Melalui SKPT, Sabang Siap Jadi Pusat Bisnis Perikanan Tuna

Pembangunan kawasan SKPT Sabang sebagai pusat bisnis perikanan di Kota Sabang (foto sufri/kkp)

MARINDO–Pada perhelatan puncak Sail Sabang 2017 yang digelar pada 3 Desember 2017 lalu, Gubernur Aceh Irwandi Yusuf dalam sambutaannya meminta pemerintah pusat menjadikan Sabang sebagai pusat perikanan tuna dunia. Letak Sabang yang mengarah ke Samudera Hindia dan Selat Malaka memberi peluang terhadap pengembangan produk perikanan tuna menjadi nomor satu, paling tidak di Asia Tenggara.

Harapan Gubernur Irwandi memang tidak berlebihan. Pasalnya, Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Sabang telah mencatat total potensi lestari sumberdaya ikan di perairan Sabang mencapai 78.068 ton per tahun dengan nilai ekonomi diperkirakan mencapai Rp 2,3 triliun per tahun. Potensi tersebut didominasi oleh produksi ikan tuna tongkol dan cakalang (TTC). Sementara di utaranya ada Selat Malaka yang membentang sebagai jalur perdagangan, yang bisa mengirimkan langsung hasil produk perikanan ke seluruh penjuru dunia.

Namun rupanya program Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) telah digulirkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sebelum Gubernur Irwandi melontarkan gagasan tersebut. Program yang memadukan bisnis perikanan secara komprehensif, mulai dari hulu sampai hilir, ini didorong karena potensi yang besar di Sabang tetapi tidak dimanfaatkan secara optimal. Padahal di sana ada kawasan Pelabuhan Bebas Sabang yang dikelola oleh Badan Pengelola Pelabuhan Kawasan Sabang (BPKS) sebagai pintu gerbang ekonomi di sana.

Direktur Perbenihan, Ditjen Perikanan Budidaya KKP yang juga penanggung jawab program SKPT di Sabang, Coco Kokarkin Soetrisno mengungkapkan, Sabang merupakan wilayah yang ‘setengah jadi’ karena semua infrastruktur seperti jalan, listrik, air tawar, dan tentunya pelabuhan yang sudah ready. Namun sayang, ekonomi di sana tidak berkembang dengan baik karena tidak ada aktivitas masyarakat secara berkala, kecuali pada musim-musim tertentu seperti kunjungan turis kapal pesiar.

Coco Kokarkin Soetrisno

Berlatar itulah KKP menggelontorkan program SKPT di Sabang dengan mengembangkan sistem logistik rantai dingin dan akan memperkuat jumlah ikan yang didaratkan di sana. Program tersebut dimanifestasikan melalui bantuan kapal, pembangunan ICS (Integarated Cold Storage), Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan juga ice flake machine. Sementara kolam pendaratan ikan dan break water telah dibangun sebelumnya oleh Pemerintah Kota Sabang. Maka lengkaplah menjadi sebuah kawasan bisnis perikanan secara terpadu.

“Kami melihat jumlah kapal yang sudah ada, tapi ikan justru yang belum mendarat di sana, karena harga yang terbaik malah di Lampulo (Banda Aceh). Juga nelayan-nelayan di sana harus menjual ikan ke Banda Aceh. Nah, kami berharap dengan adanya ICS dan Ice Flake Machine, ikan yang mendarat di Sabang adalah ikan berkualitas satu,” ujar Coco kepada Maritim Indonesia di ruang kerjanya, di GMB IV Jakarta, pada Senen (4/12/17).

Terkait dengan SKPT tersebut, KKP juga menurut Coco akan mengundang para pembeli ikan dengan grade satu untuk datang ke Sabang. Ada beberapa pembeli nantinya yang siap membeli hasil ikan yang didaratkan di kawasan SKPT Sabang, salah satunya dari Singapura yang sudah dilakukan penjajakan. Sementara dari Malaysia, Thailland dan Taiwan akan dilakukan pada tahun berikutnya (2018). “Yang penting hasil produksi ikan itu kualitasnya bagus, maka harga akan mengikutinya,” katanya.

KKP memang telah menggelontorkan anggaran untuk Program SKPT sebesar Rp 57 milyar dan diharapkan pada 2018 sudah bisa beroperasi sebagai pusat kegiatan perikanan secara terintegrasi. Di sana, selain dibangun ICS berkapasitas 100 ton dan ice flake machine berkapasitas 10 ton, KKP juga memberikan bantuan 30 kapal berbobot 5 GT bagi sejumlah koperasi nelayan Sabang. Nantinya ikan yang ditangkap akan didaratkan di kawasan itu, lalu dibawa ke ICS, diolah atau dibekukan di sana. Sebelumnya bagi kapal yang akan berlayar pun dibekali perlengkapan melaut seperti es, logistik dan lainnya.

Selain untuk bisnis sektor perikanan tangkap, SKPT Sabang juga merambah untuk usaha budidaya. Usaha yang dikembangkan adalah keramba jaring apung (KJA) offshore atau lepas pantai dengan komoditas ikan kakap putih sebagai andalannya. Untuk pengerjaan KJA offshore ini, KKP bekerjasama denan pemerintah Norwegia. Hasil dari produksi KJA tersebut pun akan masuk ke kawasan SKPT untuk diolah sebelum diekspor melalui Pelabuhan Sabang.

Libatkan lulusan SUPM

Untuk pembangunan 30 kapal berbobot 5 GT bagi nelayan Sabang dipastikan pada akhir Desember 2017 telah selesai dan awal tahun 2018 telah diserahkan kepada koperasi nelayan penerima. PT Kharisma Mister Marine, sebagai pembuat kapal, tengah mengebut pembangunan kapal tersebut. Beberapa pekerja sudah memasangi kapal-kapal fiber glas itu dengaan mesin dan sebagian menyelesaikan finishing body kapal.

“Harus sudah selesai akhir Desember tahun ini. Kalau tidak kita kena finalti. Makanya akan kami tambah lagi para pekerjanya hingga 90 orang supaya bisa mengejar bulan ini,” ujar Yanto Priyanto, pengawas pembuatan kapal dari perusahaan yang berlokasi di Tangerang itu. Pembuatan kapal sendiri dilakukan di Pelabuhan Balohan, Kota Sabang, untuk mendekatkan dengan calon penerima bantuan.

Pembangunan 30 kapal untuk nelayan Sabang (foto sufri/kkp)

Hal yang sama pun dilakukan pada pembangunan gedung TPI, ice flake machine dan ICS. Berdasarkan pengamatan di lapangan, pembangunan kawasan ini dikebut untuk mengejar target hingga akhir Desember tahun ini, sehingga pada awal tahun 2018 sudah bisa digunakan.

Lebih jauh Coco mengungkapkan, untuk mendukung operasional penangkapan ikan di Sabang, akan mendatangkan para nelayan baru ke sana. Mereka adalah para lulusan SUPM (Sekolah Usaha Perikanan Menengah) baik dari jurusan penangkapan ikan dan permesinan, yang nota bene juga putra-putra dari Aceh. “Ini kami lakukan untuk mendukung supaya harus ada aktivitas penangkapan ikan secara terus menerus di sana, untuk mendukung para nelayan Sabang,” terang Coco.

Ada kekhawatiran bagi Coco jika kawasan SKPT sudah terbangun, tapi tidak ada aktivitas secara berkala dari para nelayan karena dilandasi kultur masyarakat nelayan Sabang yang tidak melaut tiap hari dengan berbagai alasan. “Kultur nelayan di sana biasanya kalau mash ada uang tidak mau melaut. Nah, kalau uang sudah habis baru melaut. Ini yang harus kami antisipasi dengan mengundang para nelayan baru datang di sana. Para nelayan di sana pun setuju dengan bagi hasil jika kapalnya dioperasikan orang lain,” papar Coco.

Kawasan SKPT Sabang sendiri memiliki luas 2,2 hektar, di mana lahannya merupakan pemberian dari Pemerinah Kota Sabang. Coco menjamin jika program ini berjalan dengan optimal, maka sektor perikanan bisa membangkitkan pereknomian Sabang, selain dari sektor pariwisata bahari.

Sebagai gambaran, hasil tangkapan ikan TTC di Sabang, saat ini banyak dibawa ke Banda Aceh, tepatnya didaratkan dan dipasarkan di TPI Lampulo dengan berbagai kualitas ikan, sebelum diekspor melalui Pelabuhan Belawan, Medan. Jika SKPT sudah berjalan, katanya, tidak perlu lagi dibawa ke Lampulo dan ekspor lewat Medan, tetapi bisa didaratkan di kawasan SKPT dan diolah di sana, sebelum dikapalkan ke luar melalui Pelabuhan Sabang (Pelabuhan BPKS).

“Jadi pendekatanya hidupkan dulu muaranya (perdagangan) lalu hulunya (berbagai fasilitas) kita sediakan. Jangan hulu ada, tapi perdagangan dilepas. Ini nanti pedagang perantara yang main dan diuntungkan di sana. Dia kan tak memperhatikan kualitas ikan, ikan busuk pun ditampung. Kita tidak ingin seperti itu,” tutup Coco. [tim]

 

508 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *