KKP Akan Revitalisasi 1000 Keramba Jaring Apung

Direncanakan awal Maret sudah mulai jalan dan saat ini masih terus dalam tahap penggodokan.

MARINDO–Tidak adanya koordinasi antar instansi dan lembaga dalam program bantuan sarana bagi masyarakat, membuat tidak optimal bantuan tersebut. Hal ini terjadi di sektor kelautan dan perikanan dalam program bantuan keramba jaring apung (KJA).

Disinyalir saat ini terdapat ribuan KJA yang mangkrak akibat tidak adanya pasokan benih, minimnya permodalan bagi para pembudidaya serta akses pasar yang tidak tertata. Alih-alih dapat meningkatkan produksi perikanan budidaya, justru malah membebani wilayah perairan.

Dari catatan Ditjen Perikanan Budidaya (DJPB), Kementerian Kelautan dan Perikanan, terdapat 14.247 lobang KJA yqng tersebar di seluruh Indonesia. KJA yang tujuannya untuk meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir itu merupakan bantuan dari DJPB sebanyak 5980 lobang, Ditjen Pengelolaan Tata Ruang Laut KKP 578 lobang, Kementerian Desa Tertinggal 2764 lobang dan Pemda 4925 lobang. Dari angka tersebut ada sekitar 7316 lobang dari 1082 unit yang mengalami staganasi atau mangkrak.

“KJA yang selama ini mangkrak akan kita revitalisasi. Untuk tahun ini sedikitnya ada 1000 KJA yang akan kami dorong untuk dioptimalkan sehingga dapat meningkatkan produksi perikanan budidaya,” ujar Direktur Kawasan dan Kesehatan Ikan Ditjen Perikanan Budidaya KKP Arik Hari Wibowo kepada Maritim Indonesia, Senin (14/2).

Menurut Arik, DJPB akan mengalokasikan anggaran sebesar Rp 12 milyar untuk program revitalisasi ini. Wilayah yang akan direvitalisasi itu akan tersebar di tiga wilayah yang akan dibina oleh Balai Budidaya Perikanan Laut UPT milik DJPB. Antara lain di Batam, Lampung dan Lombok.

Untuk Balai Batam akan membina wilayah Natuna, Anambas dan sekitarnya. Di sana ada potensi ikan budidaya laut seperti kakap putih, bawal bintang dan tidak tertutup kemungkinan ikan napoleon. Di Lampung, KJA yang akan direvitalisasi di wilayah Lampung Selatan, Peswaran dan Kepulauan Seribu dengan potensi budidaya kerapu cantik, kerapu cantang, bawal bintang dan kakap putih. Sementara di Lombok ada kerapu cantik dan kerapu cantang.

Arik juga menyebutkan untuk revitalisasi ini pemerintah akan menggandeng swasta khususnya dalam akses pasar dan pemasaran. Sementara untuk bantuan benih dan teknologi serta pelatihan bagi para pembudidaya akan dilksanakan oleh pemerintah.

“Sekarang kami sedang melakukan identifikasi kelompok dan menyusun juknis serta koordinasi dengan UPT sebagai penanggung jawab. Sebab bagaimana pun dana yang akan dialokasikan melekat pada DIPA Balai,” terang Arik.

Nantinya ada 100 kelompok di mana per kelompok rata-rata 10 orang dengan mengelola 20 lobang. Sementara verifikasi kelompok ada pada kewenangan Dinas Kelautan dam Perikanan setempat. Direncanakan awal Maret sudah mulai jalan dan saat ini masih dalam tahap penggodokan.

Diharapkan dengan revitalisasi KJA ini, selain dapat memanfaatkan kembali yang mangkrak, juga dapat meningkatkan produksi perikanan laut yang merupakan produk untuk eskpor. Dari 1000 KJA ini, Arik juga berharap bisa dipanen pada enam bulan ke depan dan selanjutnya akan mengalami panen secara siklus di tiap-tiap KJA. (NSS)

212 total views, 2 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *