SP JICT Minta Direksi Evaluasi Vendor, Bukan Pinjam Operator Ke Pelindo II

MARINDO. Langkah manajemen JICT menjawab keluhan pengguna jasa soal lambatnya produktifitas sebagai dampak dari  proses peralihan  operator RTG dari vendor lama ke vendor baru per awal Januari 2018, dengan cara  meminta bantuan 40 operator dan coordinator tenaga operator RTGC ke Pelabuhan Cabang Tanjung Priok. Hal itu tertuang dalam surat Direktur Utama JICT pada 11 Januari 2018 Nomor 1074/gp-jict/1/2018.

Serikat Pekerja Jakarta International Container Terminal (SP JICT) menyampaikan surat keberatan Direksi JICT atas perbantuan operator derek lapangan RTGC Pelindo II di terminal petikemas tersebut.

Permintaan Direksi tersebut untuk mendukung perbaikan  operasional JICT karena vendor operator RTGC baru yakni PT Multy Tally  Indonesia (MTI)  tidak dapat memberikan kinerja optimal.

Dalam surat bernomor SPJICT/PBT/006/I/2018 tertanggal 12 Januari 2018, Ketua SP JICT Hazris Malsyah menyampaikan beberapa hal.

Pertama dalam Perjanjian Kerja Bersama  (PKB) PT. JICT tahun 2013-2015 yang masih berlaku sampai sekarang, tidak ada dasar aturan perbantuan tenaga kerja dari Pelindo II ke JICT.

Dalam penjelasan Pasal 52 ayat (1): “Pekerja hanya dapat diperbantukan ke Indonesia Port Corporation Group, Hutchison Port Holding Group, Kopegmar dan Kopkar JICT untuk promosi dan peningkatan karir yang diperbantukan. Di luar itu akan dikonsultasikan dengan Serikat Pekerja.”;

Selanjutnya proses hukum perbantuan Operator RTGC Pelindo II di JICT pada tahun 2014  sedang diperiksa oleh institusi Pengadilan Hubungan Industrial dan Pengadilan Negeri.

Kasus ini terdaftar dalam register perkara Nomor  137/PDT.SUS.PHI/2017/PN.JKT.PST dan Nomor 403 /PDT.G/2017/PN.JKT.UTR.

“Jika tetap dilaksanakan, tindakan tersebut terindikasi melawan hukum. Untuk itu SP JICT meminta Direksi menghentikan upaya permintaan bantuan operator RTGC Pelindo II,” kata Hazris

Bila operasional lapangan JICT terganggu karena kinerja rendah MTI, seharusnya ada evaluasi menyeluruh terhadap vendor yang telah dimenangkan Direksi.

“Vendor (MTI) yang dipilih Direksi tebukti tidak punya SDM dan kompetensi. Dampaknya saat ini operasional JICT memburuk dan memperparah dwelling time. Selain itu terjadi lebih dari 14 kecelakaan kerja sejak MTI beroperasi. Anehnya tidak ada evaluasi. Malah Direksi JICT melakukan back up untuk vendor baru dengan mendatangkan operator Pelindo II. Ini kan seolah ada persekongkolan antara Direksi JICT dan vendor MTI,” Pungkas Hazris.*HBB

1,188 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *