Tujuh Rekomendasi ISPIKANI Untuk Keberlanjutan SDI

Pengukuhan pengurus ISPIKANI Cabang Sulael dan Sulbar oleh Ketum ISPIKANI Gellwynn Jusuf.

MARINDO–Kegiatan diskusi yang dugelar Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia (ISPIKANI) dalam rangkaian pengukuhan pengurus cabang ISPIKANI Sulawesi Selatan dan cabang Sulawesi Barat, di Makasar pada Sabtu (24/3), telah menghasilkan tujuh rekomendasi bagi pembangunan perikanan di Indoneaia.

Tujuh rekomendasi itu ialah, pertama, penguatan data sumberdaya perikanan. Data tentang stock ikan nasional masih sangat general dan cenderung tidak konsisten sehingga mudah dipolitisi. Penguatan riset sangat urgent dilakukan, sehingga sangat ironis, jika keingingan untuk menjadi “Poros Maritim Dunia”, tetapi tanpa didukung Science dan Teknologi.

Kedua, mengurangi kontroversi kebijakan dan perdebatan tidak sehat tentang pemanfaatan sumberdaya perikanan. Sebaliknya perlu lebih banyak konsultasi publik sebelum membuat kebijakan yang signifikan. Memperkuat peran Perguruan Tinggi dan Industri/private sector dalam mebangun Industri Perikanan Nasional yang lebih baik.

Ketiga, penangangan destructive fishing (bomb dan bius) yang lebih baik. Indonesia masih merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat pengeboman dan pembiusan ikan tertinggi di dunia. Perlunya penguatan Bakamla (satu komando), yang didukung oleh KKP, Polairud, AL, Pokmaswas, dan lainnya, dalam menangani masalah Destructive Fishing. Penggunaan teknologi modern (drone, satelit, under water acoustic, dll) harus segera dimulai, sehingga bisa berjalan efektif dan efisien.

Keempat, revitalisasi pertambakan nasional. Infrastruktur pertambakan hares dibenahi dengan baik (jalan, listrik, irigasi), dan industri pakan ikan/udang nasional dapat bergerak lebih cepat untuk menekan tingginya biaya produksi. Pembenahan hatchery secara serius, dan pembagian benih secara gratis ke petani tambak, dibarengi dengan pendampingan dan adanya pembenahan industri dan budidaya rumput laut untuk memperkuat posisi petani rumput laut.

Kelima, pembenahan secara serius tatakelola Kawasan Konservasi Laut pasca UU 23/2014. Pengalihan kewenangan di laut dari Kabupaten/Kota ke Provinsi berdampak serius pada pengelolaan Kawasan konservasi dan pengawasan laut. Keberadaan kawasan Konservasi merupakan benteng terakhir dan langkah strategis dalam menjamin kelestarian sumberdaya hayati laut.

Keenam, keseriusan Indonesia dalam mengawal beberapa kerjasama regional/international khususnya _Coral Triangle Initiative_ (CTI). Indonesia sebagai pelopor dan pemimpin CTI belum memberikan perhatian serius, mengingat banyak target regional dan nasional CTI belum diperhatikan.

Dan ketujuh, penguatan pelayaran dan Kapal “Rakyat. Penguatan industri Kapal Rakyat (termasuk kapal penangkapan ikan), perlu diperhatikan sehingga tidak terbatas pada perusahaan kapal besar semata. Perlunya pengembangan inovasi teknologi dan moderenisasi kapal perikanan rakyat.

Pengukuhan ketiga cabang ISPIKANI oleh Ketua Umum ISPIKANI, Dr. Gellwynn Jusuf terhadap Cabang Sulawesi Selatan yang dinahkodai oleh Prof. Jamaluddinn Jompa, sedangkan Cabang Sulawesi Barat dipimpin Ir. Suyuti Marzuki, M.Sc. Untuk Cabang Sulawesi Tengah yang dikukuhkan sehari sebelumnya, yang terpilih Dr. Ir. Hasanuddin Atjo, M.P.

“Ketiganya merupakan sarjana perikanan yang diharapkan dapat menjadi figur untuk membawa arah pembangunan perikanan secara berkelanjutan di wilayahnya masing-masing,” ujar Gellwynn. (nss)

2,927 total views, 12 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *