Sungkono Ali Kembali Pimpin Dewan Pelabuhan Tanjung Priok

Ke depan menyusul  lahirnya  Dewan Pelabuhan di sejumlah daerah, maka nantinya akan lahir  Dewan Pelabuhan yang sifatnya nasional  dengan nama yang  telah disebut-sebut seperti Dewan Pelabuhan  Indonesia atau Dewan Pelabuhan Nasional.  

MARINDO— Dr. Sungkono Ali,  kembali  terpilih menjadi Ketua  Dewan Pelabuhan Tanjung  Priok  untuk periode masa bakti  2016 – 2020. Ia terpilih melalui aklamasi pada  penghujung  Rapau Umum Anggota (RUA) ke-3 hari ini  (23/11)  di Hotel Grand Whiz Kelapa Gading Jakarta  Utara. Sebelumnya, ia memimpin  organisasi itu periode 2012 – 2016.

RUA ke-3 Dewan Pelabuhan Tanjung Priok kali ini  juga diisi dengan Seminar Nasional Kepelabuhanan yang mengahdirkan  Kemenko Maritim  yang diwakili Deputi  Bidang Sumber Daya Alam dan Jasa, Agung Kuswandono, sebagai keynote speaker sekaligus membuka  acara, dan sejumlah pembicara praktisi antara lain Direktur Pengembangan Usaha IPC (Pelindo II) Saptono RI dan juga perwakilan dari Dinas Perhubungan DKI Jakarta.

Dalam kesempatan itu juga,  dideklarasikan berdirinya Dewan Pelabuhan di sejumlah daerah, antara lain, di  Pelabuhan  Panjang, pelabuhan Banjarmasin, Makassar, Cirebon, Belawan, Sampit dan Pekanbaru.

Sungkono Ali mengatakan, ke depan menyusul  lahirnya  Dewan Pelabuhan di sejumlah daerah, maka nantinya akan lahir  Dewan Pelabuhan yang sifatnya nasional  dengan nama yang  telah disebut-sebut seperti Dewan Pelabuhan  Indonesia atau Dewan Pelabuhan Nasional.  

“Dewan Pelabuhan ini sifatnya sebagai jembatan komunikasi antara pemerintah, operator pelabuhan dan stakeholder  melalui asosiasi terkait untuk kinerja kepelabuhanan yang lebih baik,” kata Sungkono Ali.

Sementara itu, dalam presentasinya, Agung Kuswandono menggambarkan potensi  Indonesia yang begitu besar sebagai Poros Maritim dunia, namun  belum dikelola dengan maksimal untuk kemakmuran bangsa ini. Soal logistic yang didalamnya terdapat kepelabuhanan sebagai salah satu mata rantainya, Agus Kuswandono menandaskan masih banyak  hal yang perlu dilakukan perubahan agar pelabuhan  dan pelayaran  menciptakan sistem logistic yang efisien, di mana  baiya logistic di Indonesia masih sangat tinggi dibandingkan negara-negara tetangga.

Saptono RI mengatakan, saat ini  terminal peti kemas ekspor impor di Priok termasuk di NPCT-1 maupun JICT dan TPK Koja baru bisa disandari kapal ukuran maksimal 5000 TEUs.

Pada Juni 2017 baru bisa disandari kapal di atas 8000 twenty foot equivalents units (TEUs) setelah kedalaman kolamnya menjadi -18 mLWs dari saat ini -14 mLWs.

“Sudah dilakukan pengerukan di NPCT-1 sejak Agustus tahun ini dan diharapkan pada semester ke dua tahun depan sudah rampung,” jelasnya.  (HBB)

512 total views, 3 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *