Hadiri Rakornas Pariwisata, Sesmenko Agus Tegaskan Pentingnya Turis dalam Investasi di Indonesia

Jakarta, Maritim Indonesia – Sekretaris Kementerian Koordinator (Sesmenko) Bidang Kemaritiman Agus Purwanto mewakili Menko Kemaritiman Luhut B. Pandjaitan menghadiri Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pariwisata III Tahun 2018, di Dian Ballroom, Hotel Raffles-Jakarta, pada Rabu (26-09-2018). Dalam Rakornas ini, Sesmenko Agus menegaskan pentingnya turis dalam Investasi kepariwisataan di Indonesia.

“Tourism menjadi bagian yang tidak bisa dielakkan untuk ke depan Indonesia dalam investasi,” kata Sesmenko Agus di lokasi.

Sesmenko Agus memaparkan, seperti yang disampaikan Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya bahwa pariwisata ditetapkan sebagai sektor andalan dalam menghasilkan devisa, dengan menargetkan devisa US$20 miliar pada tahun 2019 (dari kunjungan 20 juta wisman (wisatawan mancanegara) dan pergerakan 275 juta wisnus (wisata nusantara). Dan dalam empat tahun terakhir pariwisata menghasilkan _balance payment_ yang positif yang diperoleh dari kunjungan wisman.

“Target 20 juta wisman ini, seperti disampaikan Pak Menko Maritim (Menko Luhut) di pembukaan taman budaya Garuda Wisnu Kencana (GWK), dari infrastruktur disiapkan sudah mampu menyerap wisata mancanegara ke depan. Nah ini baru di Bali, belum sektor lainnya seperti di Weda Bay yang disiapkan infrastruktur. Saya yakin turis semua (akan datang ke Indonesia), dan di seluruh penjuru sektor pariwisata tetap optimis akan hal ini,” jelasnya.

Terkait GWK yang baru diresmikan pada 22 September lalu, Sesmenko Agus menjelaskan, tak lepas dari kendala namun juga peluang, namun kendala tersebut bisa diatasi, salah satunya dengan dibangunnya _underpass_ di Bali.

“Obyek wisata pada destinasinya, upaya disiapkan pembangunan infraskturktur. Contoh di Bali, disiapkan peresmian karya anak bangsa yang popular yakni GWK, tentunya tidak lepas dari _traffic jam_ di Bali, salah satu upaya kita yakni membuat underpass, yang dilakukan tidak meninggalkan keramahan lingkungan. Ini baru di Bali, dan disiapkan nantinya untuk 7 (tujuh) Badan Otorita Wisata dan 3 (tiga) kawasan wisata ekonomi khusus, sehingga 10 destinasi wisata yang kita targetkan bisa maksimal,” ujarnya.

“Hal-hal ini tentunya juga tidak terlepas dari media sosial. Banyak hal-hal di media sosial yang dilihat, masih terkait di Bali, akan melaksanakan IMF-WB, banyak membahas ini-itu, dan di luar ini sebenarnya tidak perlu takut, peluang kita menjual detinasi, menjual apapun yg kita punya untuk tujuan wisata. Kita lihat peluang luar biasa yang akan hadir nanti lebih 18rb peserta, ini adalah bagian yang nantinya bisa memberikan trust, lalu akhirnya meng_share_ seperti apa kondisi, seperti apa mereka lihat sendiri, dengan demikian saya yakin kalau _trust_ ini terbangun, _invest_ mengalir,” ungkap Sesmenko Agus.

Sementara itu, Menpar Arief mengungkapkan bahwa ada tiga isu kebutuhan pembiayaan yang diperlukan dalam mendukung sektor pariwisata, yakni kebutuhan pembiayaan unruk membangun 10 destinasi pariwisata tersebut, kebutuhan pembiayaan usaha homestay (2018-2019), serta kebutuhan pembiayaan usaha UMK Pariwsata (KUR Khusus Pariwisata).

“Untuk Homestay membutuhkan investasi Rp 2 Triliun, sedangkan usaha UMK Pariwisata (KUR Khusus Pariwisata) membutuhkan Rp 25 Triliun,” tutup Menpar Arief.

Adapun Rakornas Pariwisata yang diikuti oleh kurang lebih 600 peserta ini juga membahas dan me­_launching_ program universal traveler protection yang berfungsi sebagai perlindungan bagi wisman dan wisnus yang melakukan perjalanan (travelling) di Indonesia, dengan asuransi perjalanan yang diperkirakan dapat meng_cover_ sampai Rp 320 Triliun sampai tahun 2024 mendatang.*** [Ire Djafar]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *