Mendidik Calon Pelaut Indonesia Berorientasi Industri

Coffee Morning STIP, di antaranya membahas sistem pendidikan kepelautan berorientasi industri.

MARINDO—Tingginya permintaan pelaut dunia menjadi peluang sekaligus tantangan bagi pelaut Indonesia. Untuk itu, sistem pendidikan dan pelatihan kepelautan nasional harus memiliki kompetensi yang tinggi agar mampu bersaing di kancah global.

Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Capt. Sahattua Simatupang dalam Coffee Morning STIP, di Jakarta, Kamis (26/10/17) mengatakan, untuk peningkatan daya saing pelaut Indonesia saat ini, maka yang perlu mendapat fokus perhatian adalah aspek infrastruktur dan metode pendidikan di lembaga pendidikan pelaut. Lembaga pendidikan seperti sekolah kepelautan dan lembaga pelatihan harus terus ditingkatkan kompetensinya.

“Dalam rangka meningkatkan daya saing, maka perlu dilakukan peningkatan tata kelola dan tata laksana pendidikan pelaut dengan menggunakan sistem manajemen yang berorientasi pada industri serta meningkatkan karakter calon pelaut dengan menyusun pola pembinaan dan pendidikan tinggi pelayaran berkarakter industri,” ujar Sahattua di sela acara coffee morning tersebut.

Menurut Sahattua, mencetak lulusan para pelaut berkompetensi tinggi yang diminta oleh dunia industri global, telah dilakukan STIP sejak lama. Bahkan dalam waktu dekat, sistem pendidikan di dalam asrama akan diselaraskan dengan kondisi seperti berada di pelabuahn atau di atas kapal. “Nanti kalau masuk ke STIP, jika sudah selesai projeknya, maka seperti masuk ke pelabuhan dan kapal. Di sana ada sistem ISPS yang diterapkan, bahkan sampai ke bak sampah pun menggunakan bak sampah seperti di kapal,” terang Sahattua.

Dijelaskan, langkah-langkah seperti ini merupakan upaya menuju para calon pelaut berorientasi industri. Langkah-langkah tersebut seperti menerapkan manajmemen ISO 9000 dan 14000, sistem manajemen ISPS, sistem manajemen keselamatan ISM Code, penerapan K3S pada sistem pelayanan dan lainnya. “Nah, itu yang akan kami terapkan untuk STIP di dalam asrama dan kampus, sehingga nanti jika terjun di dunia kerja sudah terbiasa dengan penerapan seperti itu,” tambahnya.

Sebagai catatan, saat ini dari sekitar 1,6 juta pelaut dunia, sekira sepertiganya diisi oleh para pelaut merah putih. Indonesia berada pada urutan kelima setelah China, Filipina, Rusia dan India. Dari jumlah sekira 850 ribu pelaut Indonesia, separuhnya bekerja di kapal asing.

Menurut Sahattua, tiap tahunnya STIP meluluskan sebanyak 350 orang dengan langsung terserap di dunia industri pelayaran baik di dalam maupun di luar negeri. “Lulusan kami prestisius dan merupakan lulusan berstandar dunia. Lulusan kami mampu bersaing di tingkat global dan telah beroreientasi industri,” papar Sahattua. [NSS]

417 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *