Dukung Tol Laut, KM Sabuk Nusantara 80 Diluncurkan di Madura

Inspektur Wilayah IV, Inspektorat Jenderal, Kementerian Perhubungan, Imam Hambali dan Direktur Utama PT Adiluhung Saranasegara Indonesia Anita Pujiutami saat peluncuran KM Sabuk Nusantara 80.

MARINDO–Bunyi sirine meraung dan tali pengikat sandaran kapal dilepas. Sontak saja kapal berbobot 2000 GT itu meluncur ke tengah yang kemudian disambut dengan semburan kembang api membubung ke udara. Suasana di galangan kapal PT Adiluhung Saranasegara Indonesia itu berubah sedikit hiruk dan semarak.

Ya, malam itu tepat pukul 22.00 WIB, kapal perintis KM Sabuk Nusantara 80 diluncurkan. Inspektur Wilayah IV, Inspektorat Jenderal, Kementerian Perhubungan, Imam Hambali yang mewakili Plt. Dirjen Perhubungan Laut Bay M. Hasani dan Direktur Utama PT Adiluhung Saranasegara Indonesia Anita Pujiutami yang menekan tombol peluncuran kapal perintis tipe 2000 GT itu.

Di langit bulan bulat tampak keemasan. Peluncuran kapal perintis KM Sabuk Nusantara 80 sengaja memang dilakukan pada malam hari. Manajemen PT Adiluhung Saranasegara Indonesia menjelaskan, peluncuran kapal ini dilakukan seiring air laut pasang pada malam hari.

KM Sabuk Nusantara merupakan kapal perintis tipe 2000 GT. Kapal ini memiliki panjang (LOA) 68,50 m dan lebar 14 m dapat mengangkut penumpang sebanyak 498 orang dan diawaki oleh 36 orang Anak Buah Kapal (ABK) serta memiliki kecepatan 12 knot sehingga kapal ini dianggap mampu untuk menjadi solusi pengiriman barang dan penumpang yang andal.

“Peluncuran kapal perintis GT 2000 dimaksud untuk memenuhi kebutuhan logistik antar pulau di Indonesia baik berupa barang maupun penumpang,” ujar Imam Hambali saat membacakan sambutan Plt Dirjen Hubla Bay M. Hasani, di galangan kapal PT Adiluhung, di Desa Ujung Piring, Bangkalan-Madura, Jawa Timur, pada Jumat malam (6/10/17).

Peluncuran kapal perintis 2000 GT ini merupakan tindak lanjut dari penandatanganan kontrak pembangunan kapal perintis pada tahun 2015 oleh PT Adiluhung Saranasegara Indonesia dengan nilai anggaran sebesar Rp. 73.700 Miliar.

Kasubdit Pengembamgan Usaha Angkutan Laut, Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Laut, Ditjen Hubla, Muhammad Saiful menyebutkan, total kapal yang akan dibangun pada rentang 2015-2017
sebanyak 70 kapal dengan alokasi anggaran sebesar Rp 1,8 triliun. Kapal-kapal tersebut nantinya akan dioperasikan oleh PT Pelni untuk melayani wilayah kepulauan Indonesia di perbatasan, terdepan dan terpencil.

Di tempat terpisah Plt Dirjen Hubla Bay M. Hasani mengatakan, kapal tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendukung program tol laut agar terwujud konektivitas antara wilayah barat dengan wilayah timur Indonesia yang dapat mengurangi disparitas harga.

“Program ini untuk mendukung program besar tol laut yang melayani di wilayah perbatasan yang terdepan dan terpencil sehingga dapat memenuhi kebutuhan logistik antar pulau di Indonesia baik berupa barang maupun penumpang,” ujar Bay.

Menurut Bay, kapal menjadi pilihan yang strategis karena transportasi laut adalah transportasi yang dapat mengangkut barang maupun penumpang yang lebih banyak dibandingkan moda transportasi lainnya.

Sementara itu Dirut PT Adiluhung Saranasegara Indonesia Anita Pujiutami menyatakan, pembangunan kapal milik Ditjen Perhubungan Laut telah menyerap tenaga kerja lokal, khususnya masyarakat yang ada di sekitar Desa Ujung Piring. Menurut Anita, lebih dari 80 persen pengerjaannya melibatkan masyarakat setempat serta menumbuhkan industri kecil dan UkM di sekitar Bangkalan.

Saat ini PT Adiluhung Saranasegara Indonesia mengerjakan proyek 6 kapal dari Ditjen Perhubungan Laut, salah satunya KM Sabuk Nusantara 80. Anita optimis semua kapal yang dibangun di galangan miliknya memiliki mutu dan kualitas yang handal sesuai spesifikasi dan pesanan Ditjen Perhubungan Laut.

Plt. Dirjen Bay juga memberikan apresiasi atas kerja baik dari galangan kapal PT. Adiluhung Saranasegara Indonesia yang dinilai tepat waktu sesuai jadwal dan kontrak yang ada.

“KM. Sabuk Nusantara 80 ini rencananya akan ditempatkan di wilayah perairan dengan ketinggian gelombang rata-rata di atas 2 meter yang umumnya berada di wilayah Samudera Hindia dan Indonesia Bagian Timur atau Tengah,” kata Bay. (NSS)

768 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *