Kolaborasi OJK: Mendorong UMKM Bermutu Untuk Mewujudkan Indonesia Maju

Jakarta, Maritim Indonesia – LAYAKNYA kontes ajang pencarian bakat di stasiun televisi yang digandrungi para remaja, sepanjang bulan November ini, Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) pun menggelar ajang yang nyaris sama. Bedanya, jika audisi pencarian bakat di televisi menargetkan lahirnya bibit-bibit penyanyi baru, GPEI mencari ribuan pengusaha Usaha Kecil Mikro dan Menengah (UMKM) yang akan dibina untuk menghasilkan produk unggulan dan berorientasi ekspor.

“Dari kegiatan ini, kami juga berharap bisa menemukan sedikitnya satu produk unggulan di setiap kabupaten/kota di seluruh Indonesia,” ungkap Ketua Umum GPEI, Khairul Mahalli, kepada Maritim Indonesia, Jumat (8/11).

Menurut sosok yang akrab disapa Mahalli tersebut, ajang yang dilakukan GPEI tersebut telah dimulai di Surabaya, Jawa Timur , pada tanggal  6 November 2019 lalu. Selanjutnya di Denpasar, Bali tanggal 16 November mendatang. Sehari berikutnya di Bandung,  Jawa Barat, tanggal 17  November 2019.

Di Jakarta, acara yang sama digelar tanggal 23 November 2019, sedangkan di Medan Sumatera Utara tanggal 25 November 2019. Untuk Kawasan Timur Indonesia, dimulai dari Makassar tanggal 28 November 2019.  Di setiap perhelatan tersebut, GPEI menggandeng Kamar Dagang dan Industri (KADIN) dan Himpunan Pengusaha Online Internasional (HIPO).

“Sebagai eksportir, kami melihat produk-produk UMKM potensial untuk dipasarkan di luar negeri,” imbuhnya.

Mahalli mencontohkan di ASEAN saja,terutama Malaysia dan Brunei Darussalam, saat ini sudah banyak permintaan produk halal skala UMKM. Jika permintaan tersebut bisa dipenuhi, dampaknya tentu tidak hanya dirasakan para pengusaha UMKM, negara pun bisa menikmati dalam bentuk perolehan devisa. Di samping itu, semakin tumbuhnya penciptaan lapangan kerja.

Karena itu, pihaknya melakukan aksi jemput bola mengundang para pengusaha UMKM mempresentasikan produk-produk yang dihasilkan. Dengan cara ini, dia berharap kendala-kendala yang dihadapi para pelaku UMKM dalam menjalankan usahanya bisa diminimalisir.

Dari sisi manajemen, para anggota GPEI maupun KADIN berinisiatif menyisihkan keuntungan usaha sebagai penyertaan modal UMKM. Selain itu, melakukan pendampingan untuk memperoleh sertifikasi  produk maupun membantu memasarkan produk ke luar negeri.

Meski demikian, untuk UMKM yang membutuhkan modal dalam skala lebih besar, GPEI mempersilakan para pelaku UMKM tersebut mengakses pinjaman modal baik dari lembaga keuangan, perbankan, maupun dari perusahaan-perusahaan financial technology (Fintech) yang sudah mendapat izin Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Tentu dengan syarat pinjaman itu tidak membebani para pelaku UMKM itu sendiri,” cetusnya.

Mahalli menyebut pinjaman dengan bunga terlalu tinggi kurang produktif bagi pengembangan UMKM. Apalagi jika pelaku UMKM diharuskan menyediakan agunan sebagai jaminan kredit modal yang dipinjamnya. Padahal, dari sekian banyak UMKM saat ini tak sedikit yang tidak memiliki barang jaminan sehingga kesulitan mengakses jasa perbankan.

Mahalli berharap terobosan yang saat ini dilakukan GPEI akan menjadi sebuah ‘startup’ peningkatan kualitas UMKM agar menjadi lebih bermutu dan menghasilkan produk-produk yang makin  berdaya saing.

Kolaborasi

Direktur Eksekutif Insitute for Development of Economics and Finance (INDEF), Enny  Sri Hartati, menilai langkah yang dilakukan para pengusaha ekspor berkolabarasi dengan pelaku UMKM perlu mendapat dukungan dari semua pihak, terutama pemerintah. Terlebih lagi kolaborasi tersebut dimaksudkan untuk mendorong peningkatan ekspor agar menghasilkan devisa yang lebih besar lagi bagi negara.

Menurut Enny, dukungan pemerintah dalam mendorong pertumbuhan UMKM akan sangat positif untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.

“Banyak cara yang bisa dilakukan agar produk-produk UMKM kita bisa diterima pembeli di luar negeri,” ujar Enny dalam perbincangan dengan Maritim Indonesia, Jumat (8/11).

Sedemikian pentingnya UMKM, menurut Enny, saat ini negara lain seperti India pun menempuh kebijakan memberdayakan kelompok usaha tersebut untuk menopang pertumbuhan ekonominya. Perdana Menteri India, Narendra Modi, menerapkan kebijakan pinjaman berbunga rendah serta perlindungan asuransi terhadap jutaan UMKM di negara tersebut.

Enny menambahkan, dari sisi permodalan yang selama ini menjadi kendala pengembangan UMKM, kolaborasi antarbank sangat diperlukan. Cara ini perlu dilakukan agar pembiayaan UMKM tidak lagi menjadi kendala.

“Kolaborasi ini dulu pernah dilakukan bank-bank pemerintah, dan sekarang pun seharusnya lebih ditingkatkan lagi,” tuturnya. 

Selain perbankan, pembiayaan melalui perusahaan financial technology (Fintech) juga bisa dilakukan terutama bagi UMKM yang baru memulai usaha dengan modal tidak terlalu besar untuk meminimalisir resiko. Hal ini sejalan dengan kemudahan mendapatkan pinjaman jika dibandingkan dengan lembaga keuangan lainnya.

Di samping kehati-hatian dari pelaku UMKM sendiri, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga diharapkan melakukan langkah preventif dan edukatif agar masyarakat memanfaatkan fintech lending secara tepat.

Langkah lain yang bisa dilakukan, menurut Enny, mendorong percepatan sertifikasi produk UMKM agar memiliki standar mutu internasional sehingga bisa comply dengan aturan negara mana pun di dunia. Pemerintah bisa berinisiatif membebaskan biaya sertifikasi produk tersebut sebagai dukungan nyata terhadap para pelaku UMKM.

 “Standar sertifikasi kita harus mengacu pada kualitas internasional, bukan aturan yang sama sekali tidak berhubungan dengan kebutuhan buyer produk tersebut,” tandasnya.

Tidak kalah pentingnya, sinergitas di antara masing-masing lembaga pemerintah sehingga bisa memudahkan UMKM mengakses semua layanan yang disediakan. Termasuk di dalamnya bimbingan terhadap pengusaha UMKM memahami teknologi informasi yang ke depan akan serba digital.

Enny pun berpesan agar pemerintah makin bersikap ‘humanis’ terhadap UMKM dengan memberi ruang yang lebih besar dalam memproduksi barang-barang kebutuhan masyarakat. Sebaliknya, pemerintah diharapkan lebih ‘galak’ terhadap barang-barang impor yang bisa dihasilkan UMKM di dalam negeri.

Enny optimistis jika semua pihak terkait melakukan langkah-langkah kolaboratif seperti di atas, UMKM akan tampil menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Tentu, sebuah optimisme yang tidak berlebihan jika melihat potensi besar UMKM. Mengutip data BPS tahun 2018, jumlah UMKM di Indonesia mencapai 58 juta unit dengan pelaku usahanya mencapai 58,9 juta orang.

Optimisme itu kian bertambah ditunjang munculnya kesadaran di antara para pelaku usahanya melakukan kolaborasi agar produk-produk UMKM tidak hanya dipasarkan di dalam negeri, tapi juga menembus pasar luar negeri (ekspor). Salah satunya seperti yang dilakukan GPEI menggandeng UMKM meningkatkan kualitas produk maupun peluang pemasaran di luar negeri.

Sejatinya, langkah yang dilakukan GPEI tersebut sinergis dengan kebijakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang sejak Agustus tahun lalu menerbitkan paket kebijakan untuk mendorong ekspor dan mengakselerasi pertumbuhan ekonomi. Kebijakan itu pun menyentuh UMKM melalui program pengelompokan usaha (klaster) terutama pada sektor produktif seperti perikanan, pertanian, perkebunan dan industri kreatif.

Mengutip pernyataan Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso, seusai bertemu Menteri Koperasi dan UMKM, Teten Masduki, akhir Oktober 2019 lalu, pembentukan klaster usaha ini diharapkan mempermudah para pengusaha UMKM dalam memperoleh pendanaan yang murah, pasar maupun mitra usaha.

“OJK akan menyiapkan skim pembiayaan murah yang melibatkan pendanaan perbankan dengan skim khusus tersebut,” ujarnya.

Jika saja upaya kolaboratif yang dilakukan pemerintah, asosiasi pengusaha, industri keuangan maupun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong UMKM menghasilkan produk-produk yang makin bermutu bisa terlaksana dengan baik, tentunya akan banyak dampak positif yang muncul, mulai dari penyediaan lapangan kerja, hingga peningkatan devisa yang pada gilirannya mendorong pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan. Dengan demikian, cita-cita mewujudkan Indonesia yang lebih maju pun diharapkan bisa lebih cepat tercapai. Semoga.*** [Karnali Faisal]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *