Ayo, Indonesia Bisa Jadi Raja Pasar Ikan Hias Dunia

Menteri Susi pada penutupan pameran ikan hias internasional di BSD Serpong Tangerang, Banten.

MARINDO–Data tahun 2016 menunjukkan Indonesia merupakan eksportir ikan hias nomor 5 di dunia yang mampu mengambil pasar hingga 7,13 persennya. Namun jumlah ini masih kalah dari Singapura yang merupakan eksportir utama di dunia yang mencapai angka 12, 44 persen. Celakanya, ikan yang diekspor oleh Singapura adalah ikan produksi Indonesia.  

Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam dan Jasa Kemenko Maritim Agung Kuswandono mengatakan, untuk mengekspor ikan hias Indonesia harus melewati Singapura terlebih dahulu. Hal inilah yang menyebabkan pamor Singapura lebih memuncak dari Indonesia dalam industri ikan hias. “Padahal sumberdaya ikan hias ya Indonesia punya segalanya,” ujarnya pada penutupan pameran Ikan Hias Internasional (2nd Indonesia Ornamental Fish & Aquatic Plant Show) Nusantara Aquatic (Nusatic) 2017 di ICE BSD Tangerang, Sabtu (2/12). 

Hal senada diungkapkan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudiastuti. Menurut Susi, Indonesia bisa lebih unggul dari Singapura jika menilik potensi ikan hias Indonesia. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) siap membantu memajukan industri ini. Untuk itu, dibutuhkan kerja sama antar berbagai pihak khususnya di bidang penanganan khusus, mulai dari penangkaran, pembudidayaan, perizinan, hingga transportasi agar ikan hias bisa diantar dalam keadaan hidup.

Kata Susi, ini sudah terlihat pada tren nilai ekspor ikan hias dunia pada 10 tahun terakhir yaitu sejak 2007 hingga 2016. Singapura mengalami tren negatif 4.47% per tahun. Sementara itu, Indonesia mengalami tren positif sebesar 15.17% per tahunnya.

“Masa negara yang lebih besar 100 kali dari Singapur, pemasarannya harus bergantung dengan negara yang 100 kali lebih kecil dari kita. Untuk itu kita bisa bekerja sama, KKP siap membantu apa saja yang diperlukan. Para pengusaha di sini bisa kita undang dalam business forum, kita bantu display, bantu marketing hasil produksi, apa saja yang diperlukan untuk menjadikan Indonesia nomor satu di bisnis ini,” kata menteri nyentrik ini.

Andalkan budidaya

Untuk mendorong produktivitas perikanan di Indonesia baik itu ikan hias maupun ikan konsumsi, Menteri Susi mendorong tiap stakeholder untuk mulai melakukan budidaya mengurangi ketergantungan suplai dari  alam. Tak hanya ketergantungan kita terhadap suplai di alam, Menteri Susi menyayangkan masih maraknya praktik penangkapan ikan dengan cara destructive (merusak). Hal ini justru semakin menggerus sumber daya perikanan Indonesia.

“Saya berharap Nusatic menjadi salah satu pendukung pemerintah untuk memperkenalkan sumber hayati laut yang berkelanjutan, terus banyak ikannya supaya kita bisa panen, industri bisa untung, nelayan juga bisa untung, jadi kalau pemerintah membuat aturan bukan untuk memberhentikan bisnis, tapi untuk memajukan bisnis itu untuk ke depannya,” ungkap Susi.

Sebagai informasi, rangkaian acara yang digelar selama tiga hari hingga Minggu (3/11) ini telah dihadiri sebanyak 3.061 orang pengunjung dan diharapkan hingga hari terakhir mampu mencapai terget pengunjung sebanyak 4 ribu orang.  Adapun dalam acara ini turut diselenggarakan pemberian penghargaan kepada pemenang kontes ikan hias pada  8 jenis ikan hias yang diperlombakan yakni ikan Koi, Koki, Louhan, Arwana, Betta, Discus, Guppy ,dan Killifish serta kontes aquascape terbaik. Dalam acara tersebut Menteri Susi  berkesempatan memilih pemenang untuk  kategori ikan Koi.

“Bagus-bagus semua, tapi harus memilih satu. Jadi saya pilih yang (warnanya) merah-putih karena mewakili Indonesia,” ungkapnya. [tim]

493 total views, 14 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *