BEDAH KAMPUNG NELAYAN : Mengajak Nelayan Hidup di Lingkungan Bersih dan Sehat

Surip, berpose di depan rumahnya, di Desa Lohgung, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan. Rumah Surip satu di antara lima rumah yang akan dibedah dalam kegiatan Bedah Kampung Nelayan KKP.

MARINDO—Rumah Surip, warga kampung nelayan di Desa Lohgung, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, memang sudah tidak layak huni. Rumah yang biliknya terbuat dari anyaman bambu itu sudah bolong di sana-sini. Yang lebih memprihatinkan, rumah itu sudah tampak miring, didorong oleh kekuatan tangan beberapa orang pun bisa roboh. Masih beruntung ada rumah lain di sampingnya, sehingga bisa tertahan jikapun ada angin besar yang datang dari arah laut.

Surip (57) yang hidup bersama isteri dan dua anaknya (dua anak lainnya sudah berumah tangga) menerangkan kepada Maritim Indonesia, jika hujan disertai angin, bilik rumah yang anyaman bambunya sudah bolong-bolong itu, terkadang tak mampu menahan tempias air hujan. “Ya, bagaimana lagi memang belum mampu untuk membangun rumah bagus seperti orang-orang,” ujarnya di sela acara Bedah Kampung Nelayan di Desa Lohgung, Kecamatan Brondong, Lamongan, pada Minggu (29/10/17).

Surip yang nelayan rebon (penangkap udang kecil untuk bahan baku terasi dan teri udang) hanya menghasilkan Rp 50 ribu tiap harinya. Uang sebesar itulah untuk menghidupi isteri dan dua anaknya. Jika tidak musim rebon, maka ia akan ikut perahu milik orang dengan peroleh yang tidak pasti juga. Jika nasib sedang baik antara Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu bisa diperoleh dalam sehari semalam. Namun terkadang harus pulang dengan tangan hampa. Di musim angin barat, praktis ia tidak bisa melaut.

Selain Surip, di Desa Lohgung ada empat rumah lainnya yang dibedah oleh Direktorat Perizinan dan Kenelayanan, Ditjen Perikanan Tangkap, KKP, pada acara Bedah Kampung Nelayan yang dilaksanaan selama dua hari itu (28-29 Oktober 2017). Empat rumah lain yang terpilih berdasarkan kondisi faktual dan rekomendasi Pemerintah Desa Lohgung, masing-masing milik nelayan Aryanto, Ngadi, Sadikin, dan Wiyono. Ke-5 nelayan tersebut adalah nelayan yang memiliki Kartu Nelayan dan juga masuk dalam program Asuransi Nelayan KKP.

Direktur Perizinan dan Kenelayanan KKP Ir Saifuddin MMA, saat dihubungi Maritim Indonesia menuturkan, program bedah rumah nelayan bertujuan membantu meringankan nelayan yang tidak mampu merehab rumahnya yang sudah tidak layak huni. Bantuan bedah rumah diberikan berupa penyediaan bahan material bangunan rumah seperti kayu, GRC, cat dan lainnya, termasuk jasa tukang bangunan. “Memang lima rumah untuk satu perkampungan nelayan belumlah cukup, tapi inilah bentuk kepedulian kami terhadap nasib nelayan yang belum mampu,” kata Saifuddin.

Lebih jauh Saifuddin mengungkapkan, bedah rumah tidak hanya di Desa Lohgung, tapi juga telah dilakukan di beberapa rumah nelayan lain. Masing-masing lima rumah di Serang-Banten, Pemangkat-Kalimantan Barat, Banyuasin-Sumatera Selatan dan rencananya akan dilaksankan di Wakatobi-Sulawesi Tenggara.

Sosialisasi Kegiatan Kenelayanan dan Pola Hidup Sehat Nelayan di Desa Lohgung, Brondong, Lamongan.

Bedah Rumah Nelayan adalah bagian dari program Bedah Kampung Nelayan yang merupakan salah satu program unggulan Direktorat Perizinan dan Kenelayanan, Ditjen Perikanan Tangkap, Kementerian Kelautan dan Perikanan. Inti kegiatan Bedah Kampung Nelayan meliputi kegiatan sosialisasi kegiatan kenelayanan dan pola hidup sehat, Gerakan Aksi Bersih dan Gotong Royong Kebersihan Kampung Nelayan serta Bedah Rumah Nelayan yang tadinya tidak layak huni menjadi layak huni. Seperti halnya Bedah Rumah Nelayan, program Bedah Kampung Nelayan juga dilaksankan di lima lokasi tersebut di atas sebagai pilot project program.

Terang saja, lingkungan yang kumuh dengan perilaku yang jorok seolah telah menjadi stigma masyarakat di perkampungan nelayan. Namun bukan berarti stigma itu menjadi kata “baku”. Seiring perkembangan zaman, ketika nelayan dituntut menggunakan teknologi alat penangkapan ikan modern, nelayan pun tentunya dituntut menjaga kebersihan lingkungan dan perkampungan mereka.

Tetapi mengajari nelayan untuk hidup sehat dengan lingkungan yang bersih memang gampang-gampang susah. Kondisi perkampungan kumuh dan tidak tertata telah menjadi bagian kehidupan masyarakat di sana sejak puluhan atau mungkin ratusan tahun lalu. Perlu kehati-hatian dan sikap aspiratif. Dan ini adalah satu di antara tugas pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Hal inilah, kata Saifuddin, yang menodorong Direktorat Perizinan dan Kenelayanan, Ditjen Perikanan Tangkap, Kementerian Kelautam dan Perikanan, mengadakan sosialisasi kegiatan kenelayanan dan bedah kampung nelayan di Desa Lohgung, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, pada 28-29 Oktober 2017, dan di empat lokasi lainnya.

“Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan penyadaran bersama bagi warga kampung nelayan terhadap pentingnya bergotong royong, menciptakan kawasan kampung nelayan yang bersih, sehat, nyaman dan meningkatkan kualitas hidup keluarga nelayan. Dan juga bisa menjadi contoh baik bagi kawasan kampung nelayan di seluruh Indonesia,” ujar Saifuddin.

Ngadris, nelayan warga Desa Lohgung yang juga satu peserta aksi bersih kampung nelayan mengatakan, aksi ini akan mendorong nelayan Lohgung untuk hidup bersih dan menjaga kebersihan kampung. Kata Ngadris, di desanya untuk sering melakukan bersih-bersih kampung seperti got dan saluran air, namun belum dilakukan secara massal. “Kegiatan ini penting karena untuk kebersihan dan kesehatan kampung kami,” ujar Ngadris.

Kepala Desa Lohgung, Siyar, mengungkapkan, program ini dirasakan sangat membantu masyarakat Desa Lohgung, khususnya dalam penyadaran akan pentingnya makna kesehatan dan kebersihan. “Alhamdulilah ini membantu kami sehingga jika kami nanti mengumpulkan warga pada tiap bulan sekali yang selama ini kami lakukan, bisa diikuti dengan kesadaran oleh warga Desa Lohgung,” ujar Siyar. Kades Siyar juga berteriama kasih dengan program Bedah Rumah Nelayan sehingga membantu nelayan yang tidak mampu merehab rumahnya yang sudah tidak layak huni.

Namun menurut Siyar permasalahan yang dihadapi oleh nelayan di Desa Lohgung adalah hampir sama apa yang dialami oleh masyarakat desa nelayan lainnya, yakni soal harga jual ikan yang rendah. Pasalnya, sebelum berangkat melaut nelayan sudah punya tanggungan kepada juragan. “Untuk soal ini jujur saja kami sulit mencari solusinya, apaka perlu dilakukan lelang murni begitu atau bagaimana, sehingga harga jual ikan jadi lebih baik buat nelayan,” kata Siyar, seraya menyebutkan bahwa 60 persen dari 3.600 warga Desa Lohgung adalah berprofesi sebagai nelayan kecil.

Sementara itu dokter Ufa dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Lamongan mengatakan, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) seperti bersihnya lingkungan akan mempengaruhi kehidupan ekonomi penghuninya. “Kalau lingkungan sehat bibit penyait pun akan menjauh. Tapi jika tidak, penyakit pun akan mendekat. Dan jika kita tidak sehat sedikit banyak akan mempengaruhi kehidupan ekonomi kita,” ujar Ulfa.

Kegiatan aksi gotong royong bersih-bersih kampung nelayan di Desa Lohgung.

Kegiatan Sosialisasi Kegiatan Kenelayanan dan Pola Hidup Sehat Nelayan di Desa Lohgung ini diikuti sekitar 120 peserta. Sementara Kegiatan Aksi Bersih Gotong Royong diikuti warga kampung nelayan mencapai 350 orang. Warga juga melibatkan ibu-ibu dan anak-anak mengingat pelaksanaan pada hari libur. Turut terlibat juga peran instansi terkait seperti personil dari Dinas Kelautan dan Perikanan Prop. Jawa Timur, Dinas Perikanan Kab. Lamongan, PPN Brondong, Satker PSDKP Brondong, TNI Koramil Brondong, Polsek Brondong, Polair, jajaran Kecamatan Brondong dan Desa Lohgung, serta para penyuluh perikanan.

Kegiatan ini diakhiri dengan komitmen bersama warga masyarakat kampung nelayan Desa Lohgung untuk siap melanjutkan gerakan aksi bersih yang diinisiasi KKP secara reguler, terjadwal dan berkelanjutan. [redaksi]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *