Hub logistik Baru itu Bernama Indramayu

SUATU HARI NANTI, tagline iklan Aku Ingin Pindah ke Meikarta boleh jadi bakal tersaingi dengan tagline baru: Aku Ingin Pindah ke Indramayu.

Ini tidak berlebihan jika mencermati data pada Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Indramayu yang menunjukkan selama kurun waktu tahun 2012 hingga 2017, investasi yang berhasil masuk ke wilayah tersebut mencapai Rp 26,8 trilliun. Tren pertumbuhan investasi terus meningkat setiap tahun.

Dari nilai investasi sebesar itu sebagian besar di bidang usaha industri tekstil,  pertanian, perikanan, penyediaan pembangkit lisrik, pengelolaan minyak dan gas bumi, serta industri kimia organik dan industri batik.

Untuk lebih mendorong investor masuk, Pemkab Indramayu telah mengalokasikan lahan seluas  20.000 hektare untuk industri berdasarkan revisi rencana tata ruang wilayah (RTRW) yang sedang dilakukan Bappeda.

Sebagai catatan, Indramayu merupakan wilayah kabupaten yang terletak di kawasan dataran rendah dan pesisir. Berbatasan langsung dengan Majalengka di sebelah selatan, Subang sebelah barat, Laut Jawa di sebelah utara dan CIrebon sebelah timur.

Jalur transportasi yang disebut jalur Pantura Indramayu, mulai dari Patrol-Lohbener-Jatibarang-Kertasemaya. Jalur lainnya Lohbener-Karang Ampel-Krangkeng-Cirebon. Atau jalur tol Cikampek Palimanan (Cipali) yang juga melintasi daerah ini.  Untuk jalur kereta api,  stasiun KA Jatibarang merupakan salah satu stasiun terbesar di Daops 3 Cirebon.

Saat ini salah satu kabupaten terluas di Jawa Barat itu memang baru dikenal sebagai kota penghasil mangga dengan hamparan lahan pertanian. Tapi setelah Pelabuhan Patimban dibangun dan Bandara Kertajati beroperasi penuh, Indramayu diperkirakan bakal menjadi kota premium investasi.

Seperti disebutkan di atas, hal tersebut karena didukung posisi Indramayu yang merupakan daerah dengan akses bagus untuk semua moda transportasi: dari tol Cipali hingga kereta api.

Ditambah lagi akses pantura yang sudah ada sejak zaman old ketika era Gubernur Jenderal Daendels.

Zaman now di google maps akan lebih jelas lagi.  Jarak Indramayu, terutama Haurgeulis, ke Patimban hanya 30Km, begitu juga ke Bandara Kertajati yang berjarak sekira 50Km.

Tak main-main, dari sisi volume Bandara Kertajati memiliki kapasitas 5,6 juta penumpang. Begitu juga Patimban yang diproyeksikan mampu menghandle  bongkar muat 7,5 juta TEUs serta 600 ribu unit kendaraan per tahun.

Tentu saja, kapasitas penumpang Kertajati maupun volume barang Patimban bisa terisi penuh jika terdapat kawasan-kawasan hinterland di sekitar itu.

Dalam hal ini, Indramayu menjadi hinterland yang diunggulkan karena berada pada titik silang dua infrastruktur penting transportasi tersebut.

Kelak kawasan-kawasan industri yang berada di Indramayu akan membutuhkan bahan baku maupun pengiriman barang hasil produksi melalui pelabuhan Patimban. Pengiriman barang-barang itu juga bisa melalui Bandara Kertajati atau langsung tol Cipali.

Kawasan-kawasan industri itu juga akan menyebabkan tumbuhnya pemukiman-pemukiman baru, sekolah, pusat perbelanjaan, tempat hiburan, rumah sakit, dan fasilitas lainnya yang juga mendorong peningkatan jumlah kaum urban. Itu berarti, mobilitas berbagai moda transportasi juga akan semakin meningkat, terutama Bandara Kertajati.

Maka tak berlebihan jika dalam 10 tahun ke depan, Indramayu akan menjadi hub logistik baru. Ini masih ditambah faktor upah maupun biaya hidup yang relatif masih lebih rendah dibanding Jakarta berpotensi mendorong tumbuhnya kawasan-kawasan industri baru di kawasan ini.

Tidak hanya itu,  akses kereta api yang sudah tersedia juga bisa menjadi pendorong munculnya pelabuhan darat (dry port) yang terkoneksi baik dengan Kawasan Industri, Pelabuhan Patimban maupun Bandara Kertajati.

Pertanyaannya, mengapa yang diperkirakan lebih berkembang justeru Indramayu, bukan Subang –lokasi Pelabuhan Patimban atau Majalengka –lokasi Bandara Kertajati?

Subang dan Majalengka dipastikan akan tetap tumbuh. Tapi posisi Indramayu yang tidak terlalu jauh dengan Patimban maupun Kertajati menjadi keunggulan tersendiri untuk investasi.

Bahkan dibandingkan dengan Cirebon pun, Indramayu masih jauh lebih unggul.

Jika pelabuhan Patimban selesai dibangun, pelabuhan Cirebon yang paling mungkin terkena dampaknya. Sedangkan Tanjung Priok masih bisa bersaing karena akses kawasan industri eksisting masih relatif lebih dekat dibandingkan Patimban.

Terlebih lagi pelabuhan Patimban yang memang diarahkan untuk melahirkan kawasan-kawasan industri baru di sekitar itu. Dan di antara sekian banyak kawasan hinterland, Indramayu memenuhi semua syarat investasi dengan aneka ragam moda transportasi: darat, laut, maupun udara.

Maka seiring dengan keseriusan pemerintah membangun Patimban dan beroperasinya Bandara Kertajati, potensi Indramayu sebagai hub logistik menjadi sebuah keniscayaan.

Persoalannya sekarang tinggal kembali kepada pemerintah dalam menyiapkan regulasi pendukung untuk memudahkan investasi tersebut. Bagaimanapun investor membutuhkan kepastian dan juga prospek usaha dari setiap dana yang diinvestasikan.

Jangan sampai seperti UU No 17/2008 tentang Pelayaran yang hingga hari ini nyaris tak pernah sepi dari polemik.  Duh.***  [Karnali Faisal]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *