Ari Purbayanto : Kapal Sitaan Sebaiknya Dimanfaatkan Masyarakat

Ari Purbayanto.

MARINDO–Perseteruan antara Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan dan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti soal penenggelaman kapal terus meruncing. Pro kontra datang dari berbagai pihak antara setuju dan tidak ditenggelamkam.

Guru Besar Teknologi Penangkapan Ikan IPB Ari Purbayanto punya pendapat lain soal penenggelaman kapal. Menurutnya, KKP melaksanakan penenggelaman Kapal pelaku IIU Fishing adalah sah secara hukum (UU Perikanan No.31/2004). Tetapi pemusnahan kapal dengan cara dibom untuk ditenggelamkan, bukan satu-satunya cara yang diperintahkan dalam UU. 

“Kapal sitaan yang inkracht secara hukum bisa dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat, termasuk dihibahkan kepada kelompok nelayan melalui koperasi perikanan,” ujar Ari dalam postingannya pada WAG nelayan, Kamis (11/1/18).

Menurut Ari, di perairan Malaysia kapal-kapal  pelaku IIU fishing juga sama dimusnakan,  setelah dinyatakan bersalah oleh keputusan mahkamah. Pemusnahan dilakukan dengan cara “dismantle” atau dibongkar/dipreteli tanpa upacara hiruk pikuk seperti penenggelaman kapal di Indonesia yang heroik, heboh, dan terkesan bar bar.

“Di Indonesia, untuk upacara penenggelaman satu kapal saja perlu biaya ratusan juta, coba hitung sendiri untuk 363 kapal yang sudah ditenggelamkan, berapa jumlah uang yang sudah dibakar. Jumlah uang tersebut signifikan jika digunakan untuk modal operasional nelayan kecil cantrang,” ungkapnya.

Dari sisi lingkungan, puing-puing kapal mengotori ekosistem laut, bangkai kapal yang tenggelam juga akan mengotori laut bahkan bisa mengganggu alur pelayaran. “Siapa bilang bangkai kapal bisa langsung jadi rumah ikan?. Hasil penelitian menunjukkan obyek baru untuk rumah ikan (artificial reef) memerlukan waktu berbulan-bulan dan bahkan tahunan untuk ikan mau menempati  sebagai rumahnya,” tambahnya.

Apalagi dengan bangkai kapal yang bau minyak dan belum teradaptasi dengan ekosistem dasar laut. Selain itu, getaran bom yang merambat di perairan akan mengganggu biota laut, bahkan mematikan. “Coba saja kita melakukan skin diving disekitar tempat kapal yang dibom untuk ditenggelamkan, pasti gendang telinga kita pecah, pembuluh darah kita rusak,” jelasnya. 

Hal ini sudah dibuktikan kerusakan organ fisiologis ikan akibat pengeboman ikan melalui penelitian yang telah dilakukan oleh mantan mahasiswa S3 IPB pada 2004.

Lebih jauh Ari mengungkapkan, jika penenggelaman dengan cara dibom untuk tujuan gagah-gagahan dan heroik agar semua orang di dunia berdecak, maka tujuannya sudah tercapai. Untuk dikatakan memberikan efek jera, kenyataannya sudah dilakukan selama 3 tahun para pencuri ikan juga tidak jera-jera. Ya karena mereka mencuri ikan menjadi pekerjaan dan sudah diniatkan dengan berbagai resiko, sama halnya dengan penyeludup narkoba, nggak pernah jera meskipun hukumannya sangat berat. 

Jadi bila penenggelaman kapal terus dilakukan hanya akan mubazir dari aspek biaya dan waktu. Akan lelah hanya untuk membombardir kapal-kapal IIU fishing, sehingga lupa untuk mengerjakan PR yang lebih penting yaitu, percepatan industri perikanan untuk meningkatkan ekspor dan kesejahteraan nelayan.

“Silent vessel sinking enforcement” atau dimusnakan dengan cara “dismantle” seperti yang dilakukan di Malaysia lebih elegan. “Atau memang orang kita sukanya seremonial dan yang heboh-heboh ya. Di Malaysia yang kenyataannya lebih maju, dan masyarakatnya pun lebih maju, low enforcement tetap keras tapi elegan pelaksanaanya,” jelasnya.

Di sana, katanya, hukuman mati pun langsung digantung di tiang gantungan sampai mati tanpa koar-koar segala. (tim)

 

517 total views, 2 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *