KJA Offshore Bisa Bangkitkan Ekonomi Masyarakat Pesisir

Salah satu model keramba jaring apung (KJA)

MARINDO–Usaha budidaya keramba jaring apung (KJA) bukanlah hal asing bagi dunia perikanan di Indonesia. Selama ini sering dilalukan di danau, sungai atau pantai berteluk. Tetapi jika lokasi usaha tersebut dilakukan di lepas pantai (offshore), baru tahun ini dikembangkan oleh Ditjen Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Periaknan (KKP)

Slamet Soebijakto, Dirjen Perikanan Budidaya KKP, mengungkapkan, teknologi KJA super intensif secara keseluruhan mengadopsi teknologi ala Norwegia. Karakteristik perairan Indonesia dinilai sangat cocok untuk pengembangan budidaya laut sistem ini. Sehingga diharapkan akan mampu mendorong optimalisasi pemanfaatan potensi budidaya laut Indonesia.

Terang saja, luas potensi pengembangan budidaya laut di Indonesia mencapai 12 juta hektar, di mana total luas pemanfaatannya hingga saat ini baru mencapai ± 285.527 hektar atau sekitar 2,36%. Sehingga peluang pemanfaatan ekonomi budidaya laut masih sangat besar dan berpotensi mendongkrak perekonomian nasional.

“Tahun 2017 KKP telah mengembangkan budidaya lepas pantai di tiga lokasi yakni di Kota Sabang Propinsi Aceh, Kabupaten Pangandaran Propinsi Jawa Barat; dan Kepulauan Karimunjawa Propinsi Jawa Tengah,” ujar Slamet dalam tiap kesempatan.

Seperti diketahui, Norwegia merupakan eksportir produk perikanan nomor 2 terbesar dunia, di mana industri akuakultur memberikan kontribusi paling besar. Upaya transfer teknologi ini menjadi penting bagi Indonesia sebagai acuan dalam melakukan pengelolaan budidaya laut secara berkelanjutan dengan nilai tambah ekonomi yang lebih besar.

Slamet menjelaskan, disebut teknologi tinggi karena seluruh teknologi yang digunakan didesain dengan baik, sehingga memungkinkan pengelolaan secara efisien, terukur dan ramah lingkungan. Ia juga menilai dari sekian banyak teknologi budidaya lepas pantai, Indonesia dan Vietnam merupakan negara di Asia Tenggara yang mengadopsi teknologi ala Norwegia ini.

Sebagai gambaran, budidaya laut lepas pantai ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas modern antara lain, kapal kerja (working vessel) yang dilengkapi dengan crane untuk membantu proses panen dan pemeliharaan KJA, feeding barge dan feeding system yang memungkinkan pemberian dan kontrol pakan secara otomatis, KJA sebanyak 8 lubang per unit dengan volume masing-masing 5.100 m3,  dan fasilitas penunjang lainnya.

Melalui pengelolaan sistem produksi yang memadai, katanya, produktivitas budidaya diharapkan hingga mencapai 95 ton per lubang per siklus. Dengan demikian, KKP menargetkan melalui pengembangan KJA off-shore di tiga lokasi tersebut akan menghasilkan produksi ikan kakap putih hingga mencapai 2.160 ton per tahun dengan nilai ekonomi mencapai 151,2 milyar per tahun. 

Bak tempat pembenihan ikan kakap putih di BBAP Ujung Batee, Aceh. BBAP disiapkan sebagai  salah satu pemasok benih untuk usaha KJA offshore di Sabang.

Pengembangan KJA-offshore ini akan memberikan multiplier effect bagi masyarakat melalui usaha pada proses produksi pendederan di tambak maupun KJA milik masyarakat. Dari proses segmentasi ini akan membuka peluang kesempatan usaha bagi setidaknya 1.450 orang petambak dan akan memicu tumbuhnya tambak-tambak.

Khusus untuk pengembangan KJA offshore di Sabang saja, misalnya, diperkirakan akan membutuhkan 1,2 juta benih ikan kakap putih per siklus (per dua bulan sekali). Tentunya ini akan menjadi peluang usaha pembenilhan dan pendederan bagi masyarakat. Pasalnya, saat ini BBAP Ujung Batee baru memproduksi benih kakap putih 250 ribu ekor benih per tahun.

“Dengan adanya KJA offshore ini menjadi tantangan bagi kami untuk terus memacu produksi karena permintaan benih untuk offshore ini pastinya akan tinggi. Ini juga sekaligus akan menumbuhkan pembenihan dan pendederan di tingkat masyarakat,” ujar Kepala BBAP Ujung Batee M. Tohang yang diwakilkan oleh Kepala Seksi Pengujian dan Dukungan Teknik BBAP Jalaluddin kepada Maritim Indonesia di kantornya, di BBAP Ujung Batee, Aceh, pada Sabtu (2/12/17).

Menurut Jalal, mengantisipasi tingginya permintaan benih ikan kakap putih untuk KJA offshore ini, Balai Budidaya Perikanan Air Payau (BBAP) Ujung Batee, Aceh, akan membina masyarakat kelompok pembenihan dan pendederan ikan kakap putih di sekitar pesisir Aceh.

“Saat ini produksi memang masih kecil karena permintaan untuk benih kakap putih belum tinggi. Namun jika KJA offshore ini berjalan optimal, bukan hanya balai tapi masyarakat juga akan terpacu untuk memenuhi permintaan benih nantinya,” terang Jalaluddin.

Kata Jalaluddin, untuk usaha KJA offshore biasanya akan membutuhkan bibit ikan di atas 15 cm atau setara dengan 1 ons. Sementara saat ini BBAP baru memasok untuk para pembudidaya KJA di darat atau danau dengan ukuran 1 cm hingga 10 cm. Untuk keramba di perairan teluk atau danau akan membutuhkan bibit antara 10 cm sampai 20 cm.

Bahkan Jalal memprediksi dengan adanya KJA offshore ini akan memgalihkan masyarakat yang selama ini berusaha di udang windu ke usaha pendederan ikan kakap putih. “Bisa saja itu terjadi karena permintaan benih untuk KJA akan tinggi,” jelasnya.

Dirjen Slamet manambahkan, KKP akan menggandeng BUMN perikanan sebagai penyangga pasar, di mana produk hasil panen segar (fresh product) nantinya akan diolah menjadi produk fillet dengan orientasi pasar ekspor ke berbagai Negara, antara lain Uni Eropa, Amerika, Australia, Jepang, dan Timur Tengah.

“Diversifikasi produk ikan kakap diharapkan secara langsung akan menaikan nilai tambah ekonomi. Dalam tataran perdagangan global, Indonesia mengincar sebagai pemasok utama pangsa pasar kakap dunia,” harap Slamet. (tim)

633 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *