Ini dia, 11 Solusi Andalan Astra Financial Dukung Inovasi dan Inklusi Keuangan

Jakarta, Maritim Indonesia — Bupati Karawang, Cellica Nurachadiana geram dengan makin maraknya praktik peminjaman uang yang dilakukan para rentenir di desa-desa di wilayahnya. Di Karawang, praktik penyaluran pinjaman uang itu berkedok lembaga keuangan resmi yang lebih dikenal dengan sebutan Bank Emok. Istilah tersebut merujuk pada sistem peminjaman uang yang nasabahnya sebagian besar perempuan yang berhimpun secara berkelompok antara lima sampai enam orang.  

Pada saat mengangsur pinjaman, semua anggota kelompok harus hadir. Jika tidak, pihak pemberi pinjaman tidak akan memberikan lagi kredit kepada kelompok tersebut. Cara ini cukup efektif. Tingkat pengembalian pinjaman tinggi dan nyaris tak mengenal istilah kredit macet.

Seperti dikuti Republika, 18/7/19, Kegeraman Bupati Karawang terhadap praktik Bank Emok memang beralasan. Pasalnya, tak sedikit keluarga yang dilanda konflik karena terjerat praktik pinjaman uang tersebut. Hal yang sama juga diungkapkan Wakil Bupati Karawang, Ahmad Zamakhsari, yang mensinyalir sejumlah warganya melakukan aksi bunuh diri karena merasa malu tidak bisa melunasi utang kepada para rentenir tersebut.

Keberadaan Bank Emok di desa-desa memang sudah lama menjadi sorotan. Bahkan Menteri Keuangan, Sri Mulyani menyebut program penyaluran kredit ultra mikro di bawah 10 juta dimaksudkan agar masyarakat bisa agar bisa lepas dari jerat rentenir. Program yang digagas sejak tahun 2017 ini diarahkan bagi para pedagang kaki lima, petani, nelayan pesisir, hingga pedagang asongan.

Dari penelusuran langsung penulis ke masyarakat, merajalelanya praktik Bank Emok di desa-desa di Karawang dan juga wilayah lainnya di Jawa Barat, tak hanya disebabkan kemudahan memperoleh dana pinjaman yang nyaris tanpa syarat. Tapi disebabkan juga oleh sifat konsumtif masyarakat.

Acapkali pinjaman uang itu tidak benar-benar digunakan secara produktif seperti modal usaha. Namun untuk membeli barang-barang kebutuhan seperti alat-alat rumah tangga, barang elektronik, dan lain-lain. Kondisi ini diperparah dengan bunga pinjaman yang relatif lebih besar dibandingkan perbankan serta kemampuan mengasur pinjaman itu sendiri.

Sejatinya solusi yang dilakukan pemerintah melalui program penyaluran kredit ultra mikro merupakan jawaban atas persoalan tersebut. Namun keterbatasan anggaran pemerintah di satu sisi, serta banyaknya warga yang terjerat Bank Emok di sisi lain, membuat program penyaluran kredit ini belum bisa menjangkau semua pihak.

Maka upaya yang paling mungkin dilakukan adalah beroperasinya lembaga-lembaga keuangan yang memiliki izin Otoritas Jasa Keuangan (OJK) maupun Bank Indonesia di kawasan yang terdampak praktik Bank Emok. Salah satu lembaga keuangan tersebut adalah Astra Financial.

Pertanyaannya, mengapa harus Astra Financial?

Untuk menjawab pertanyaan itu, sejenak kita memotret kiprah Astra International –induk perusahaan Astra Financial—yang sejauh ini  banyak melakukan program-program berbasis kepedulian masyarakat. Sampai saat ini Kampung Berseri Astra (KBA) menjadi program unggulan kepedulian sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) Astra International di tengah-tengah masyarakat.

Beberapa waktu lalu, penulis sempat melakukan liputan ke salah satu KBA di Kelurahan Warakas, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Di sini, Astra melakukan pendampingan pada anggota Pos Pelayanan Terpadu (Pos Yandu) agar bisa lebih produktif.

Saat itu penulis bertemu dengan Ketua PKK RW 02 Kelurahan Warakas, Wulan Handayani, yang mengatakan  sejak tahun 2011 hingga tahun 2013, Astra sering mengundang Tim PKK RW tersebut mengikuti berbagai kegiatan pelatihan Pos Yandu, PAUD maupun kegiatan-kegiatan peduli lingkungan lainnya. Hingga kemudian di tahun 2013, terjadi diskusi antara Tim Astra  dengan kader-kader PKK RW 02 mengenai kegiatan yang akan dilakukan. Seolah mendapat kesempatan, para kader PKK pun kemudian mengusulkan kegiatan pelatihan hidroponik.

“Semula kami belum yakin, apakah usulan ini bisa diterima atau tidak. Eh ternyata seminggu kemudian pihak Astra mendatangkan narasumber untuk pelatihan hidroponik tersebut,” imbuhnya bangga.

Astra bahkan menyumbang 7 rak yang masing-masing terdiri dari 120 buah pot sebagai medium tanaman hidroponik. Tak sia-sia, pola tanam hidroponik tak hanya menjadi kegiatan unggulan, melainkan sudah memiliki manfaat ekonomi.Sekadar catatan, hidroponik merupakan pola budidaya menanam dengan memanfaatkan air tanpa menggunakan tanah dan lebih mengandalkan nutrisi bagi tanaman tersebut.

Kepedulian Astra pun tak hanya berhenti di situ. Astra juga membangun gedung dua lantai di RW 02 sebagai pusat kegiatan warga. Saat ini di lantai I gedung yang seluruh biaya pembangunannya ditanggung perusahaan otomotif tersebut  digunakan sebagai sekretariat RW, sedangkan lantai 2 digunakan untuk kegiatan warga yang tergabung dalam Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK).

“Mimpi kami ingin kegiatan penanaman hidroponik ini terus  menyebar ke setiap RT sehingga bisa menjadi salah satu sumber pendapatan ekonomi keluarga,” katanya berharap. Terlebih lagi, sejauh ini Pemeritah Kota Jakarta Utara pun memberikan apresiasi yang sangat positif terhadap upaya yang dilakukan kader-kader PKK di wilayah tersebut.

Selain hidroponik, Tim PKK RW 02 yang memiliki 22 orang kader untuk kegiatan tersebut juga kemudian mengembangkan tanaman obat keluarga (toga) dalam pot semisal jahe, kunyit putih, lengkuas, lidah buaya, dan lain-lain yang dalam pelaksanaannya juga mendapat pendampingan dari pihak Astra. Produk dari toga berupa jamu ini pun kemudian dipasarkan di lingkungan kaum perempuan sekitar RW tersebut.

“Astra sangat membantu kami untuk mewujudkan program-program yang kami ingin lakukan,” ujar Wulan yang saat wawancara didampingi Ketua Pos Yandu RW 02, Wawa Teksawati.

Dia pun merasa bersyukur, pendampingan yang dilakukan Astra tidak hanya sebatas program hidroponik maupun pos yandu. Kegiatan-kegiatan lainnya seperti pembinaan terhadap lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Pos Pembinaan Terpadu (Pos Bindu), serta Kewirausahaan lainnya juga dilakukan dengan pendampingan Astra.

Di lingkup Astra,  program kepedulian terhadap lingkungan tersebut merupakan implementasi dari Program Kampung Berseri Astra (KBA) yang mengintegrasikan 4 nilai program yakni pendidikan, kewirausahaan, lingkungan dan kesehatan.

Bagi Wawa, penetapan status Warakas sebagai KBA ternyata memang lebih banyak menguntungkan.  Dia mencontohkan ketika Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggelar lomba Program Kampung Iklim (Proklim), Tim Semut Merah dari Astra terjun langsung melakukan pendampingan terhadap kader-kader PKK KBA Warakas.  Hasilnya, KBA Warakas menjadi salah satu pemenang dalam lomba tersebut.

Begitu pun yang dilakukan mitra KBA Warakas seperti PAUD Institute untuk bimbingan penyelenggaraan PAUD, Tim Universitas Indonesia untuk kesehatan, serta pihak Astra langsung untuk pelatihan kewirausahaan.

Inklusi Keuangan

Dengan pengalaman panjang Astra dalam membuat program berbasis kepedulian masyarakat, sangat wajar jika Astra Financial bisa menduplikasi program-program tersebut khususnya untuk kasus Bank Emok seperti yang terjadi di Karawang, Jawa Barat.

Apalagi Astra Financial yang saat ini memiliki total 32 ribu karyawan tersebar di seluruh Indonesia memiliki 11 unit usaha yang bisa dikolaborasikan untuk mengatasi persoalan-persoalan ekonomi di masyarakat. Di sektor perbankan, Astra Financial memiliki Bank Permata. Sedangkan dari sektor pembiayaan, Astra Financial juga memiliki perusahaan yang bergerak dengan segmen masing-masing antara lain Astra Credit Companies (ACC), FIFGroup, Toyota Astra Finance, Komatsu Astra Finance dan Surya Artha Finance. Astra Financial pun memilik unit bisnis di bidang asuransi baik asuransi umum yaitu Asuransi Astra maupun asuransi Jiwa (Astra Life). Unit usaha Astra Ventura bergerak di bidang penyertaan modal perusahaan (Dana Ventura).

Dua unit usaha lainnya yaitu bidang Financial Technology yakni Astra WeLab Digital Artha, serta Dana Pensiun Astra (Dana Pensiun).

Seperti disebutkan di atas, sebagai lembaga keuangan yang sudah mendapat izin OJK maupun Bank Indonesia maupun lembaga pemerintah lainnya, kiprah Astra Financial sangat ditunggu masyarakat yang selama ini dirugikan dengan praktik rentenir yang meminjamkan uang dengan pengembalian pokok disertai bunga yang tinggi.

Dalam hal ini, kehadiran Astra Financial dengan 11 unit bisnisnya bisa diintegrasikan untuk menjawab persoalan-persoalan ekonomi di tengah masyarakat saat ini. Terlebih lagi pemerintah saat ini tengah mendorong inklusi keuangan agar setiap warga negara memiliki akses terhadap berbagai layanan lembaga keuangan. Sejauh ini, belum semua warga negara memiliki kemampuan untuk mengakses berbagai layanan tersebut. Kondisi inilah yang membuat praktik-praktik rentenir masih merajalela. Tak hanya itu, belum semua warga juga memahami pentingnya pola pengelolaan keuangan secara baik.

Kehadiran Astra Financial dengan layanan yang terintegrasi tentunya akan mendorong target pemerintah dalam melaksanakan program inklusi keuangan sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) No. 82 Tahun 2016 bisa lebih cepat diwujudkan. Hingga akhir tahun 2019 ini, pemerintah menargetkan program inklusi keuangan sudah mencapai 75%.

Jika target tersebut  tercapai maka diharapkan pertumbuhan ekonomi masyarakat akan semakin meningkat, kemiskinan berkurang, pendapatan yang makin merata serta menciptakan kondisi keuangan yang lebih stabil.

Dalam kasus di atas, Astra Financial bisa melakukan riset secara menyeluruh untuk menentukan unit-unit bisnis yang bisa dijalankan di kawasan-kawasan yang selama ini terdampak praktik rentenir atau yang disebut Bank Emok.

Misalnya saja, untuk melindungi tanaman pertanian dari resiko gagal panen, Asuransi Astra bisa membuat program untuk menjangkau para petani. Sedangkan bagi para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah bisa melibatkan Bank Permata. Perusahaan pembiayaan seperti FIFGroup atau yanglainnya bisa dilibatkan untuk membiayai kredit sarana dan prasarana pertanian. Untuk kebutuhan dana jangka pendek dan tidak membutuhkan agunan, bisa menggunakan aplikasi MauCash  yang merupakan unit bisnis Finance Technology Astra Financial.

Tentu saja, langkah tersebut harus paralel dengan upaya mengedukasi masyarakat tentang pentingnya mengelola keuangan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sebab, kehadiran berbagai unit bisnis Astra Financial yang beroperasi secara terintegrasi akan lebih cepat berhasil jika ditunjang dengan semakin menguatnya kesadaran masyarakat terhadap hal tersebut. Pada gilirannya, hal ini tentu  akan berdampak pada semakin berkurangnya minat masyarakat untuk mendapatkan pinjaman dari Bank Emok. Mereka lebih percaya pada lembaga kiprah Astra Financial sebagai jawaban atas pengelolaan keuangan yang jauh lebih baik. Terlebih lagi induk perusahaan Astra Financial yakni Astra International sudah lama menggagas Kampung Berseri Astra yang menunjukan kepedulian perusahaan terhadap kehidupan sosial maupun ekonomi masyarakat.*** [Karnali Faisal]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *