Sekjen KKP : Tidak Ada Pertukaran Tahanan Pada Kasus 5 Kapal Ikan Vietnam

Ada sekitar 400 ABK kapal ikan asing, khususnya dari Vietnam, yang masih ditahan di Indonesia karena melakukan pelanggaran perikanan, dan akan segera dipulangkan ke negara masing-masing.

MARINDO–Penangkapan terhadap 5 kapal ikan berbendera Vetnam di Perairan Natuna oleh Kapal Pengawas (KP) Hiu Macan 001 akan diselesaikan secara diplomat antar kedua negara. Namun demikian, pemerintah Indonesia tetap akan memproses secara hukum bagi nahkoda dan kepala kamar mesin (KKM) lima kapal tersebut karena telah melanggar melakukan penangkapan ikan di wilayah ZEE Indonesia. Sementara Awak Kapal Pengawas (AKP) Macan Hiu 001, Gunawan, yang ikut terbawa oleh kapal Coast Guard Vietnam akan segera dipulangkan.

Sekjen Kementerian Kelautan dan Perikanan Rifky Effendi Hardijanto dalam keterangannya kepada wartawan, Selasa (23/5/17), mengatakan, Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Viatenam akan melakukan penyelesaian secara diplomatik terkait insiden tertangkapnya 5 kapal Vietnam tersebut.

Pasalnya kedua Negara masing-masing mengklaim wilayah tersebut merupakan bagian dari wilayah pengelolaan masing-masing. Sesuai UNCLOS 1982, Indonesia menyatakan wilayah tersebut adalah bagian dari wilayah ZEE Indonesia, sementara Vietnam mengklaim masih dalam wilayah landas kontinen mereka.

“Makanya kita akan menggunakan jalur diplomat dan akan segera berkoordinasi dengan Kemenlu bagaimana kaidah-kaidah hubungan internasional yang baik dalam penyelesaian ini. Sementara awak pengawas kita, Saudara Gunawan, yang sekarang masih di Vietnam, kondisinya dalam keadaan baik dan akan segera dipulangkan,” ujar Rifky.

Menurut Rifky, Pemerintah Indonesia dengan keduataan besar Vietnam di Jakarta telah menyepakati beberapa hal terkait menyelesaikan insiden ini, di antaranya melalui jalur diplomat untuk mencegah agar kasus seperti ini tidak terulang lagi, sehingga dapat mengganggu hubungan baik kedua negara.

Terkait dengan ABK kapal ikan Vietnam yang tertangkap, Rifky menegaskan akan memulangkan mereka. Namun untuk nahkoda dan KKM tetap akan diproses secara hukum. Ia juga menjelaskan, ada sekitar 400 ABK kapal ikan asing, khususnya dari Vietnam, yang masih ditahan di Indonesia karena melakukan pelanggaran perikanan, dan akan segera dipulangkan ke negara masing-masing.

“Tapi pemulangan ini bukan sebagai pertukaran sandera, karena tidak ada sandera, dengan terbawanya saudara Gunawan di kapal Coast Guard Vetnam itu. Lagi pula kita repot kasi makan lama-lama kita tahan di sini,” ujar Rifky.

Insiden ini bermulaa dari penangkapan atas 5 kapal ikan berbendera Vietnam oleh Kapal Pengaws Hiu Macan 001 pada pada Minggu, 21 Mei 2017. Saat itu, Kapal Hiu Macan 001 mendapatkan 5 kapal ikan asing (KIA) berbendera Vietnam sedang melakukan penangkapan ikan di WPP-NRI 711 atau di Perairan Natuna.

Sesuai prosedur, Kapal Hiu Macan 001 memindahkan 55 awak Anak Buah Kapal (ABK) Vietnam ke atas Kapal Hiu Macan 001 dan menugaskan 5 Awak Kapal Pengawas (AKP) melakukan pengawalan ke tiap-tiap kapal Vietnam yang ditangkap.

Pada saat bersamaan kapal Coast Guard Vietnam CSB8005 meminta 5 KIA Vietnam tersebut dilepaskan. Saat kapal hiu macan mendekat ke CSB8005, 44 ABK Vietnam menyeburkan diri dan naik ke CSB8005.

Kapal Hiu Macan 001 lalu meminta dukungan TNI AL yang mengirim KRI Pattimura dari Sabang Mawang Ranai ke lokasi, namun CSB8005 sudah tidak berada di lokasi.

Lalu Kapal Hiu Macan 001 meninggalkan lokasi dengan membawa 11 awak kapal Vietnam dan CSB8005 juga meninggalkan lokasi dengan membawa 1 petugas KKP bernama Gunawan dan 44 awak kapal Vietnam. [NSS]

992 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *