Sebagai Basis SKPT, Pelabuhan Perikanan Natuna Siap Dioperasikan

Dengan luas total perencanaan 11 hektar, baru 3 hektar yang sudah dioptimalkan, Natuna sudah siap dioperasikan sebagai kegiatan kepelabuhanan.

MARINDO–Basis pengembangan Program Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) yang digagas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di 12 pulau terluar adalah pelabuhan perikanan. Sebagai basis pengembangan di pulau kecil terluar, mengelola pelabuhan perikanan harus dilakukan secara kompehensif, mulai dari hulu sampai hilir. Namun dari 12 pulau terluar yang akan dikembangkan, baru Natuna yang siap operasional.

Direktur Pelabuhan Perikanan, Ditjen Perikanan Tangkap, KKP, Syafril Fauzi kepada Maritim Indonesia mengatakan, pelabuhan perikanan memiliki peran penting dalam memajukan kawasan pulau terluar. Dengan adanya pelabuhan, kegiatan perikanan bisa ditempatkan pada satu titik mulai dari pendaratan ikan, pengolahan hingga pemasaran. Hal itu nantinya bisa dilihat dari pengembangan di Natuna, satu dari 12 SKPT yang akan dikembangkan.

Menurut Syafril, untuk mengembangkan sebuah kawasan SKPT dengan basis pelabuhan perikanan seperti Natuna dibutuhkan anggaran sebesar Rp 112 milyar. Sebagai tahap awal, kini pelabuhan tersebut sudah bisa dioperasikan untuk kegiatan bongkar muat dan aktivitas lainnya.

“Mudah-mudahan pada April nanti, Pelabuhan Natuna sudah siap diluncurkan oleh Bapak Presiden,” ujar Syafril, di kantornya, Senin, (13/2). Namun ia belum bisa memastikan kelas pelabuhan tersebut, apakah Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) atau hanya Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP).

Dijelaskan, anggaran untuk pelabuhan perikanan yang dibangun di Selat Lampa itu meliputi anggaran pusat (KKP) sebesar Rp 54,9 milyar yang dialokasikan pada tahun 2015. Untuk 2016 ada DAK (Dana Alokasi Khusus) untuk Kabupaten Natuna sebesar Rp 18,7 milyar dan DAK untuk Pemeritah Provinsi Kepri Rp 8,6 milyar. “Pada 2017 untuk finishing, KKP masih akan mengalokasikan walau jumlahnya belum diketahui,” tambahnya.

Sesuai visi Presiden Jokowi bahwa pelaksanaan pembangunan dimulai dari pinggiran. KKP, katanya, akan membangun di 12 SKPT dengan berbasis pelabuhan perikanan sebagai program andalan yang ‘dikeroyok’ oleh seluruh instansi. Artinya, tidak hanya unit setingkat eselon satu lingkup KKP, juga ada instansi lain seperti Kementerian Pariwisata dan Kementerian Perhubungan. “Setelah Natuna selesai, tahun ini akan fokus ke Merauke dan di sana sudah mulai ada perencanaan lelang dengan harapan satu tahun kelar,” katanya.

Bukan lantaran sebagai pulau kecil perbatasan yang perlu mendapat perhatian khusus dari pemerintah, Natuna memang pantas dilirik karena memiliki potensi perikanan yang berlimpah. Di sana memiliki potensi perikanan sebesar 1,14 juta ton per tahun untuk jenis ikan cakalang, tongkol dan cumi. Ada sekitar 6 ribu nelayan yang memanfaatkan perairan tersebut, namun merupakan nelayan kecil yang mengoperasikan kapal di bawah 10 GT. Selain potensi perikanan tangkap, di Natuna juga ada potensi ikan napoleon dan kerapu yang bisa dibudidayakan sebagai jenis ikan bernilai ekonomi tinggi.

Sayangya, meskipun memiliki potensi besar, lanjut Syafril, Natuna tidak memiliki akses pasar yang bagus. Terang saja, saat ini ikan yang ditangkap di Natuna dipasarkan di Muara Baru, Jakarta. “Bayangkan saja, perjalanan dari Natuna ke Jakarta memerlukan waktu empat hari untuk bisa menjual ikan hasil tangkapan mereka, tapi mereka tetap bisa jalan,” ujarnya.

Syafril berharap ke depan harus ada strategi pengembangan pasar di Natuna. BUMN sekelas Perindo (Perikanan Indonesia) diharapkan dapat membangun pasar, sehingga dapat menggerakkan ekonomi di sana melalui sektor perikanan. “Sekarang sudah ada pelabuhan perikanan, jika TPI-nya bagus, ikannya pasti masuk ke sana, daripada ke pengepul. Sebab kalau pasar kuat dan harga bagus, maka mereka akan masuk dengan sendirinya ke sana,” ungkap Syafril.

Dengan dibangunnya SKPT berbasis pelabuhan perikanan di Natuna, Syafril berharap peluang pasar akan terbuka lebar di sana. Nelayan tidak jauh-jauh menjual ikan ke Jakarta. Sebab semua fasilitas untuk berbagai kegiatan perikanan akan terpenuhi dengan dibangunnya pelabuhan tersebut. “Ke depan dibutuhkan kecanggihan dalam membangun pasar di Natuna,” tambahnya.

Dengan luas total perencanaan 11 hektar, dan baru 3 hektar yang sudah dioptimalkan, Natuna sudah siap dioperasikan. Luasan tersebut sudah bisa dilakukan untuk kegiatan tahap awal aktvitas kepelabuhanan. Pun dermaga pelabuhan yang memiliki panjang 100 meter dan lebar 18 meter dengan kedalaman kolam pelabuhan di atas 5 meter, sudah bisa disandari oleh kapal-kapal di atas 30 GT.

“Semua fasilitas untuk kegiatan kepelabuhanan sudah siap termasuk di sana sudah ada ICS (Integrated Cold Storage System) yang mampu menampung 200 ton ikan hasil tangkapan,” jelas Syafril. [NSS]

566 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *