Dukung Poros Maritim, STIP Siapkan Prodi Ilmu Pelayaran Untuk Strata Dua

Ketua STIP Capt. Sahattua Simatupang.

MARINDO–Tidak semua para pelaut menekuni pekerjaannya hingga usia pensiun. Dari sekira 850 ribu pelaut Indonesia, baik yang bekerja di kapal asing maupun kapal dalam negeri, sebesar 40 persen menghabiskan umurnya di atas kapal. Sementara sisanya atau sekitar 60 persen, mereka turun ke darat dan bekerja dengan beragam profesi.

Jumlah 60 persen ini dipastikan memiliki kualifikasi dan etos kerja yang tinggi dengan berbagai sertifikasi bertaraf global. Mereka sudah ditempa di atas kapal dengan berbagai ilmu pengetahuan di lapangan. Nah, berlatar itulah, Sekolah Tinggi llmu Pelayaran (STIP) Jakarta akan mengembangkan dan menampung para lulusan pelaut yang memilik pengalaman di atas kapal agar kembali masuk di jenjang pendidikan akademik di strata S2 atau S3 yang nantinya mereka bisa mengaplikasikan ilmunya di sektor kemaritiman lainnya.

“Kita sedang menuju Poros Maritim Dunia. Nah, para pelaut yang sudah bekerja di kapal selama katakanlah 10 atau 20 tahun, jika tidak mau bekerja sebagai pelaut, harus diberikan tambahan ilmu. Ini untuk mengisi jabatan-jabatan yang berkaitan dengan kemaritiman di dalam negeri, untuk menyiapkan dan mendukung poros maritim yang digagas Presiden Jokowi,” ujar Ketua STIP Capt. Sahattua Simatupang, di sela Coffee Morning STIP dengan para pelaku usaha dan stakeholder kemaritiman di Jakarta, Kamis (26/10/17).

Menurut Sahattua, saat ini STIP melaksanakan tingkat diploma untuk ilmu terapan rumpun pelayaran. Nantinya dari diploma ini bisa melanjutkan ke S2 dan S3 untuk rumpun pelayaran terapan. Gagas rumpun pelayaran bersifat akademik seperti S1, S2, dan S3, katanya, akan disamakan seperti apa yang sudah dimiliki oleh Universitas Maritim yang di Korea dan Jepang. “Ini yang akan kita kembangkan di STIP ke depan. Kalau rancangannya disetujui, paling tidak dua tahun ke depan sudah terealisasi,” ujarnya.

Gagasan ini menurut Sahattua sebenarnya sudah lama dirancang, tepatnya sejak tahun 2009. Ada dua strategi, pertama, sedang menyiapkan sumberdaya pengajarnya. Jika tidak ada di Indonesia, akan diturunkan dari luar negeri. Kedua, bisa saja dikerjasamakan dengan universitas yang sudah melaksanakan program studi linier rumpun ilmu pelayaran. Untuk hal ini STIP sudah melaksanakan penjajakan ke Korea dan berharap juga bisa melakukan penjajakan ke Jepang.

Nantinya para lulusan tersebut, lanjut Sahattua, bisa saja untuk mengisi jabatan-jabatan di perusahaan kepelabuhanan, pelayaran maupun galangan kapal. “Mereka kan sudah terasah baik secara praktik di atas kapal selama puluhan tahun, maupun secara akademik jika nantinya mereka dengan mengenyam kembali pendidikan,” tambahnya.

Lebih jauh Ketua STIP Jakarta itu juga menjelaskan, digelarnya Coffee Morning STIP adalah salah satunya bertujuan untuk menyampaikan informasi penyelenggaraan diklat baru di STIP kepada stakeholder.

Selain itu, untuk meningkatkan jumlah dan jenis kerjasama dengan para stakeholder berupa promosi, mendapatkan umpan balik (feedback) dari para stakeholder, meningkatkan kepercayaan masyaraakat akan program diklat yang diselenggarakan oleh STIP, pemberian apresiasi kepada perusahaan yang turut serta dalam pengembangan STIP, dan sebagai upaya menjalin sulaturahmi dengan perusahaan dan lembagga lainnya.

Pada kesempatan tersebut STIP juga memberikan penghargaan kepada stakeholder atas kerjasama yang selama ini dibangun. Stakeholder penerima penghargaan dari STIP ialah, PT. Jasa Armada Indonesia, Mitsui O.S.K Lines, Akademi Maritim Djadayat, PT. Abdi Mandiri Internasional, Anthony Veder, Benline Agencies, dan PT. Korin Global Mandiri. [NSS]

492 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *