Indonesia Minim Peneliti Kelautan dan Perikanan

Dari 537 orang peneliti Balitbang Kelautan dan Perikanan, hanya 62 orang yang mencapai Peneliti Utama dan hanya 15 orang Profesor Riset yang masih aktif, serta 8 orang Profesor Riset yang sudah pensiun.

MARINDO–Indonesia memiliki sumberdaya perikanan yang berlimpah, baik perikanan tangakap maupun budidaya. Sayang potensi itu belum dimanfaatkan secara optimal karena berbagai kendala, satu di antaranya minimnya para peneliti di sektor perikanan, khususnya peneliti setingkat profesor riset.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan KKP Zulficar Mochtar mengatakan, negara yang memiliki potesi perikanan yang berlimpah seperti Indonesia idealnya memiliki satu professor riset minimal untuk 100 ribu sampai 1 juta orang. Namun saat ini ketersediaan professor riset Indonesia saat ini masih jauh dari harapan.

“Kita baru punya professor riset yang ada 15 orang yang aktif dan tiga ini yang baru dilantik. Insya Allah, tahun depan, ada dua lagi (professor riset),” ujar Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya kelautan dan Perikanan KKP Zulficar Mochtar usai menghadiri pengukuhan tiga profesor riset dari Balitbang KP, di kantor KKP, Jakarta, Selasa (22/11).

Para professor riset yang dikukuhkan itu ialah Prof. Ris. Dr. Ir. Agus Heri Purnomo, M. Sc., Prof. Ris. Dr. Ir. Agus Djoko Utomo, M.Si., dan Prof. Ris. Dr. Dr. Ir. Ekowati Chasanah, MSc.

Menurut Zulficar, peneliti di Indonesia memang cukup banyak, tetapi sedikit sekali untuk bidang kelautan dan perikanan. Saat ini Indonesia memiliki 238 perguruan tinggi yang mengembangkan perikanan dan 103 yang mengembangkan kelautan. Indoesia juga memiliki berbagai badan riset, seperti LIPI, Balitbang, dan di kementerian lain, Hal ini, menurut Zulficar, perlu dikonsolidasikan untuk pengembangan basis penelitian di sektor kelautan dan perikanan.

“Untuk fokus penelitian mengenai kelautan masuk ke berbagai area, termasuk budidaya, biofarmakologi, obat-obatan. Ini potensi yang harus dikembangkan. Berbagai potensi dan sumber daya bisa didorong untuk pengembang, Jangan hanya konvensional ikan saja, tetapi banyak yang selama ini belum dikembangkan,” katanya.

Pada tahun 2017, lanjutnya, KKP akan menargetkan 10 fokus riset utama, yakni untuk penanganan sustainable fisheries (keberlanjutan perikanan), climate change, aquaculture, pengembangan bisnis usaha kelautan perikanan, mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, pembangunan jejaring kawasan konservasi laut dan beberapa fokus lainnya.

“Pada pengukuhan professor riset kali ini memang sudah menjawab berbagai fokus. Untuk Prof Agus Djoko utomo misalnya meneliti bagaimana pengamanan ekonomi kelautan, optimasi pengelolaan suaka perikanan di rawa banjiran. Begitu pula bioprospeksi enzim mikroba laut sebagai landasan pengembangan bioindustri di Indonesia dikembangkan oleh Prof. Ekowati Chasanah, dan model pengelolaan adaptof terpandu sumber daya hayati laut nonkonvensional oleh Prof Agus heri Purnomo,” terang Zulficar.

Dalam sambutan pengukuhan tiga professor tersebut, Zulficar berharap riset ekonomi sumberdaya alam dan lingkungan, riset perikanan tangkap, serta riset pengolahan hasil perikanan dapat mengembangkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di masa datang.

“Saya harap riset-riset ini dapat mendukung program konservasi sumber daya ikan, industrialisasi perikanan, dan banyak aspek terkait pengelolaan perikanan dan kelautan, sehingga dapat mempercepat tercapainya visi dan misi pemerintah,” ujar Zulficar

Zulficar juga berharap pengukuhan profesor ini dapat memotivasi semua pejabat fungsional peneliti agar lebih produktif lagi. “Semoga karya-karya nyata dapat lebih banyak dihasilkan demi kebermanfaatan untuk bangsa dan negara,” tambahnya.

Profesor Riset adalah sebuah pencapaian puncak Karir Fungsional seorang peneliti. Dari 537 orang peneliti Balitbang KP, hanya 62 orang yang mencapai Peneliti Utama dan hanya 15 orang Profesor Riset yang masih aktif serta 8 orang Profesor Riset yang sudah pensiun. [NSS]

1,854 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *