Teknologi ‘Bioflok’ Bisa Jadi Solusi Penuhi Kebutuhan Gizi Masyarakat

Teknologi ini merupakan bentuk rekayasa lingkungan yang mengandalkan suplai oksigen dan pemanfaatan mikroorganisme, yang secara langsung dapat meningkatkan nilai kecernaan pakan.

MARINDO–Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dituntut untuk terus mendorong peran yang lebih besar dalam menopang ketahanan pangan nasional. Produk pangan berbasis ikan saat ini menjadi andalan utama, seiring mulai terjadi pergeseran pola konsumsi masyarakat dari protein berbasis daging merah pada protein daging putih (ikan).

KKP memproyeksikan sampai dengan tahun 2019 tingkat konsumsi ikan sebesar > 50 kg per kapita per tahun. Dengan target tersebut setidaknya dibutuhkan suplai ikan sebanyak ± 14,6 juta ton per tahun, di mana angka ini diprediksi sekitar 60 persennya akan bergantung pada hasil produksi budidaya.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto kepada wartawan mengatakan, untuk mencukupi kebutuhan pangan nasional yang semakin tinggi, maka langkah utama yang perlu dilakukan adalah melalui intensifikasi teknologi yang efektif dan efisien.

“Semua pelaku perikanan budidaya harus berkreasi mengedepankan Iptek dalam pengelolaan usaha budidaya ikan. Intinya dengan kondisi saat ini, produktivitas budidaya harus bisa dipacu dalam lahan terbatas dan dengan penggunaan sumberdaya air yang efisien,” jelas Slamet di Gedung KKP, Rabu (17/5).

Menurut Slamet, Ditjen Perikanan Budidaya telah melakukan upaya pengembangan Iptek budidaya dan terbukti berhasil, salah satunya yaitu inovasi teknologi budidaya lele sistem bioflok. Teknologi system bioflok menjadi sangat popular saat ini, karena mampu mengenjot produktivitas lele yang tinggi, penggunaan lahan yang tidak terlalu luas dan hemat sumber air.

Sebagai gambaran, teknologi ini merupakan bentuk rekayasa lingkungan yang mengandalkan suplai oksigen dan pemanfaatan mikroorganisme, yang secara langsung dapat meningkatkan nilai kecernaan pakan. “Bioflok ini menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, apalagi saat ini produk lele sangat memasyarakat sebagai sumber gizi yang digemari,” jelas Slamet.

Tiga kali lipat

Sebagai perbandingan, untuk budidaya dengan sistem konvensional dengan padat tebar 100 ekor/m3 memerlukan 120-130 hari untuk panen, sedangkan untuk sistem bioflok dengan padat tebar 500-1000 ekor/m3 hanya membutuhkan 100-110 hari saja. Selain itu, penggunaan pakan lebih efisien. Jika pada teknlogi konvensional FCR rata-rata 1,2, maka dengan teknologi bioflok FCR dapat mencapai 0,8.

Dibanyak daerah teknologi lele bioflok terbukti sangat efisien, sebagai ilustrasi dengan rata-rata padat tebar 1.000 ekor/m3, maka dalam satu kolam bulat ukuran diameter 3 m, dapat ditebar benih lele sebanyak min. 3.000 ekor, dan mampu menghasilkan lele konsumsi mencapai > 300 kg per siklus (100-110 hari). Artinya jika dibanding dengan teknologi konvensional, budidaya system bioflok ini mampu menaikan produktivitas > 3 kali lipat.

Begitupun secara itung-itungan bisnis, usaha ini juga sangat profitable. Sebagai gambaran dalam 1 (satu) unit usaha (25 lubang kolam diameter 3 m), akan menghasilkan produksi sebanyak 7,5 ton per siklus, dengan kata lain pembudidaya dapat meraup pendapatan sekitar 420 juta per tahun atau sekitar 35 juta per bulan. Salah satu kelebihan lain, bahwa pengembangan lele bioflok juga dapat diintegrasikan dengan system hidroponik, secara teknis air buangan limbah budidaya yang mengandung mikroba dapat dimanfaatkan sebagai pupuk yang baik bagi sayuran.

“Tentunya ini adalah bentuk keberhasilan inovasi teknlogi budidaya, dan sekaligus menjadi jawaban tepat bagiamana memenuhi kebutuhan pangan masyarakat saat ini. Inovasi teknologi harus mampu menjawab tantangan dan masalah, serta mampu memanfaatkan peluang yang ada,” kata Slamet.

IImsa Hemawan, Ketua I Assosiasi Pengusaha Catfish Indonesia, menyampaikan bahwa budidaya lele bioflok merupakan usaha yang mengandalkan teknologi, sehingga faktor kedisiplinan dalam penerapan SOP sangat penting. “Pendampingan teknologi harus dilakukan secara intens, dengan metode yang memungkinkan masyarakat memahami dan mengadopsi secara mudah,” jelas Imsa.

Sementara itu, Badar, Ketua Kelompok Clarias SP dari Balikpapan, Kalimantan Timur, menilai usaha ini lebih banyak meraup keuntungan. Dengan padat tebar 4.000 ekor/kolam, hanya dalam waktu 70-80 hari, sebanyak 8 buah kolam miliknya mampu memproduksi minimal 2,5 ton ikan lele konsumsi. Keuntungan yang didapat Badar dengan berbudidaya sistem bioflok meningkatkan pendapatan hingga 300% dibandingkan dengan sebelumnya. [NSS]

370 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *