Lulusan SUPM dan Politeknik Disiapkan Jadi Wirausahawan Muda

Saat di bangku sekolah harus dilatih bisnis dan berwirausaha. BPSDMP KP juga akan mencarikan dana talangan (bridging fund) sebagai percobaan usaha mereka.

MARINDO–Lulusan Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM) dan Politeknik Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan dididik dan dilatih menjadi wirausahawan muda di bidang kelautan dan perikanan. Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Pemberdayaan Masyarskat Kelautan dan Perikanan (BPSDMP KP) tengah menyesuaikan kurikulum yang ada untuk lebih ditingkatkan kapasitasnya.

Kepala Pusat BPSDMP KP Reza Shah Pahlevi mengatakan, menindaklanjuti arahan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti agar lulusan SUPM dan Politeknik tidak bekerja sebagai TKI (Tenaga Kerja Indonesia) di luar negeri, maka akan didorong untuk menjadi wirausaha muda. Untuk itu, lulusan SUPM dan politeknik akan didekatkan dengan dunia industri dan lembaga permodalan.

“Kita dekatkan program studi dengan kebutuhan industri. Sementara itu kurikulum juga kita sesuaikan dengan kebutuhan dunia usaha dan industri,” ujar Reza di sela acara Education Expo 2017, di Jakarta, Jumat (3/2).

Menurut Reza, untuk mendekatkan para lulusan SUPM dan Politeknik dengan dunia indsutri dan kewirausahaan maka saat di bangku sekolah harus dilatih bisnis dan berwirausaha. BPSDMP KP juga akan mencarikan dana talangan (bridging fund) sebagai percobaan usaha mereka. “Kami akan coba carikan dananya,” katanya.

Setelah dirasakan usahanya berjalan, lanjutnya, biasanya naluri usahawan itu akan tertarik mengembangkan usahanya dengan menyasar pada kredit UMKM. Jika sudah demikian, apalagi sudah mampu bersaing, maka akan mendapatkan akses untuk kredit komersial.

“Jadi setelah uji coba, lalu akan kita hubungkan dengan kredit yang terkait UMKM. Nah, setelah terdaftar tentunya mereka bisa mencari modal sendiri di kredit komersial. Tiga rangkaian itu kita coba upayakan,” terang Reza.

Program ini, kata Reza, akan diterapkan pada pertengahan tahun ini atau paling lambat awal tahun depan. Ia akan merampungkan perbaikan kurikulum terlebih dahulu. Meskipun kurikulum yang ada sudah mendukung, tetapi akan terus disempurnakan. Karena kurikulum pendidikan vokasi itu harus disesuaikan (up date) dengan perkembangan dunia usaha dan industri.

“Dunia usaha dan industri kan terus berkembang. Bagaimana kita menyesuaikan dengan teknologi yang ada sekarang. Nah, ini yang akan kita coba dekatkan dengan perkembangan terakhir,” katanya.

Untuk menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan industri dan dunia usaha, lanjutnya, pihaknya akan mengundang dunia usaha dan industri. “Kita akan adakan workshop apa yang dibutuhkan di sana. Kita duduk bersama dan kaji kebutuhan sesuai perkembangan yang ada. Dari sana akan tampak apa yang perlu dipertajam dan apa yang perlu dikurangi,” katanya seraya menambahkan workshop tersebut akan dimluai pada awal minggu depan.

Seperti diketahui, sebelumnya Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti meminta agar lulusan sekolah Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), khususnya SUPM dan Politeknik, diharapkan dapat menjadi pelaku utama dalam usaha mandiri di sektor kelautan dan perikanan.

“Saya ingin sekolah SUPM dan Politeknik kita tidak memproduksi TKI, apalagi di kapal-kapal ikan asing. Lebih senang jika mereka terjun sendiri dan punya kapal 11 meter,” jelas Menteri Susi beberapa waktu lalu.

Susi meminta Ditjen Perikanan Tangkap dapat menawarkan lulusan SUPM dan Politeknik untuk jadi nelayan, yang diberi bantuan awal untuk pengembangan. “Mereka lebih baik mandiri jadi entrepreneur kecil, daripada jadi TKI di kapal ikan asing,” ujarnya.

Menteri Susi juga berharap para lulusan SUPM bisa dimasukkan ke Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) yang dibangun KKP di Morotai dan di beberapa wilayah lain, sebagai wirausahawan muda di bidang perikanan budidaya. [NSS]

501 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *