FNI : Alat Tangkap Gill Net Tidak Ramah Lingkungan

Alat tangkap jenis ini tidak jelas definisinya, sejarahnya, asalnya dari mana. Alat tangkap gill net dinilai sangat tidak ramah kehidupan sosial.

MARINDO–Perkembangan perikanan Indonesia semakin memburuk. Di seluruh Indonesia dimulai dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, Manado, Bitung, Lamongan dan lainnya. Nampaknya alat tangkap bantuan pemerintah tak membuat nelayan kembali melaut, malah nelayan semakin menyusahkan dirinya.

Berdasarkan pengamatan Front Nelaayan Indonesia (FNI) di lapangan bahwa model alat tangkap gill net yang ditawarkan pemerintah, sebagai pengganti cantrang, tidak cocok dengan kebiasaan nelayan yang berukuran kapal 30 Gross Ton.

Ketua Umum Front Nelayan Indonesia (FNI) Rusdianto Samawa mengatakan, alat tangkap gill net dikhawatirkan akan menyapu seluruh biota laut, karena besar dan kecil mata jaring tidak ditentukan sedetail mungkin. Kelemahan gill net adalah benda apapun yang tersangkut maka akan membuat jaring kotor dan sulit untuk dibersihkan.

“Alat tangkap gill net ini tidak dengan kapal ber-Gross Ton tinggi. gill net hanya cocok dengan kapal 5 Gross Ton ke bawah. Kalau 5 GT disebut sampan atau perahu bukan kapal. Namun yang memberatkan adalah lingkaran jaring, ada bahan yang memberatkan ujung gill net sehingga sampai ke dasar laut,” ujar Rusdianto Samawa dalam siaran persnya yang dikirimkan kepada Maritim Indonesia (11/5/17).

Rusdianto menuturkan, alat tangkap gill net yang digemborkan oleh Susi Pudjiastuti hanya untuk 5 Gross Ton ke bawah. Dengan demikian, tidak pas jika disebutkan sebagai pengangganti alat tangkap cantrang dan payang. Sementara cantrang dan payang di atas 30 GT dan di bawah 30 GT.

lebih jauh Rusdianto mengatakan, kebijakan Susi Pudjiastuti perlu dicerdaskan bahwa alat tangkap yang dipopulerkan itu ketinggalan zaman. Tak bisa mengangkat kekuatan aspek ekonomi sosial yang sudah terjadi masalah sebelumnya.

Seperti pengalaman beberapa nelayan cantrang yang mencoba beralih ke gill net, tetapi mendapat kesulitan. Peralihan ke gill net membutuhkan modal yang sangat besar dan hasilnya gill net belum terasa, bahkan masih dipertanyakan hasilnya.

Ketua Lembaga Bantuan Hukum Nelayan Indonesia itu juga mengungkapkan, alat tangkap gill net ternyata hasil tangkapannya tidak bagus. Malah merusak lingkungan karena mata jaring yang kecil dan memiliki bahan pemberat hingga ke dasar laut.

Alat tangkap jenis ini tidak jelas definisinya, sejarahnya, asalnya dari mana. Alat tangkap gill net dinilai sangat tidak ramah kehidupan sosial. Karena justru membuat konflik sosial yang sangat akut. Misalnya hutang nelayan sebelumnya di bank-bank yang merupakan anggunan alat tangkap sebelumnya, belum lunas. Kini Menteri Susi, katanya, memaksa nelayan pindah ke alat tangkap baru, sehingga ikut melahirkan hutang baru lagi.

Dijelaskan, dengan situasi seperti itu, maka gill net bukan solusi bagi nelayan, karena akan banyak melahirkan hutang. Justru inilah konflik yang sejatinya terjadi karena ketika nelayan memakai alat tangkap biasa dipakai, lalu Susi Pudjiastuti melarangnya dengan alat tangkap gill net yang justru nelayan kembali ke masa lampau tahun 1900-an. Alat tangkap tersebut tidak ramah sosial masyarakat. [NSS]

395 total views, 2 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *