Capt. Suhendar Wijaya : Banyak Faktor Pemicu Tragedi Zahro Axpress

Seharusnya, menurut Suhendar,  sebelum melakukan pelayaran awak kamar mesin sudah mengecek terlebih dahulu situasi di kamar mesinnya dan mengontrol indicator-indicator seperti temperature, kecukupan olie maupun aliran air pendingin dengan interval waktu  yang cukup sesuai prosedur pada umumnya. Ada info juga katanya Nakhoda memerintahkan awak kapalnya untuk memadamkan kebakaran di kamar mesin, namun api semakin membesar.

MARINDO—Tragedi  terbakarnya  Zahro Express yang menelan korban puluhan jiwa di Muara Angke 1 Januari 2017 lalu, menyisakan banyak catatan. Setidaknya perhatian bagi semua pihak  terkait bagaimana agar hal itu tak terjadi lagi.

Menanggapi hal itu,  Anggota Tim Ahli Inevstigasi Kebakaran Kapal  Pertamina, Capt. Suhendar Wijaya  saat berbincang dengan Maritim Indonesia mengharapkan pihak KNKT yang telah bekerja  untuk melakukan penyelidikan dapat bekerja professional sehingga hasilnya dapat menjadi catatan perbaikan tata kelola angkutan penumpang laut.

“Dari informasi media electronic maupun media cetak yang saya baca, sumber kebakaran berasal dari kamar mesin dan terdengar ledakan mengawali kebakaran tersebut.
Nah… perlu dipahami ledakan ataupun kebakaran dapat terjadi karena adanya segitiga api (bahan bakar/gas, panas dan udara) yang seimbang, jadi asumsinya bisa saja adanya genangan minyak atau akumulasi gas disekitar sumber panas, sedang sumber panas  bisa juga berasal over heated mesin karena kurang pendinginan  atau terjadi percikan api terbuka sebagai akibat ikatan kepala accu yang tidak kencang (kendor) ataupun kabel accu yang sobek. Adapun banyaknya genangan minyak (bad house keeping)  sebagai akibat terjadinya kebocoran aliran bahan bakar dari tangki bahan bakar, atau terjadi  tetesan minyak dari sambungan-sambungan pipa bahan bakar ataupun kerusakan packing clap mesin sehingga terjadi akumulasi gas.
Penyebab ini dapat dikategorikan adanya bad house keeping atau lack of maintenance,” jelasnya.

Seharusnya, menurut Suhendar,  sebelum melakukan pelayaran awak kamar mesin sudah mengecek terlebih dahulu situasi di kamar mesinnya dan mengontrol indicator-indicator seperti temperature, kecukupan olie maupun aliran air pendingin dengan interval waktu  yang cukup sesuai prosedur pada umumnya. Ada info juga katanya Nakhoda memerintahkan awak kapalnya untuk memadamkan kebakaran di kamar mesin, namun api semakin membesar.
“Saya menduga api semakin membesar di kamar mesin dikarenakan masuknya udara saat membuka pintu atau kap ke kamar mesin, karena kebakaran didalam ruangan cendrung api tidak besar tetapi kesalahan teknik dalam memasuki kamar mesin atau penyemprotan justru memperbesar api sebagai akibat masuknya udara segar dari luar. Yang jelas tim forensik atau Tim investigator harus menemukan dan menelusuri sumber ledakan atau kebakaran dengan fakta-fakta yang ada, hal ini dapat terlihat dari jejak lidah-lidah api dari sekitar sumbernya atau ada bagian mesin atau dinding kamar mesin yang rusak karena ledakan,” ujarnya

Capt. Suhendar Wijaya  menjelaskan secara objektif berdasarkan tugas dan tanggung jawab masing-masing pihak, Dimulai saja dari Nakhoda dan awak kapalnya atau SDMnya. Nakhoda tentu orang yang bertanggung jawab atas keselamatan pelayaran termasuk penumpang, Crew atau ABK maupun kapalnya. Nakhoda seharusnya menunjukan kecakapan pelaut yang baik, dia harus mampu mengendalikan situasi darurat seperti kebakaran, apalagi resiko membawa kapal penumpang.
“Kalau dari sisi regulasi, apakah Nakhoda maupun awak kapalnya sudah memenuhi persyaratan? Sertifikat keahlian (certificate of competency) dan sertifikat ketrampilan (certificate of proficiency)  apa saja yang dia punyai? Saya memperkirakan dengan ukuran dan trayek kapal tersebut setidaknya dia memiliki ijazah ANT V dengan sertifikat ketrampilan seperti Basic Safety Training, Advance Fire Fighting dan special training untuk kapal penumpang/ferry seperti Crisis Management & Human Behavior Training dan  Crowed Management Training begitu juga awak perwira kapal lainnya selain ijazah ANT V.,” ujarnya.

Dikatakan, kalau mereka mengikuti training dengan legal dan belajar “benar” saya yakin mereka paham dan mampu mengendalikan penumpang yang panik dan mengevakuasi semua penumpangnya dengan selamat, namun saya tidak merasa yakin mereka memenuhi persyaratan itu. Perlu diketahui bekerja di kapal penumpang ataupun ferry  perlu mengenakan pakaian seragam, hal ini penting terutama saat situasi crisis agar memudahkan mengendalikan penumpang dan juga membuat penumpang tenang dan tidak panik, karena didampingi awak kapal.
“Saya bisa membayangkan dalam situasi panik orang akan berebutan keluar dari ruang kabin, sementara jalan keluar terbatas dan penumpukan penumpang terjadi dipintu keluar karena mungkin kurang atau tidak ada pengarahan dari awak kapal agar cepat meloncat ke laut, sehingga banyak korban terjadi justru yang tidak bisa keluar dari kabin sehingga mereka banyak menghirup asap ataupun terbakar langsung, jadi jelas kecakapan Nakhoda maupun crewnya tidak sesuai harapan,” tegas Suhendar.

Oleh karena itu peran Syahbandar  harus meyakinkan Nakhoda dan awak kapalnya cakap sesuai persyaratan STCW (Standards of Training, Certification and Wacthkeeping for Seafarers) yang harus dipunyai seperti penjelasan diatas dan terkait SIB laik laut berarti petugas periksa ataupun “Marine Inspector” selayaknya sudah melakukan inspeksi sesuai regulasi yang dipersyaratkan, inspeksi tentunya tidak hanya diatas kertas atau pada dokumen saja tetapi sesekali perlulah pemeriksaan “on the spot” guna meyakinkan kebenarannya serta memantau ketaatan Nakhoda atau pemilik kapal memenuhi persyaratan yang telah ditentukan.
Adapun tanggung jawab Operator kapal atau Owner, meyakinkan Nakhoda dan awak kapalnya cakap diberi tugas mengoperasikan kapalnya, dia juga harus melengkapi persyaratan kapal dan perlengkapannya sesuai regulasi (SOLAS).
Misalnya ketidak tersedia life jacket atau life raft maupun budget untuk perawatan kapal atau pembelian spare part menjadi tanggung jawab Owner. Oleh karena itu sekiranya hasil penyelidikan resmi dari KNKT menyatakan “penyebab tidak langsung” kebakaran Zharo Express ada peran Owner, misalnya karena Owner tidak memenuhi permintaan berulang kali dari Nakhoda untuk perbaikan atau perawatan  mesin sehingga mengakibatkan terjadinya kebakaran, maka dia ikut juga bertanggung jawab. [HBB]

545 total views, 2 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *