Perlu Libatkan Masyarakat Secara Massal Tangani Masalah Sampah

Sampah jadi ancaman lingkungan laut. Perlu penanganan secara komprehensif.

MARINDO–Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman (Kemenko Maritim) akan libatkan lebih banyak masyarakat, khususnya para generasi muda dan berbagai Komunitas Pecinta Lingkungan, untuk bersama-sama beraksi dalam menangani permasalahan sampah.

Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Manusia, IPTEK dan Budaya Maritim Kemenko Maritim, Safri Burhanuddin mengatakan, Pemerintah akan selalu mendukung dan mengarahkan mereka dan juga akan mengkoordinasikan berbagai Komunitas Pecinta Lingkungan dan seluruh stake holder untuk bergerak bersama dalam menangani masalah sampah.

“Yang hadir disini adalah masyarakat generasi muda, para anak muda yang akan menjadi motor di daerahnya masing-masing. Kita harap mereka menjadi penggerak, kalau mereka berfungsi dengan bagus dan bergerak dengan efektif, maka tugas Pemerintah akan lebih mudah,” ujar Safri saat memberikan kata sambutan di acara International Youth Marine Debris Summit (IYMDS), digelar di Ancol, Jakarta, 24-29 Oktober 2017, pada Jumat (27/10).

Safri merasa optimis dengan antusiasme ke 70 peserta IYMDS yang datang dari 34 Provinsi tersebut. Menurut pengamatannya, semangat yang terlihat dari para peserta tidak dibuat-buat dan murni spirit dari hati para peserta. Dirinya juga menuturkan, bahwasanya  “Saya optimis dengan mereka, karena bisa dilihat sampai malam seperti ini mereka tetap semangat artinya semangat mereka itu dari dalam hati dan tidak dibuat-buat,” tambahnya.

Terkait dengan aksi bersih sampah yang sebelumnya dilaksanakan oleh para peserta IYMDS di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, Kepala Suku Dinas (Kasudin) Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kepulauan Seribu, Yusen Hardiman mengaku sangat senang dan mengapresiasi aksi dari para anak muda tersebut. Yusen lalu menjelaskan berbagai permasalahan yang ada di daerahnya.

Menurut data yang Ia miliki, Kepulauan Seribu menghasilkan 13-20 ton sampah per hari, dan sampah itu datang dari 3 sumber utama, yaitu, sampah dari penduduk, sampah dari wisatawan dan sampah kiriman dari sungai-sungai di daerah Jakarta, Tangerang dan Bekasi. Sudin Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kepulauan Seribu sebenarnya sudah mempunyai berbagai infrastuktur guna menanggulangi masalah sampah, di antaranya dengan adanya armada kapal sampah sebanyak 20 unit lebih dan puluhan bank sampah. Akan tetapi problem sebenarnya, lanjut Yusen, adalah bagaimana cara ampuh untuk merubah perilaku masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan.

“Kapal sampah kami ada 20 lebih, namun semua ini belum dapat menanggulangi, namun cara penekanan kami adalah ada edukasi dengan membentuk bank sampah, bank sampah kita ada hampir 10, secanggih-canggihnya infrastuktur, kalau tidak didukung oleh perilaku masyarakat, maka tetap nyampah. Jadi yang paling penting memang bagaimana kita merubah perilaku masyarakat,” tuturnya.

Semua pihak lantas menyerukan, selain kampanye 3R (reduce/pengurangan, reuse/pemanfaatan kembali dan recycle/daur ulang) juga harus ditunjang dengan kampanye 3E (energy/mengubah sampah menjadi energy, education/pendidikan kepada masyarakat dan enforcement/penindakan). Enforcement dipandang sebagai hal yang penting, sebab seakan mustahil Indonesia akan bersih tanpa adanya penindakan hukum tegas terhadap para pencemar lingkungan.[red]

 

456 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *