2018, Sebanyak 15 Kapal Perintis Barang Disiapkan Untuk Dukung Tol Laut

MARINDO–Program Tol Laut Pemerintah Jokowi-JK yang digulirkan sejak tahun 2015 telah banyak membuahkan hasil. Paling tidak terlihat dari adanya penurunan harga kebutuhan sembako di Indonesia wilayah timur. Meskipun masih terbilang tinggi jika dibandingkan dengan harga di wilayah Indonesia barat, namun program Tol Laut dinilai cukup berhasil.  

Berdasarkan data Ditjen Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan, tercatat harga beras di Larantuka, NTT, mengalami penurunan sebesar 17 persen, yakni dari harga Rp 12 ribu/kg pada tahun 2016 menjadi Rp 10 ribu/kg pada tahun 2017. Gula pasir menurun 17 persen dari Rp 18 ribu menjadi Rp 15 ribu. Minyak goreng kemasan menurun 12 persen dari harga Rp 17 ribu menjadi Rp 15 ribu. Atau harga semen di Puncak Jaya yang semula Rp 2,5 juta per zak kini menjadi Rp 1,8 juta per zak atau turun sebesar 28 persen.

Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut,  Ditjen Perhubungan Laut, Bay M. Hasani, mengatakan, penurunan harga-harag di wilayah Indonesia timur merupakan campur tangan dan kehadiran pemerintah dalam menjalankan program Tol Laut. Beberapa kapal Pelni dan kapal perintis telah mendapat penugasan dari pemerintah untuk masuk ke wilayah terpencil dan terluar Indonesia agar menstabilkan harga-harga kebutuhan pokok.  

Seperti diketahui, program Tol Laut adalah konektivitas laut yang efektif berupa adanya kapal yang melayari secara rutin dan terjadwal dari barat sampai ke timur Indonesia. Hal ini bertujuan untuk menjangkau dan mendistribuskan logistik ke daerah tertinggal, terpencil, terluar dan perbatasan. Selain itu, untuk menjamin ketersediaan barang dan mengurangi disparitas harga guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Tol Laut sendiri merupakan amanat Perpres Nomor 106 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Kewajiban Pelayanan Publik untuk Angkutan Barang dalam Rangka Pelaksanaan Tol Laut, yang telah telah direvisi menjadi Perpres Nomor 70 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Kewajiban Pelayanan Publik untuk Angkutan Barang dari dan ke Daerah Tertinggal, Terpencil, Terluar, dan Perbatasan.   

“Tujuan dari Tol Laut yakni untuk menurunkan disparitas harga di Indoneia bagian timur itu kini sudah terlihat hasilnya. Kapal-kapal perintis kita telah menjangkau wilayah yang tentunya yang tidak bakalan dilayari oleh kapal komersil swasta,” ujar Bay M. Hasani dalam acara Pers Background, di Jakarta, Rabu (16/8/17).

Menurut Bay, setelah sukses dengan program kapal-kapal penumpang dan barang, pada tahun 2018 Ditjen Perhubungan Laut, Kemenhub, berencana akan menambah jumlah kapal Tol Laut ke Indonesia wilayah timur. Untuk tahun 2018, lanjut Bay, Ditjen Hubla akan mengoperasikan sebanyak 15 kapal khusus barang ke Indonesia wilayah timur untuk mendukung program Tol Laut yang sudah berjalan.

“Kita ingin terus menurunkan disparitas harga. Sebab kalau menggantungkan kepada swasta di mana bergantung pada muatan barang, tidak bakalan jalan karena bagi kapal swasta ada semboyan ‘ada barang maka kapal akan datang’. Jadi intinya pemerntah harus hadir karena kalau mengandalkan swasta sampai kapan pun tidak akan jalan,” ujarnya.

Lebih jauh Bay menjelaskan, program Tol Laut juga akan terintegrasi dengan moda transportasi lainnya seperti angkutan barang di darat dan udara, dan guna mengoptimalisasi trayek yang telah tersedia, pemerintah juga membangun Sentra Logistik yang disebut ‘Rumah Kita’. Program Rumah Kita akan dikoordinasikan dengan BUMN terkait. Hal ini bertujuan untuk membantu distribusi dan konsolidasi barang di wilayah yang dilalui jalur Tol Laut dari Timur ke Barat.

Kata Bay, Rumah Kita sudah diakomodasi di Perpres 70/2017, yakni untuk mengoptimalkan muatan balik mendorong daerah memanfaatkan Tol Laut untuk memasarkan hasil produk daerah. Perpres 70/2017 ini juga bisa menugaskan Bulog, Pelindo I-IV, RNI, dan lainnya untuk mengoptimalkan Tol Laut ini. [NSS]

 

616 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *