IPC Penyumbang Dividen Terbesar BUMN Bidang Jasa Kepelabuhanan

Direktur Utama Pelindo II/ IPC Elvyn G. Masassya (tengah) saat diskusi dengan sejumlah awak media pada kegiatan Media Port Visit, di kantor IPC Tanjung Priok Jakarta.

MARINDO–Keinginan pemerintah untuk menjadikan Pelabuhan Tanjung Priok sebagai transshipment port bukan sekedar angan-angan. Bahkan untuk soal ini, pemerintah telah menyiapkan roadmap yang membuat IPC (Indonesia Port Corporation) atau Pelabuhan Indonesia II (Pelindo II) mampu menuju world class port. Antara lain dengan memperbaiki pelayanan dan jasa di pelabuhan, baik dengan optimalisasi penggunaan system IT, operasional, fasilitas, maupun infrastruktur.

Pada triwulan III tahun 2017, misalnya, IPC telah mencatatkan sejarah baru di Pelabuhan Tanjung Priok, di mana untuk pertama kalinya IPC melayani kapal kontainer dengan kapasitas 10.000 TEUs yang merupakan kapal terbesar yang pernah bersandar di Indonesia. Kapal besar dengan layanan Java – America Express (JAX) Service ini melayari rute Pelabuhan Tanjung Priok ke West Coast (LA & Oakland) Amerika Serikat (direct call) dan saat ini telah menambah rute pelayanan direct call ke Eropa dengan layanan South East Asian – North Europe (SEANE), serta layanan langsung ke China, Vietnam dan Korea.  

Selama satu semester hingga akhir 2017 JAX Service berlabuh di Pelabuhan Tanjung Priok berhasil mencatatkan 38 call dengan total 3.681.060 GT dan melayani bongkar/muat sebanyak 124.302 TEUs petikemas. Sedangkan selama satu triwulan untuk SEANE Service berhasil melabuhkan 19 call dengan total 986.057GT dan melayani bongkar/muat sebanyak 30.672 TEUs petikemas.       

“IPC berharap dengan dukungan dari pemerintah, perusahaan pelayaran dan pemilik kargo dapat menjadi pemicu hadirnya kapal-kapal besar untuk melakukan konsolidasi muatan di Tanjung Priok sehingga dapat memenuhi harapan pemerintah yaitu menjadikan Tanjung Priok sebagai pelabuhan transshipment yang diperhitungkan di kawasan Asia,” ujar Direktur Utama Pelindo II/ IPC Elvyn G. Masassya saat kegiatan Media Port Visit, di Pelindo II (5/2/18).

Kegiatan Media Port Visit merupakan kali pertama dilaksanakan dan dihadiri oleh kurang lebih 50 jurnalis dari berbagai media baik cetak, elektronik dan digital. Sebagai narasumber dalam kegiatan Media Port Visit kali ini adalah Direksi IPC, GM Tanjung Priok, Dirut PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP), Dirut PT Jakarta International Container Terminal (JICT) dan GM TPK Koja. Sedangkan sebagai perwakilan dari stakeholder turut hadir Kepala Otoritas Pelabuhan, Kepala KPU Bea Cukai Tanjung Priok, Kapolres KPPP Tanjung Priok serta Kepala Syahbandar Pelabuhan Tanjung Priok.

Lebih jauh Elvyn menjelaskan, dari sisi keuangan, kinerja perusahaan 2017 berhasil mencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp 10,52 triliun (unaudited) naik 17,8% dari tahun 2016 serta laba usaha Rp 3,07 triliun (unaudited) atau naik 12,74%, EBITDA naik sebesar 22,3% atau sebesar Rp 3,85 triliun (unaudited) dan BOPO turun 1,75% menjadi sebesar 70,57%. 

Untuk pertumbuhan dividen korporasi, IPC yang merupakan penyumbang dividen terbesar untuk BUMN di bidang jasa kepelabuhanan telah mencatatkan kenaikan sebesar 21,9% dari tahun 2016, yakni dari sebesar Rp 371,93 miliar (audited) naik ke Rp 453,44 miliar (unaudited). Sementara pada sisi operasional, realisasi trafik arus peti kemas tercapai 6,92 juta TEUs naik 11,2%, non petikemas naik 2,79% menjadi 57,06 juta ton, kunjungan kapal naik 3,87% menjadi 34.662 unit serta arus penumpang turun 13,99% menjadi sebanyak 608,12 ribu orang.

Dalam kaitannya mewujudkan kinerja unggul berkesinambungan, sejumlah pencapaian korporasi juga telah dicatatkan di antaranya pencapaian skor GCG tahun 2016 yang naik 10 poin dari tahun sebelumnya menjadi sebesar 93.32 dengan kategori “sangat baik”. Pencapaian skor KPI 2017 adalah 101,1% dengan hasil assessment KPKU memperoleh nilai 553,5 (klasifikasi good performance dengan rentang 476-575) di mana skor tersebut juga melebihi target KPKU 2017 yaitu 540. 

Target 2018

Untuk target kinerja tahun 2018, Elvyn melanjutkan, pendapatan usaha ditargetkan naik 11,02% menjadi 11,68 trilliun, EBITDA (Earning Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization) diharapkan naik sebesar 6,8% menjadi 4,11 trilliun, sementara EBITDA Margin ditargetkan tumbuh 1,1% menjadi 37,05% dan BOPO (Biaya Operasional Pendapatan Operasional) diharapkan dapat turun 1,6% menjadi 69,43. Untuk kinerja operasional throughput petikemas diharapkan naik menjadi 7,10 juta TEUs atau meningkat 2,7%, throughput non petikemas naik 27,7% menjadi 72,86 juta ton, kunjungan kapal ditargetkan naik jadi 35 ribu unit dan arus penumpang diperkirakan turun 15,8% menjadi  511,7 ribu orang.

Pada bulan Desember 2017 IPC mencatatkan sejarah dengan lahirnya anak perusahaan ke-17 yaitu PT Pelabuhan Indonesia Investama (PII) sebagai satu-satunya anak perusahaan BUMN yang bergerak di bidang investasi yang memfokuskan diri pada industri kepelabuhanan. Selain itu, anak perusahaan IPC yang bergerak dalam layanan kapal yakni PT Jasa Armada Indonesia, Tbk (JAI) telah resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan tercatat dengan kode saham “IPCM”.

Harga IPO saham JAI ditetapkan sebesar Rp 380 per lembar saham dan telah naik sebesar 5% di hari pertama pencatatan serta mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) saat proses penawaran awal (bookbuilding) sebanyak dua kali. 

Terkait Pembangunan Terminal Petikemas Pelabuhan Tanjung Priok / New Priok Container Terminal One (NPCT1) berkapasitas 1,5 juta TEUs yang sudah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 13 September 2016 telah beroperasi secara penuh hingga pada Maret 2018 ini diharapkan dapat berhasil mencatatkan pelayanan 1 Juta TEUs petikemas.

Pembangunan Container Terminal 2 dan Container Terminal 3 juga terus dikerjakan dan diproyeksikan memiliki total area 72 Ha dengan kapasitas 3 juta TEUs/Tahun, sedangkan untuk Product Terminal 1 dan Product Terminal 2 dengan total area 72 Ha nantinya akan mampu menampung kapasitas sebesar 10 juta m3 /Tahun.

“Saat ini IPC tengah mengembangkan gagasan Pelabuhan Indonesia Incorporated di mana sebagai tahap awal akan dijajaki pelaksanaan cross ownership program yaitu menggabungkan beberapa anak perusahaan sejenis yang dimiki PT Pelindo I – IV sehingga dapat memberi dampak pasar yang lebih luas, serta mempunyai kesamaan standarisasi operasional maupun sistem sehingga dapat memberikan pelayanan jasa yang maksimal kepada para pengguna jasa pelabuhan,” tutup Elvyn. [tim]

579 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *