Ari Purbayanto : Melarang Cantrang Adalah Kebijakan Frustasi

Demo nelayan menolak pelarangan cantrang.

MARINDO–Sejak diberlakukan Permen KP No. 71 Tahun 2015 soal pelarangan alat penangkapan ikan jenis cantrang, terhitung sejak 1 Januari 2018, unjuk rasa nelayan terjadi di seluruh Indonesia, khususnya di wilayah pantura Jawa yang nota bene sebagian besar nelayannya pengguna alat tangkap tersebut.

Pro kontra alat tangkap cantrang pun merebak. Sebagian ada yang mengatakan merusak lingkungan dan aebagian menyatakan tidak. Salah satu yang mengatakan cantrang tidak merusak lingkungan adakah Prof. Ari Purbayanto, guru besar Fakuktas Perikanan Institut Pertanian Bogor.

Menurut Ari, dalam postingannya di salah satu WAG (10/1/18), menyebutkan bahwa kasus cantrang adalah fenomena “gunung es” karena telah dibiarkan lama dan tidak diatur apalagi dikendalikan, tetapi langsung dilarang penggunaannya.

Padahal cantrang termasuk alat tangkap aktif yang tidak lebih efektif dari trawl, terlebih alat ini dioperasikan oleh nelayan kecil. Sudah pasti “catchability”-nya rendah, begitu juga dampak yang ditimbulkannya “tolerable”, kecuali jumlahnya berlebih di suatu perairan.

“Ini bentuk kebijakan yang salah, apalagi mengkambinghitamkan cantrang sebagai alat tangkap perusak yang berbahaya.
Kurang tepat, karena pada hakikatnya setiap teknologi memberikan dampak kerusakan terhadap lingkungan,” ujar Ari.

Kata Ari, yang alfa dari pemerintah adalah, pertama, tidak berupaya melakukan pengendalian dan pengaturan sehingga blooming di suatu perairan. Kedua, tidak berupaya melakukan perbaiakan selektivitas dan metode operasi, sehingga belum ada alat tangkap standard cantrang yang lebih ramah lingkungan. Dan ketiga, tidak mengatur zona penangkapan untuk cantrang. Padahal KKP memiliki badan riset juga pemerintah memiliki sejumlah perguruan tinggi dengan banyak pakar perikanan.

“Jadi melarang cantrang dan alat sejenisnya adalah kebijakan yang bersifat frustasi, karena ketidakmampuan melakukan pengelolaan,” tandas Ari.

Mengganti dengan salah satu jenis alat tangkap gillnet, menurut Ari, bukan solusi, karena target penangkapan cantrang berbeda dengan gillnet yang pasif maupun yang dihanyutkan. Ikan beloso, gerot-gerot atau ulamah, bahkan udang yang menguburkan diri di lumpur sulit ditangkap gillnet. Jadi inti masalah tersebut adalah diperlukan “pengendalian, pengaturan dan perbaikan teknologi” bukan pelarangan.

Lebih jauh Ari Purbayanto menjelaskan, semua teknologi penangkapan ikan awalnya diciptakan dengan tujuan menangkap ikan sebanyak-banyaknya. Ini paradigma lama hingga tahun 1990-an, yaitu meningkatkan efektivitas setiap alat tangkap.

Kemudian pasca 1990 saat dunia hangat menyuarakan kepentingan konservasi sumberdaya dan lingkungan, dimulailah era “shifting paradigm” dari kepentingan peningkatan produksi sebanyak-banyaknya (effective fishing gears) kepada kepentingan konservasi (efficient/selective fishing gears).

Karena itu muncul lah “responsible fisheries”, dalam penangkapan maupun akuakultur. “Shifting paradigm ini tidak berarti kita mengabaikan kepentingan produksi (ekonomi), dan kepentingan ekonomi ini harusnya tetap diselaraskan dengan kepentingan konservasi (keberlanjutan),” tutupnya. (tim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *