Oktober 2017, Indonesia Gelar Lomba Mancing Internasional

Kawasan Indonesia Timur yang kaya ikan dengan lautnya yang eksotis dapat menjadikan kegiatan memancing di laut sebagai alternative seru wisata bahari. Para wisatawan dimanjakan dengan lebih banyak pilihan berwisata.

MARINDO–Sensasi memancing ikan di laut lepas bagi pehobi olahraga ini memang luar biasa. Komunitas mancing senantiasa mencari lokasi-lokasi baru untuk menyalurkan hobi tersebut. Potensi olahraga memancing sebagai bagian dari alternative seru wisata bahari.

Pada pertemuan antara Kemenko Bidang Kemaritiman dengan Pemerintah Provinsi Maluku Utara, di Ternate, pada Jumat (24/3) dibahas mengenai koordinasi teknis Widi International Fishing Tournament (WIFT 2017), yang dipimpin langsung oleh Wakil Gubernur Maluku Utara Zeth Sahuburua, Forum Pimpinan Daerah dan Satuan Kerja Perangkat Daerah.

Deputi Bidang Koordinasi SDM, Iptek dan Budaya Maritim, Kemenko Maritim, Safri Burhanuddin menyatakan, rapat tersebut menghasilkan poin-poin penting berupa arahan dan harapan pada perlombaaan mancing internasional. Kali ini ditargetkan 350 peserta ikut berpartisipasi meramaikan acara tersebut WIFT 2017 yang akan diselenggarakan pada bulan Oktober 2017.

“Tahun lalu lomba mancing internasional diselenggarakan di Provinsi Maluku Utara tepatnya di Morotai, terdapat 3 lomba mancing berskala internasional pada waktu itu. Tahun ini WIFT berlokasi di Halmahera Selatan,” ujar Safri.

Menurut Safri, untuk perlombaan tahun ini telah dilakukan uji coba sebanyak 2 kali untuk melihat banyaknya jumlah ikan disana, karena nanti juga akan diadakan beberapa kelas dalam perlombaan. Untuk kelas professional akan ditentukan jenis ikan apa yang termasuk dalam kategori penilaian juri” Kata Safri saat ditemui usai jumpa pers Sail Sabang di Jakarta.

Safri menjelaskan bahwa sampai saat ini sudah banyak peserta dari Negara-negara ASEAN yang aktif turut serta dalam berbagai perlombaan mancing internasional. Negara tetangga yang juga sangat aktif mengikuti kegiatan memancing di laut adalah Australia. “Jadi potensi event memancing ini sebagai alternative seru olahraga dan wisata bahari perlu mendapat perhatian” Tegas Safri.

Komunitas dan pehobi mancing di laut umumnya, upper level class (kelas menengah atas-red) untuk berwisata mereka bisa menghabiskan lebih banyak uang. Umumnya mereka menggunakan yacht atau sailing boat, bahkan liveaboard boat. “Nah kapal-kapal ini kan juga perlu suplai logistic, dan lain-lain ini menguntungkan penduduk setempat yang bisa menyediakan kebutuhan para wisatawan ini,” tambahnya.

Kawasan Indonesia Timur yang kaya ikan dengan lautnya yang eksotis dapat menjadikan kegiatan memancing di laut sebagai alternative seru wisata bahari. Para wisatawan dimanjakan dengan lebih banyak pilihan berwisata.

Safri menyayangkan kerja sama promosi masih dilakukan sendiri oleh Pemerintah Provinsi Maluku Utara meskipun launching WIFT 2017 di Jakarta telah dijadwalkan di bulan April, yang akan dihadiri oleh Presiden Joko Widodo. “Kalau promosinya lebih maksimal, akan lebih banyak orang tahu, maka lebih banyak orang yang akan berkunjung ke Halmahera,” katanya.

Ia berharap, dengan membuat event internasional seperti ini, selain wisatawan yang datang ke Indonesia memiliki tambahan opsi berwisata, selanjutnya wisatawan memperpanjang waktu liburannya.

Dinas Perhubungan dan Dinas Pekerjaan Umum diminta untuk membantu dalam hal transportasi pada saat perlombaan berlangsung. Sarana transportasi yang dibutuhkan meliputi pesawat dari Pulau Ternate ke Pulau Bacan. Serta dibutuhkan juga speedboat. Perjalanan menggunakan kapal cepat membutuhkan waktu sekitar 3 jam dari Pulau Bacan menuju lokasi lomba mancing. Agenda rapat berikutnya adalah pembahasan lanjutan mengenai solusi terbaik menyelesaikan masalah aksesibilitas pulau-pulau kecil yang menjadi lokasi lomba mancing. [NSS]

1,454 total views, 2 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *