Lima Tahun Terakhir, Nilai Ekspor Produk Perikanan Indonesia Alami Kenaikan  

Dirjen Penguatan Daya Saing Produk KP Nilanto Perbowo.

MARINDO–Kebijakan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang kontroversial ternyata tidak berdampak buruk bagi ekspor produk perikanan. Hal ini terlihat dari tren nilai ekspor hasil perikanan Indonesia ke berbagai negera, khususnya ke Amerika Serikat, mengalami kenaikan.

Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP Nilanto Perbowo mengungkapkan, tren nilai ekspor hasil perikanan indonesia memgalami peningkatan dan cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan beberapa negara pesaing seperti Thailand, Viet Nam, China, dan Philipina.

Pada periode Januari-Oktober 2012-2017, kata Nilanto, nilai ekspor naik 2.99%, impor naik 1.03%, neraca naik 3.34% dengan rerata nilai impor terhadap nilai ekspor sebesar 10.56%. Sementara volume ekspor turun 2.77%, volume impor naik 1.4%, dengan rerata presentasi volume impor terhadap ekspor sebesar 29.10%.

“Meskipun terjadinya penurunan volume ekspor tidak mempengaruhi peningkatan nilai ekspor. Hal ini disebabkan meningkatnya harga ekspor, produk memiliki nilai tambah atau produk yang mengalami penurunan volume berasal dari produk yang memiliki harga rendah atau under value,” jelas Nilanto dalam keterangannya kepada wartawan di kantor KKP Jakarta, Jumat (15/12/17).

Kata Nilanto, tren kenaikan pada periode Januari-Oktober tahun 2016-2017 terjadi pada komoditas utama seperti udang, tuna-tongkol-cakalang (TTC), rajungan-kepiting (RK), cumi-sotong-gurita (CSG) dan rumput laut (RL) dengan proporsi terhadap total sekitar 76,6% (nilai) atau 67,3% (volume) dengan tren pertumbuhan positif 8.70% (nilai) atau 3.77% (volume).

Sementara negara tujuan utama ekspor perikanan Indonesia antara lain, USA, Jepang, Asean, China dan Uni Eropa dengan proporsi terhdap total sekitar 85.3% (nilai) atau 84.6% (volume) dengan tren pertumbuhan positif 8.18% (nilai) atau 0.19% (volume) pada periode Januari-Oktober tahun 2016-2017.

Untuk penurunan ekspor terjadi pada komoditas ikan lainnya (bukan komoditas utama). Pada periode 2014-2015 saja mengalami penurunan sekitar 165 ribu ton atau turun 36%. Penurunan terjadi di pelabuhan muat antara lain di Provinsi Maluku 127,4 ribu ton atau turun 98%, Papua Barat 30,1 ribu ton atau turun 100%, dan Papua 43,8 ribu ton atau turun 100%.

“Sebelum moratorium wilayah penangkapan Maluku dan Papua umumnya merupakan wilayah penangkapan kapal-kapal asing, dan di daerah Maluku didominasi oleh produk ikan lainnya sekitar 91%,” jelas Nilanto. [nss]

589 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *