah memang harus hadir ketika adanya disparitas harga yang tinggi. Namun jika subsidi untuk Tol Laut akhirnya jadi tidak tepat sasaran, jika para pedagang yang menikmati dan diuntungkan dari program ini, maka harus terus kita evaluasi” ujar Bay M. Hasani kepada wartawan, Kamis (17/11).

Untuk itulah, menurut Bay, untuk mengefektifkan Tol Laut Kemenhub akan membangun program ‘Rumah Kita’ dengan menggandeng para BUMN yang bergerak lintas sektor. Misalnya dengan Perinus (Perikanan Nusantara), Perindo (Perikanan Indonesa), Pelindo dan BUMN-BUMN lainnya.

Untuk pergudangan dan menampung hsil perikanan, misalnya, maka Kemenhub harus melibatkan BUMN Perikanan seperti Perinus atau Perindo. Terang saja, di wilayah timur merupakan berlimpah hasil kelautan dan perikanan, baik berupa ikan maupun rumput laut. Sayang terkadang karena sistem distribusi logistik yang tidak efektif, hasil laut itu tidak terdistribusikan ke wiayah lainnya.

“Pergudangan kita akan melibatkan pergudangan dan perikanan yang dibawa dari sana. Jadi ketika kapal bawa barang ke sana, nanti baliknya ke sini kapal juga bawa barang hasil produksi di sana. Inilah yang akan kita kembangkan melalui Rumah Kita ini,” terang Bay Hasani.

Menurut Bay Hasani, ‘Rumah Kita’ dibangun supaya Tol Laut berjalan dengan baik. Diharapkan dengan program ‘Rumah Kita’ masyarakat dapat langsung menikmati subsidi dari program Tol Laut oleh pemerintah yang dialokasikan untuk operasional angkutan kapal. Artinya, kebutuhan bahan pokok yang ada di pulau terluar, terdepan dan terpencil tidak jomplang dengan harga yang ada di pusat kota karena tertopang dengan sistem angkutan yang murah.

Program ‘Rumah Kita’ yang dibangun untuk menyukseskan program Tol Laut ini, efektifnya akan dilakukan pada 2017. Rencananya ada lima titik Rumah Kita yang digagas oleh Kementerian Perhubungan. Ialah titik pertama di Natuna, di mana sebagai Koordinator (PIC) adalah PT Pelindo II dengan didukung oleh PT. RNI, PT. Perinus, dan PT Pelni.

Titik kedua berlokasi di Timika dengan koordinator PT. Pelni dan didukung PT Pelindo III dan PT Perinus. Titik lokasi ketiga di Tahuna yang dikoordinir oleh PT. Pelindo II dengan pendukung PT Pelni, PT RNI, dan PT Perinus.

Titi keempat berlokasi di Manokwari/Merauke yang dikoordinir oleh PT. ASDP dengan dukungan PT. Pelindo III dan PT. Perindo. Dan titik kelima berlokasi di Larantuka/Rote/ Morotai dengan koordinir PT. Pelindo III dengan dukungan PT. Perindo dan PT. PPI. Dari kelima titik tersebut, kata Bay Hasani, baru titik pertama yang sudah final dilakukan servei, sementara untuk titik-titik lainnya masih dalam tahapan survei.

“Saya optimis dengan melibatkan semua BUMN program Tol Laut akan berjalan dengan baik. Misalnya, jika kapal mau angkut ikan dari timur, maka untuk menampung sementara itu kan butuh cold storage atau pendingin. Nah, kerjasaam dengan PT. Perindo bisa dilakukan. Demikian dengan BUMN-BUMN lainnya bisa kita kerjasamakan seperti itu,” katanya.

5 trayek baru

Seperti diketahui, Tol Laut yang digagas Kemenhub sudah memasuki satu tahun. Tidak adanya barang yang diangkut dari lokasi tujuan trayek Tol Laut masih menjadi kendala, membuat pemerintah harus terus mensubsidi Tol Laut. Padahal latar belakang Tol Laut sendiri disebabkan adanya disparitas harga yang cukup tinggi antara wilayah barat dan timur.

Kapal Tol Laut sedang mengangkut barang
Kapal Tol Laut sedang mengangkut barang

Pertumbuhan ekonomi yang terpusat di Pulau Jawa mengakibatkan transportasi laut di Indonesia tidak efisien dan mahal karena tidak adanya muatan balik dari wilayah-wilayah yang pertumbuhan ekonominya rendah, khususnya di kawasan timur Indonesia.

“Tujuan dari Tol Laut kan kita ingin menjamin ketersediaan barang dan untuk mengurangi disparitas harga bagi masyarakat. Kita juga ingin menjamin kelangsungan pelayanan penyelenggaraan angkutan barang ke daerah tetinggal, terpencil, terluar dan perbatasan,” ujar Bay Hasani.

Trayek Tol Laut pertama kali diluncurkan pada 4 Nopember 2015 oleh Menteri Perhubungan dan Menteri Perdagangan. Pada tahun 2015, trayek Tol Laut hanya melayani 3 trayek dari rencana 6 trayek yang akan dilayani. Sementara pada bulan Mei 2016, Tol Laut telah beroperasi sebanyak 6 trayek dengan menggunakan 3 unit kapal milik PT. Pelni dan 3 unit kapal sewa.

Pada tahun 2017, lanjut Bay Hasani, guna meningkatkan pelayanan distribusi barang di laut ke daerah-daerah tertinggal, terpencil dan perbatasan, maka direncanakan akan dilakukan penambahan trayek To Laut sebanyak 5 trayek, yakni Trayek 7, 8, 9, 10 dan 11 (T-7, T-8, T-9, T-10, dan T-11).

Kelima rute tambahan itu adalah, Trayek 7 dengan rute : Tanjung Priok – Enggano – Mentawai – Pulau Nias – Sinabang – Pulau Nias – Mentawai – Enggano – Tanjung Priok. Trayek 8 rute : Tanjung Perak – Belang Belang – Sangatta – Nunukan – Sangatta – Belang Belang – Tanjung Perak. Trayek 9 rute : Tanjung Perak – Kisar – Namrole – Gebe – Maba – Gebe – Namrole – Kisar – Tanjung Perak.

“Untuk trayek 10 dan 11 itu crossing dengan trayek 1 dan 2. Karena setiap 28 hari sekali baru ada kapal di trayek itu. Dengan penambahan ini jadi 14 hari sudah ada kapal, jadi lebih efisien,” jelas Bay.

Untuk trayek 1 meliputi Tanjung Perak-Wanci-Namlea-Fak Fak Kaimana-Timika-Kaimana-Fak Fak-Namlea-Wanci-Tanjung Perak. Sedangkan trayek 2 meliputi Tanjung Perak-Kalabahi-Moa-Saumlaki-Dobo-Saumlaki-Moa-Kalabahi-Tanjung Perak. [nss]

626 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *