Inovasi yang Ciamik Membidik Efisiensi Logistik

Sebuah Reportase dari Pelindo III

BANYAK yang berubah dari wajah Pelabuhan Tanjung Perak jika dibandingkan dengan lima tahun yang lalu. Saat ini, pelabuhan yang masuk dalam wilayah operasional PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) itu tampak jauh lebih tertata.

Tak berbeda dengan Tanjung Perak, pelabuhan-pelabuhan lainnya yang berada di bawah pengelolaan Pelindo III yang tersebar di 7 provinsi (Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimatan Tengah, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur)  menunjukkan perubahan yang juga lebih baik.

Kondisi tersebut tak lepas dari kerja keras pengelola pelabuhan dalam mengantisipasi pertumbuhan volume bongkar muat yang semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Di Tanjung Perak, misalnya, pertumbuhan volume bongkar muat sebelum penataan (dari tahun 2018 sampai dengan tahun 2013) rata-rata mencapai 4% sampai 5% per tahun. Dengan fasilitas bongkar muat yang belum memadai serta masih bercampurnya kegiatan bongkar muat curah maupun petikemas di satu dermaga, kala itu Tanjung Perak pun terancam kongesti.

Kondisi ini diperparah dengan fasilitas infrastruktur yang relatif tidak bertambah secara signifikan. Akibatnya produtivitas bongkar muat menjadi rendah. Bahkan waktu tunggu kapal di pelabuhan (waiting time for berth) bisa mencapai 5 hari. Dari sisi daya saing maupun pelayanan terhadap pengguna jasa, hal ini jelas tidak menguntungkan.

Berangkat dari kondisi tersebut, pengelola Pelabuhan Tanjung Perak merancang program penataan menyeluruh, mulai dari infrastruktur, IT System maupun peralatan bongkar muat. Hasilnya seperti terlihat saat ini. Pelabuhan Tanjung Perak tampil menjadi ikon baru pelabuhan di Indonesia.

Bahkan Ketua Indonesia National Shipowners’ Association (INSA) DPC Surabaya, Stenven H Lasawengen, tak ragu mengatakan langkah-langkah penataan yang dilakukan Pelindo III sudah ‘on the track’.

Dia pun mengakui pelayanan yang berikan pengelola pelabuhan terbesar ke dua di Indonesia tersebut sudah jauh lebih baik. Dia mencontohkan, waktu tunggu kapal yang sudah bisa mencapai zero waiting time. Hal ini menunjukkan peningkatan produktivitas bongkar muat sehingga kapal–kapal yang akan sandar bisa dilayani tepat waktu.

Padahal, sebelum dilakukan penataan, kapal yang keluar masuk harus antri lama. Ini bisa dilihat dari jumlah kapal yang keluar masuk Pelabuhan Tanjung Perak sebanyak 40 unit setiap hari. Waktu yang dibutuhkan kapal tersebut bisa 2 sampai 3 hari. Dengan kapasitas tambat yang berjumlah 65, kapal-kapal lain yang akan masuk pun harus rela antri. Namun setalah produktivitas bongkar muat ditingkatkan, waktu sandar kapal di dermaga bisa dipercepat. Dampaknya, antrian kapal makin jauh berkurang.

“Tanjung Perak merupakan pusat logistik nasional. Karena itu kami mengapresiasi penataan yang dilakukan secara terus-menerus oleh manajemen Pelindo III,” ujarnya, di Surabaya, Rabu (31/10).

Sejauh ini, menurutnya, para anggota INSA sebagai pengguna jasa langsung Pelindo III merasakan berbagai peningkatan pelayanan tersebut. Dia mencontohkan sejak selesainya pengerukan dan pelebaran Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS), kapal-kapal kini bisa lebih mudah masuk ke area kolam pelabuhan.

“Karena APBS kini sudah lebih lebar dan lebih dalam, kami sudah mengusulkan kepada manajemen Pelindo III agar pemanduan digeser lebih mendekat ke area kolam pelabuhan,” imbuhnya.

Yang lebih menggembirakan, menurut Stenven, Pelindo III berani melakukan investasi besar-besaran untuk membangun Terminal Teluk Lamong. Keberadaan terminal petikemas moderen ini terbukti mampu mengantisipasi kongesti yang bisa saja terjadi di Tanjung Perak jika terminal tersebut telat dibangun.

Selain itu, Pelindo III juga melakukan investasi peralatan bongkar muat sehingga pelayanan menjadi semakin cepat. Kerusakan alat yang selama ini menjadi momok perusahaan pelayaran pun bisa dihindarkan.

Pembangunan fasilitas tangki penyimpanan barang curah cair (storage tank) di Terminal Nilam juga dinilai sebagai langkah inovatif Pelindo III dalam memecahkan persoalan waktu bongkar muat. Data Pelindo III menunjukkan, keberadaan fasilitas ini membuat produktivitas bongkar curah cair yang semula 72 ton per jam bisa ditingkatkan menjadi 120 ton per jam. Dampaknya, waktu sandar kapal yang sebelumnya bisa 44 jam menjadi hanya 25 jam.

Tak hanya itu, jika sebelumnya bongkar muat barang curah cair ini dilakukan dengan sistem truck loosing (dari kapal ke truk tangki), kini langsung bisa dilakukan dari kapal ke storage tank tersebut tanpa harus menunggu truk terlebih dahulu.

Inovasi yang dilakukan Pelindo III tersebut merupakan buah dari analisa pertumbuhan barang curah cair yang selama tiga tahun terakhir rata-rata naik 11%. Tahun 2017 lalu, volume bongkar muat untuk jenis barang ini mencapai 2,7 juta ton.

Dari sisi penerapan aplikasi Information Communication Technology (ICT), Stenven menilai inovasi yang dilakukan Pelindo III juga patut mendapat apresiasi. Penerapan aplikasi ini, menurut Stenven, menjadi bagian penting dari percepatan layanan yang dilakukan pengelola terminal. Jika sebelumnya pengurusan dokumen harus dilakukan secara manual kini dilakukan dengan sistem digital.

“Dulu pengurusan dokumen harus face to face, membayar cash, sekarang sudah tidak lagi,” bebernya.

Seperti diketahui, penerapan aplikasi dimaksud sudah dilakukan Terminal Petikemas Surabaya (TPS) berupa sistem booking berbasis online yang disebut Fastplay dan Qlique. Berbagai pemesanan layanan jasa bisa dilakukan melalui aplikasi ini, antara lain DO Online, Inspeksi Behandle, Export Booking Container, dan lain-lain. Dengan aplikasi ini, pengguna jasa cukup melakukan aktivitas dengan smartphone maupun komputer yang sudah terkoneksi dengan internet, tanpa harus datang ke kantor TPS.

“Peningkatan pelayanan yang dilakukan manajemen Pelindo III terutama untuk kegiatan bongkar muat kapal sangat membantu perusahaan pelayaran. Kami berharap inovasi-inovasi ini terus dilakukan,” beber Stenven seraya menyebut agen prinsipal di Tanjung Perak yang mencapai 100 perusahaan pelayaran. Sedangkan total anggota keseluruhan sebanyak 350 perusahaan.

Sinergi

Langkah-langkah penataan yang kini gencar dilakukan Pelindo III juga mendapat tanggapan dari Ketua Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat Indonesia (APBMI) Jawa Timur, Koddy Lamahayu Fredy. Menurutnya, perusahaan-perusahaan bongkar muat (PBM) di pelabuhan Tanjung Perak pun memiliki komitmen yang sama dalam meningkatkan efisiensi logistik.

Karena itu, pihaknya berharap agar terjadi sinergi antara Pelindo III dengan perusahaan-perusahaan bongkar muat eksisting saat ini.
“Pelindo III sebagai penyedia fasilitas bongkar muat dan PBM sebagai penyelenggara kegiatan bongkar muat bisa bersinergi untuk mewujudkan hal tersebut,” paparnya, Rabu (31/10).

Kody mengaku sudah menyampaikan usulan model kerja sama antara Pelindo III dengan PBM terutama untuk kegiatan bongkar muat barang-barang non petikemas (general cargo).

“Apakah model kerja sama itu dalam bentuk sharing pendapatan atau seperti apa, kami masih menunggu kelanjutan pembicaraan dengan manajemen Pelindo III,” ujarnya.

Ditambahkannya, keberadaan Pelindo III sebagai BUP serta PBM diakomodir dalam berbagai regulasi yang dikeluarkan pemerintah. Karena itu, dibutuhkan sinergi yang sama-sama saling menguntungkan baik bagi Pelindo, PBM maupun masyarakat pengguna jasa dengan tujuan akhir peningkatan efisiensi logistik.

“Kita punya tanggung jawab yang sama untuk mewujudkan hal tersebut,” pungkas Kody.

Nilai Tambah
Pengamat pelabuhan dari ITS Surabaya, Saut Gurning, secara terus terang mengapresiasi langkah-langkah inovatif yang dilakukan manajemen Pelindo III.

“Saya kira melihat banyak perubahan dalam lima tahun belakangan ini , kita perlu mengapresiasi berbagai perkembangan positif dan usaha serius yang dilakukan manajemen dan BOC pelindo III,” ungkapnya dalam keterangan tertulis, Rabu (31/10).

Menurutnya, perubahan-perubahan tersebut terlihat dari peningkatan kinerja akibat penyediaan dan ekpansi infrastruktur, fasilitas, peralatan bongkar-muat, armada kapal tunda, aksesibilitas darat, perairan (laut dan sungai), serta reorganisasi dan reorientasi bisnis yang mulai aktif dan respon bagi pasar pengguna jasa kepelabuhanan terutama di wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Bali serta Nusa Tenggara baik NTB dan NTT.

Ditambahkannya, dampak inovasi fisik, komersial dan organisasi hingga penyediaan platform logistik yang berbasis ICT serta semi-otomatik ini dirasakan pada peningkatan kinerja operasional (kecepatan dan kesediaan bongkar-muat), peningkatan nilai tambah serta menguatkan pilihan pemilik barang ke berbagai wilayah di terminal dan pelabuhan di bawah bendera Pelindo III.

“Jadi saya melihat inovasi teknis, operasional, proses bisnis, SDM serta organisasi hingga inovasi layanan jasa logistik berbasis ICT menjadi modal besar Pelindo III saat ini yang perlu dipertahankan hingga secara gradual lebih komparabel dengan pelabuhan regional dan dunia,” imbuhnya.

Di sisi lain, jika dibandingkan perusahaan pengelola pelabuhan lainnya (Pelindo I,II, dan IV), Pelindo III memiliki dua keunggulan yang cukup menonjol. Pertama, pengembangan atau ekspansi infrastruktur yang cukup strategis bagi perkembangan jasa kepelabuhanan dan bisnis maritim. Pengembangan tersbut antara lain Terminal Multipurpose Teluk lamong, Terminal Berlian Manyar Sejahtera, Java Integrated Industrial Port and Estate (JIIPE), pelebaran dan pendalaman alur pelayaran barat surabaya ( APBS), terminal LNG Benoa dan sejumlah pengembangan terminal kontainer, multipurpose, penumpang dan cruise lainnya di cabang serta anak perusahaan. Langkah-langkah tersebut menjadi fakta usaha serius Pelindo III mengakomodasi kepentingan pertumbuhan ekonomi baik nasional dan Indonesia Timur juga perkembangan maritim Indonesia.

“Yang kedua, saya pikir ini menjadi prestasi penting yaitu menginisiasi Terminal Teluk Lamong menjadi inisiator terminal semi-otomatik dan juga pelabuhan cerdas (smart port) nasional yang saya kira cukup membanggakan,” tuturnya.

Terminal tersebut, menurut Saut, didesain, dan diusahakan secara dominan oleh anak bangsa dan pelaku usaha nasional. Kedua hal tersebut menjadi sangat penting dan menjadi referensi bisnis secara empirik bagi operator BUP lainnya di Indonesia.

“Tantangan Pelindo III ke depan itu bagaimana terus melakukan berbagai inovasi agar biaya logistik semakin efisien,” katanya.

Apalagi hingga saat ini, biaya dan waktu logistik secara nasional menurut pengukuran Bank Dunia masih belum kompetitif dibanding negara tetangga secara regional. Hal ini secara dominan sebagai akibat proses dan layanan perdagangan luar negeri yang semestinya bisa ditekan menjadi lebih efisien. Sejauh ini, persoalan mendasar masih tingginya biaya logistik nasional akibat masih besarnya biaya angkutan darat, biaya pelabuhan, biaya inventori serta biaya pelayaran.

“Saya kira persoalan-persoalan ini akan bisa diurai Pelindo III melalui langkah-langkah penataan secara berkelanjutan,” ujarnya.

Langkah-langkah tersebut bisa dalam bentuk penguatan layanan logistik melalui berbagai unit usaha dan cabang (port-centric logistics service). Misalnya saja dengan dengan menambah fasilitas angkutan darat, fasilitas pergudangan (distrbution centre), termasuk kawasan industri dan depo petikemas, serta kolaborasi dengan operator angkutan kereta api. Selain itu, instrumentasi ICT yang dapat memudahkan dan menyederhanakan proses layanan kepada para pengguna jasa.

Intinya, menurut Saut, usaha untuk meningkatkan level yang bernilai tambah bagi semua lini pengguna jasa (vertikal dan horisontal) perlu menjadi prioritas. Karena dengan demikian, tidak hanya kepuasan jasa dan biaya logistik yang murah, peningkatan volume kargo dan trafik jasa juga berpotensi terdongkrak. Pada gilirannya, hal ini tidak tidak hanya menguntungkan korporasi namun juga secara seimbang dan fair dirasakan pelaku usaha, pemilik barang, pedagang hingga masyarakat umum.

Sebagai gerbang ekonomi Kawasan Timur Indonesia (KTI), Saut menilai orientasi usaha pengembangan infrastruktur, kinerja dan bisnis yang dilakukan Pelindo III masih lebih realistis diarahkan pada kekuatan pasar domestik termasuk penguatan layanan feeder ketimbang beralih ke transhipment seperti negara tetangga.

“Di level kinerja operasional dan teknis saya kira cukup komparabel dengan pelabuhan-pelabuhan di ASEAN. Tapi untuk saat ini Pelindo III akan lebih ciamik jika tetap fokus pada upaya menekan efisiensi logistik,” katanya.

Meski demikian, dalam jangka panjang usaha untuk mengurangi dependensi kargo Indonesia ke wilayah Singapura dan Malaysia juga perlu menjadi target Pelindo III. Dengan catatan, konsolidasi perdagangan, logistik dan pelayaran kita telah memenuhi level operasi yang ekonomis

Selain itu, Pelindo III juga diharapkan dapat menjadi salah satu stimulator pengembangan dan penciptaan pertumbuhan ekonomi di berbagai wilayah daerah sekitar pelabuhan yang dikelolanya di berbagai propinsi tersebut. Bahkan idealnya, pertumbuhan keuntungan dan kenaikan nilai bisnis usaha korporasi juga dapat memberikan kenaikan pendapatan asli daerah, penciptaan kegiatan ekonomi dan usaha.

“Jadi kalau pelabuhan bertumbuh dan bertambah besar, kota dan daerah di sekitarnya menjadi lebih sejahtera,” pungkasnya.

Berkelanjutan

Terkait dengan berbagai inovasi yang kini tengah dilakukan Pelindo III, Corporate Secretary Pelindo III, Faruq Hidayat, menegaskan peningkatan produktivitas pelabuhan. Menurut Faruq, Hingga triwulan III tahun 2018, Pelindo III berhasil menangani bongkar muat petikemas sebanyak 3,14 juta boks atau setara dengan 3,89 juta TEUs. Angka ini meningkat 7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Peningkatan tersebut sebagian besar dikontribusikan dari pertumbuhan petikemas domestik,” kata Faruq di Surabaya, Sabtu (27/10).

Menurut Faruq, geliat pertumbuhan ekonomi di daerah yang menjadi hinterland cabang-cabang pelabuhan Pelindo III menjadi penyokong dari meningkatnya produktivitas bongkar muat tersebut.

VP Corporate Communication Pelindo III, R Suryo Khasabu, menambahkan peningkatan produktivitas tersebut juga merupakan buah dari langkah-langkah peningkatan efektivitas operasional pelayanan kapal.

“Pelindo III memberikan jasa pandu khusus untuk TPS dan optimalisasi perogram window kapal sehingga waktu tunggu kapal untuk bersandar semakin singkat,” ujarnya.

Langkah-langkah tersebut, menurut Suryo, menjadi bagian dari inovasi pelayanan yang dilakukan Pelindo III. Dengan mengusung konsep smart port, Pelindo III terus berupaya mengoptimalkan semua infrastruktur, sistem maupun alat agar tercapai target efisiensi logistik sebagaimana yang diharapkan.

Selama kurun waktu lima tahun terakhir, selain membangun Terminal Teluk Lamong dengan desain operasional semi otomasi, Pelindo III juga melakukan rekonfigurasi Terminal Tanjung Perak serta membangun dan mengembangkan JIIPE. Sedangkan di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, langkah yang dilakukan adalah dengan membangun polder untuk mengurangi rob yang kerap mengganggu operasional.

Peningkatan kapasitas Pelabuhan Banjarmasin, Sampit, Bagendang dan Tenau Kupang dilakukan melalui modernisasi alat bongkar muat dan operasional sistem. Penataan Pelabuhan Benoa dilakukan untuk mengantisipasi jumlah kapal cruise yang semakin meningkat. Begitu juga kontenerisasi yang dilakukan di pelabuhan-pelabuhan kawasan Timur Indonesia.

Khusus di Tanjung Perak sebagai pelabuhan utama, inovasi juga dilakukan dengan membuat sistem aplikasi yang disebut Home Terminal Service. Aplikasi kepelabuhan satu-satunya di Indonesia ini dibuat unduk makin memudahkan layanan bagi para pengguna jasa seperti vessel service, aktivitas pelabuhan (port service), manajemen logistik dan kontainer.

Selain itu, Pelindo III juga mengembangkan MiniCon yaitu kontainer berukuran sepertiga petikemas berukuran 20 TEUs. Tujuan pembuatan kontainer mini ini untuk mengurangi waktu dwelling time di pelabuhan yang semula 3-7 hari menjadi hanya 30 menit.

Inovasi lainnya pembangunan Elevated Parking Truck dengan tinggi 4 lantai di Terminal Kalimas yang bisa menampung 130 unit truk di atas lahan seluas 1 Ha. Selain itu, fasilitas shore connection sebagai sumber tenaga mesin kapal di dermaga BJTI yang dimaksudkan sebagai langkah penghematan bahan bakar minyak (BBM). Pelindo III juga mengoperasikan hotel kapsul di Gedung Terminal Gapura Surya. Pembangunan Pelindo Place berupa menara 23 lantai akan menjadi pusat bisnis di kawasan Pelabuhan Tanjung Perak yang mengusung konsep Green Building.

Inovasi yang dilakukan tidak hanya menyangkut infrastruktur, alat maupun sistem aplikasi, Pelindo III juga terus mendorong para pegawainya mengembangkan budaya digital yang ditandai dari paperless, online meeting serta optimalisasi aplikasi dalam mendukung pekerjaan.

Dengan berbagai upaya tersebut, pengakuan akan peningkatan layanan Pelindo III pun terus berdatangan. September lalu, Kementerian Perhubungan sebagai regulator menganugerahan sejumlah penghargaan Pelayanan Prima kepada cabang maupun terminal petikemas di lingkungan Pelindo III.

Keberhasilan ini, tidak hanya merupakan apresiasi, tapi menjadi bukti komitmen dari Pelindo III dalam menjalankan upaya-upaya inovatif mewujudkan efisiensi logistik di Indonesia.*** [Karnali Faisal]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *