Muhammad Yusuf Jadi Irjen Baru KKP

Ada tiga pilar yang dipakai, yakni control by audit, control by report, control by system. Muhammad Yusuf ingin menambahkan satu lagi, yakni control by accompany in the link, pendampingan yang melekat.

MARINDO–Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Kamis (20/4) melantik Muhammad Yusuf sebagai Inspektur Jenderal (Irjen) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di Gedung Mina Bahari IV, Jakarta. Yusuf didaulat menggantikan Andha Fauzie Miraza yang memasuki masa pensiun. Sebelumnya, Yusuf pernah menjabat sebagai Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dan Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan.

“Saya ucapkan selamat datang Pak Yusuf dalam tim KKP. Saya sudah bekerja bersama Bapak mungkin sudah cukup lama, meskipun tidak sama-sama di KKP, waktu Bapak masih di PPATK. Waktu itu, bapak membantu kita dalam kerja-kerja kita dengan Satgas untuk menjaga good governance di KKP. Bapak Andha, Bapak memasuki pensiun. Saya juga ucapkan terima kasih, selama ini Bapak telah menjadi Irjen di KKP. Banyak hal yang kita perbaiki bersama selama saya bekerja bersama Bapak,” ungkap Menteri Susi dalam pidato pelantikannya.

Dalam pidatonya, Menteri Susi menekankan pentingnya efektivitas dan efisiensi penggunaan anggaran KKP. Ia meminta seluruh jajaran KKP menggunakan anggaran secara bijak untuk mencapai tujuan dan cita-cita KKP demi menyejahterakan nelayan Indonesia.

Menteri Susi mengungkapkan, sumber daya alam kelautan dan perikanan kini menjadi salah satu andalan utama Indonesia untuk meningkatkan pemasukan negara karena sifatnya yang dapat diperbaharui. Untuk itu, ia meminta semua pihak bersama-sama berkomitmen untuk menjaga keberlanjutannya.

“Sumber daya kita yang kaya seperti minyak dan tambang, sudah hampir habis dan tidak akan kembali. Tapi, kita masih punya satu kelautan dan perikanan, sumber daya alam yang renewable, yang bisa terus-menerus sustain dan ada untuk keperluan kita. Tetapi tentu saja hanya kalau kita jaga dengan benar. Hanya jika ada sustainability di cara pengelolaannya,” terang Menteri Susi.

Menurut Menteri Susi, terbitnya Perpres Nomor 44 tertanggal 18 Mei 2016 adalah salah satu bentuk komitmen Presiden Joko Widodo untuk menjaga keberlanjutan sumber daya kelautan Indonesia. “Beliau merubah perikanan tangkap masuk dalam daftar negative list investasi asing. Itu adalah suatu kemenangan nasional, kemenangan bangsa Indonesia. Tetapi apabila kita tidak bisa menjaga ini (keberlanjutan sumber daya kelautan dan perikanan), maka habislah sumber daya alam terakhir yang kita punya,” tutur Menteri Susi.

Kepada Irjen yang baru, Menteri Susi berpesan agar tak goyah atas tekanan yang akan ditujukan kepada Indonesia dari berbagai pihak atas dalam menjalankan komitmen KKP yang telah ditetapkan.

“Bapak Yusuf sebagai Irjen Baru nanti, tugas kita menjaga sumber daya ini sangat berat. Tetangga-tetangga kita tahun ini melakukan moratorium bersama-sama. Cina moratorium mulai tanggal 1 Mei. Padahal dia baru melakukan moratorium selama 2 tahun, yang berakhir September tahun lalu. Thailand juga akan melakukan moratorium, kemudian Vietnam juga sama. Karena apa? Karena mereka sudah habis stok ikannya. Kenapa kita harus jaga? Karena kalau ini terjadi, pressure untuk menangkap ikan di wilayah kita akan lebih besar lagi,” terang Menteri Susi.

Menteri Susi mengingatkan, KKP baru berhasil mencapai 40% tambahan tangkapan ikan dari target yang telah dibuat. Menurutnya, target tambahan tangkapan ikan ini bukan untuk diekspor semua, melainkan utamanya untuk peningkatan kualitas manusia Indonesia.

“Bukan berarti kita tangkap terus harus kita ekspor semua. Kita harus ingat ini adalah pangan, kita harus memastikan dulu ini cukup untuk bangsa kita. Lebihnya, itu yang kita ekspor. Benar devisa penting, tetapi kualitas manusia-manusia Indonesia juga sangat penting. Dengan tekanan-tekanan kebutuhan dan demand dunia akan seafood, seafood yang kita punya akan dicari dan dikejar oleh banyak negara. Saya ingatkan kepada bapak-bapak semua, utamakan untuk bangsa kita dahulu,” amanat Menteri Susi.

Menteri Susi juga mengungkapkan keprihatinannya atas angka stunting indeks anak-anak Indonesia yang sangat tinggi. Berdasarkan data 2003-2013, stunting indeks anak-anak Indonesia mencapai 39%, di mana 1 dari tiga anak-anak Indonesia tumbuh kuntet. “Seperti tikus mati di lumbung padi. Ikan banyak, tapi anak-anak Indonesia tidak cukup tumbuh sehat,” kata Menteri Susi.

“Saya harap, Bapak dan Ibu semua konsisten dan tetap jaga integritas. Saya bangga dan senang dan bersyukur kita sempat menjaga ini sebelum habis,” tandas Menteri Susi.

Sementara itu Muhammad Yusuf menyampaikan rasa terima kasih atas kepercayaan yang telah diberikan Menteri Susi kepadanya. “Tidak semua orang bisa dipercaya (sebagai Irjen), apalagi Ibu Susi kan orangnya perfectionist. Ini tentu tantangan bagi saya. Saya terpacu untuk bayak belajar bagaimana cara Ibu Susi bekerja, perlu tahu bagaimana budaya kerjanya, apa yang diinginkan, sehingga nanti tidak ada kekecewaan,” tutur dia sesaat setelah acara pelantikan.

Menurut Yusuf, bekerja di KKP adalah sebuah panggilan jiwa untuknya, mengingat tujuan KKP yang sangat mulia untuk menyejahterakan nelayan Indonesia. Ia ingin semua ikut bersinergi membantu mewujudkan cita-cita KKP agar generasi selanjutnya punya untuk dapat hidup layak, nyaman, dengan asupan gizi yang terpenuhi.

Yusuf mengungkapkan, dalam masa jabatannya ia akan menambahkan satu ke dalam tiga pilar yang biasa dipakai dalam kerja organisasi. Menurut Yusuf, selama ini kan ada tiga pilar yang dipakai, control by audit, control by report, control by system. Ia ingin satu lagi control by accompany in the link, pendampingan yang melekat.

“Artinya saat ada progress yang signifikan, dalam jumlah yang besar, yang berpengaruh kepada hidup orang banyak secara langsung, kita berharap ada tim atau anggota inspektorat di sana, untuk pencegahan dini agar jangan sampai ada defiasi,” tukas dia. [NSS]

472 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *