Air Ballas Bisa Bawa Spesies Asing Bersifat Invasif Bagi Biota dan Lingkungan Perairan

Direktur Perkapalan dan Kepelautan, Capt. Rudiana pada Workshop Pengendalian dan Manajemen Air Ballas dari Kapal.

MARINDO—Spesies asing yang bersifat invasif yang berasal dari air ballas dan sedimen kapal disinyalir dapat merusak biota perairan dan lingkungannya. Untuk itu, upaya pengendalian dan manajemen menjadi sangat perlu dilakukan atas air ballas tersebut.

Terkait dengan upaya itu, Kementerian Perhubungan cq. Direktorat Jenderal Perhubungan Laut melalui Direktorat Perkapalan dan Kepelautan menggelar Workshop Pengendalian dan Manajemen Air Ballas dari Kapal Tahun Anggaran 2017, di Hotel Alila, Jakarta, pada Rabu (18/10).

Workshop yang diikuti oleh para peserta perwakilan dari Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Perhubungan Laut dimaksud dibuka secara resmi oleh Direktur Perkapalan dan Kepelautan, Capt. Rudiana.

Dalam sambutannya, Capt. Rudiana menyebutkan bahwa setiap negara mempunyai kewajiban untuk melindungi dan melestarikan lingkungan laut. “Mempunyai hak berdaulat untuk memanfaatkan sumber-sumber kekayaan alamnya sesuai dengan kewajibannya serta melindungi dan melestarikan lingkungan laut. Salah satunya melalui pengaturan air ballas dari setiap kapal yang beroperasi di wilayah perairan suatu negara,” ujar Rudiana.

Menurut Capt. Rudiana, pengendalian dan manajemen air ballas dan sedimen dari kapal merupakan suatu upaya untuk mencegah penyebaran spesies asing yang bersifat invasif atau seringkali dikenal juga sebagai organisme dan patogen akuatik yang berbahaya.

Konvensi Internasional untuk Pengendalian dan Manajemen Air Ballas dan Sedimen dari Kapal, menyatakan bahwa organisme dan patogen akuatik yang berbahaya adalah yang apabila dilepaskan di air laut termasuk estuari atau ke dalam aliran air tawar, dapat menyebabkan bahaya terhadap lingkungan, kesehatan manusia, properti atau sumber daya, merusak keanekargaman hayati, atau mengganggu pemanfaatan yang sah terhadap suatu area.

“Air ballas berperan penting menjaga keseimbangan kapal. Namun ketika air ballas dibuang di suatu area, organisme dan patogen yang ada di dalam air ballas tersebut juga ikut terbawa masuk ke dalam air laut di tempat tersebut,” katanya.

Kata Rudiana, organisme yang berasal dari tempat asal air ballas yang berbeda dengan organisme yang ada di tempat air ballas dibuang dikenal sebagai spesies asing. Beberapa studi menunjukkan bahwa spesies asing tersebut dapat menjadi spesies asing yang bersifat invasif dan mengakibatkan gangguan terhadap spesies lokal atau terhadap keseimbangan ekosistem di area tersebut.

Adapun pemberlakuan Konvensi Internasional untuk Pengendalian dan Manajemen Air Ballas dan Sedimen dari Kapal 2004, di Indonesia akan berdampak tidak hanya bagi Pemerintah Indonesia sebagai regulator, tetapi juga kepada industri pelayaran dan industri penunjangnya. Pelaksanaan Konvensi ini secara komprehensif di Indonesia memerlukan kerja sama antara regulator dan operator.

“Saya optimis bahwa kerja sama yang efektif dan berkesinambungan antara regulator dan operator di berbagai bidang yang berkaitan dengan pelaksanaan Konvensi ini akan bermanfaat bagi Indonesia,” tutup Rudiana.

Sebagai informasi, workshop ini merupakan langkah awal bagi regulator keselamatan pelayaran untuk memulai kerja sama dan implementasi Konvensi ini. Dengan adanya kegiatan ini dapat memberikan banyak inspirasi terhadap pentingnya meningkatkan keselamatan pelayaran dan perlindungan lingkungan maritim melalui pengendalian dan manajemen air ballas dari kapal. [NSS]

245 total views, 2 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *