Kabupaten Bangka Tengah Siap Tiru 18 Karakter Cara Pengembangan SDM STP Jakarta

Sebagai contoh, untuk menghasilkan karakter mandiri, STP menggunakan pendekatan teaching factory, dengan dibangunnya dunia usaha dan industri sesungguhnya di dalam kampus.

MARINDO–Sekolah Tinggi Perikanan (STP) Jakarta mengadakan Perjanjian Kerja Sama dengan Dinas Perikanan Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Bangka Belitung, tentang Pelaksanaan Kerja Sama Teknis Pendidikan, Penelitian, Pengembangan dan Pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam rangka Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama ini merupakan tindak lanjut dari Kesepakatan Bersama antara STP dengan Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah tentang Pendidikan, Penelitian, Pengembangan dan Pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Kesepakatan Bersama ini ditandatangani pada Maret lalu oleh Ketua STP Mochammad Heri Edy dan Bupati Bangka Tengah kala itu Erzaldi Rosman, yang kini menjadi Gubernur Bangka Belitung.

Kini, naskah perjanjian kerja sama lanjutan ditandatangani oleh Ketua STP Mochammad Heri Edy dan Kepala Dinas Perikanan Bangka Tengah Dedy Muchdiyat, Selasa (23/5/2017), di Kantor Sekretariat Daerah Bangka Tengah.

Pada Perjanjian Kerja Sama dengan Dinas Perikanan ini, ruang lingkupnya meliputi penyusunan zonasi daerah penangkapan ikan (fishing ground) di Kabupaten Bangka Tengah; rayonisasi penerimaan taruna/taruni STP dan pemberdayaan/pemanfaatan lulusannya; serta peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) pelaku utama dan pelaku usaha perikanan.

Pada kesempatan tersebut, Heri Edy menjelaskan, STP menggunakan sistem pendidikan vokasi, dengan pendekatan teaching factory. Porsinya sebanyak 70% praktik dan 30% teori. Karena itu lulusan yang dihasilkan siap bekerja dan berwirausaha sesuai bidangnya. Hal ini sejalan dengan amanah Presiden Joko Widodo untuk mengembangkan pendidikan vokasi.

Taruna juga dididik dengan 18 karakter, yaitu religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokrasi, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.

Sebagai contoh untuk menghasilkan karakter mandiri, STP menggunakan pendekatan teaching factory, dengan dibangunnya dunia usaha dan industri sesungguhnya di dalam kampus. Misalnya pada Program Studi Pengolahan Hasil Perikanan, para taruna dididik untuk menjalankan usaha pengolahan sesuai standar, dimulai mencuci tangan, memakai sepatu dan pakaian khusus, masker, dan tutup kepala. Kemudian mereka menjalankan proses pengolahan hasil perikanan, hingga pengemasan dan pemasaran.

Heri melanjutkan, selain Diploma IV (setara Strata II), STP juga memiliki Program Pascasarjana. “Mungkin STP satu-satunya perguruan tinggi perikanan Indonesia yang memiliki Program Magister Terapan,” tambahnya.

Sekretaris Daerah Bangka Tengah Sugianto menyambut baik kerja sama yang dilakukan dengan STP. Menurutnya, Bangka Tengah memiliki potensi kelautan dan perikanan yang sangat tinggi, namun kapasitas SDM di sektor tersebut masih kurang. Karena itu diperlukan kerja sama dengan STP untuk mengembangkannya. Potensi tersebut antara lain garis pantai yang panjang dan sumberdaya ikan yang banyak, baik ikan laut maupun air tawar.

Ia juga menjelaskan, awalnya masyarakat hanya tertarik dengan ikan laut. Karena itu dilakukan perubahan mindset hingga kini menggemari juga ikan air tawar. Bahkan Bangka Tengah menjadi pemasok ikan air tawar di Provinsi Bangka Belitung, seperti patin, lele, dan patin. Salah satu potensi lainnya adalah udang galah, yang perlu dikembangkan, karena merupakan udang endemik Indonesia.

Menurut Sugianto, daerahnya dahulu memiliki potensi tambang timah, yang sangat membantu perekonomian masyarakat. Namun kini izin penambangan timah itu telah berakhir, sehingga perlu mengembangkan kegiatan sektor lainnya, seperti perikanan dan pertanian, untuk menghidupkan perekonomian.

“Masyarakat banyak yang ingin instant, sementara perikanan, khususnya budidaya, memerlukan proses. Selain bekerja di perusahaan tambang, ada juga masyarakat yang menambang timah sendiri. Setengah kilogram timah dijual seharga 50 ribu hingga 60 ribu rupiah. Kini tambang sudah dilarang. Masyarakat perlu beralih, tapi kapasitas SDM-nya rendah. Untuk itulah diperlukan kerja sama dengan STP,” ujarnya.

Sementara itu Kepala Dinas Kabupaten Bangka Tengah Dedy Muchdiyat mengatakan, salah satu kerja sama yang sudah berjalan adalah penerimaan peserta didik asal Bangka Tengah di STP. Saat ini sudah ada taruna Bangka Tengah yang sedang menempuh pendidikan di STP, baik Diploma IV maupun Strata II. Bangka Tengah juga menjadi salah satu rayon penerimaan peserta didik, yang bertempat di Dinas Perikanan.

Untuk tahun akademik mendatang, jumlah pendaftar di Bangka Tengah sementara ini mencapai 30 orang, dan yang memenuhi syarat sebanyak 26 orang. Pendaftar ini dapat terus bertambah hingga tutupnya pendaftaran pada Juli mendatang.

Kerja sama lainnya yang tengah dilakukan adalah penyusunan zonasi daerah penangkapan ikan (fishing ground) di Bangka Tengah. Saat ini tim STP, yang terdiri dari para dosen, sedang berada di Bangka Tengah terkait penyusunan zonasi tersebut. Menyusul setelah itu, akan dilakukan kerja sama di bidang-bidang lainnya. [NSS]

1,433 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *