Sinergitas IPCC: Sebuah Mozaik Indonesia 2030

MENTERI PERTAHANAN MALAYSIA, Mohamad Sabu, blak-blakan memuji Indonesia sebagai negara yang akan tampil dalam deretan top ten negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di tahun 2030.

Dalam video yang beredar secara viral, Sabu menilai konsistensi menjaga pertumbuhan ekonomi serta komitmen mewujudkan pemerintahan yang bersih menjadi kata kunci tampilnya Indonesia dalam kategori tersebut.

Hal yang sama juga diprediksi Pricewaterhousecoopers (PWC), lembaga jasa profesional terbesar di dunia, yang bahkan menempatkan Indonesia di posisi kelima di bawah China, Amerika, India dan Jepang.

Sementara itu, media terkemuka Jepang menganalisa prediksi kemunculan Indonesia sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan setara negara-negara maju dari cara mengelola potensi krisis.

Ketika pertumbuhan ekonomi negara-negara Eropa dan Amerika di bawah standar, ekonomi Indonesia tetap tumbuh. Di sisi lain, Indonesia pun gencar membangun dan merevitalisasi infrastruktur yang menjadi modal bagi pertumbuhan ekonomi.

Tak hanya itu, pemerintah Indonesia juga dianggap peka terhadap perkembangan teknologi. Pemerintah telah menyusun road map Making Indonesia 4.0 yang menjadikan teknologi digital sebagai basisnya.

Industri otomotif nasional yang padat modal dan juga padat teknologi tak lepas dari perkembangan-perkembangan tersebut. Saat ini orientasi produk tak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan kendaraan domestik, melainkan juga untuk kebutuhan ekspor.

Saat meresmikan pencapaian ekspor 1.3 juta unit CBU milik Toyota di lapangan dermaga PT Indonesia Kendaraan Terminal (IPC Car Terminal/IPCC), Jakarta, Rabu (5/9), Presiden Jokowi memuji langkah yang dilakukan perusahaan otomotif tersebut. Menurut Jokowi, industri akan terus didorong meningkatkan ekspor dan investasi dalam negeri.

Presiden Jokowi juga berjanji dalam kunjungannya ke Jepang nanti akan meminta investor negara tersebut untuk meningkatkan investasinya di Indonesia.

“Kita nggak mau kalah sama Thailand,” ungkap Jokowi.

Untuk mewujudkan tekad tersebut, saat ini pemerintah merencanakan memberi insentif pajak kepada industri otomotif yang meliputi tax holiday, tax allowance dan super deduction. Dari sisi infrastruktur, pemerintah juga terus mendorong peningkatan fasilitas pendukung, antara lain pelabuhan kendaraan terminal seperti yang kini giat dilakukan IPCC.

Dengan berbagai upaya tersebut, prediksi tampilnya Indonesia dalam deretan negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi yang bagus di tahun 2030, akan menjadi kenyataan. Apalagi dengan banyaknya faktor pendukung yang tak ubahnya seperti mozaik-mozaik yang akan mewujudkan harapan tersebut. Dan di antara sekian banyak mozaik itu, salah satunya adalah IPCC.

Sebagai bagian dari mozaik itu, Direktur Utama IPCC, Chiefy Adi Kusmargono, mengungkapkan langkah-langkah yang sedang dan akan dilakukan dalam rangka memenuhi harapan pemerintah serta peningkatan pelayanan terhadap pelanggan.

Upaya yang sudah dilakukan, misalnya, membangun sinergitas dengan terminal-terminal kendaraan domestik di Pelindo I, III dan IV atau yang berada di luar IPC Pelindo II. Yang baru-baru ini dilakukan MoU pengelolaan Car Terminal Pelindo IV di Makassar dan Samarinda. Langkah ini juga menjadi upaya IPCC untuk menggali potensi bisnis khususnya di Kawasan Timur Indonesia yang masuk dalam jalur pelayaran internasional.

Selain itu, sejalan dengan kebijakan zonasi bisnis anak usaha, IPCC juga mendapat tambahan dari pengalihan throughput kendaraan yang sebelumnya dikelola oleh Port of Tanjung Priok (afiliasi).

Konektivitas antarterminal dengan fasilitas yang setara juga terus didorong agar layanan bongkar muat kendaraan bisa dilakukan dengan standar layanan yang sama.

Peningkatan kapasitas juga terus dilakukan, dari saat ini 600 ribu unit secara bertahap akan ditingkatkan menjadi 900 ribu unit. Dengan kapasitas tersebut, nantinya Indonesia tidak lagi di bawah Singapura atau Thailand, tetapi akan menjadi yang terbesar di ASEAN, bahkan secara optimis masuk lima terbesar dunia.

Pembangunan infrastruktur di dalam negeri serta tutupnya pabrik otomotif di Australia diperkirakan akan mendorong peningkatan produksi kendaraan di Indonesia. Hal ini pun telah diantisipasi IPCC dengan peningkatan kapasitas maupun layanan terbaik kepada para pengguna jasa.

Terbukti, peningkatan layanan serta pertumbuhan ekspor otomotif memberikan imbas positif bagi kinerja IPCC. Dari laporan keuangan di semester I/2018 diketahui pendapatan dan laba bersih tumbuh masing-masing sebesar 28% dan 58% menjadi Rp.250 miliar dan Rp. 94,9 miliar. Tahun ini IPCC menargetkan perolehan laba bersih sebesar Rp 220 miliar atau tumbuh 69% secara tahunan.

Secara operasional di semester I/2018, throughput kendaraan naik 10,3% menjadi 186.928 unit, untuk heavy equipment naik 81% menjadi 20.099 unit dan spareparts naik 44,9% menjadi 48.900 M3.

Terlepas dari pencapaian kinerja seperti dipaparkan dalam angka-angka di atas, upaya IPCC menjadi bagian penting mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Karena itu, harapan manajemen menjadikan IPCC sebagai terminal kendaraan Indonesia Incorporated dengan wilayah operasional yang terintegrasi di seluruh wilayah Indonesia semestinya mendapat sambutan positif pemerintah maupun pelaku usaha. Sebagai bagian dari mozaik pertumbuhan ekonomi nasional, IPCC akan menjadi akselerator penting tampilnya Indonesia dalam deretan negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia tahun 2030.*** [Karnali Faisal]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *