Membendung “Game of Thrones” dari Pelabuhan Kijing

Pontianak, Maritim Indonesia –  Waktu menunjukkan jam satu siang. Panas terasa menyengat di pantai Kijing, Mempawah, Kalimantan Barat. Untungnya, beberapa meter dari bibir pantai, ratusan pohon kelapa tumbuh berjejer sehingga membuat udara menjadi lebih sejuk. Rimbun daun-daun kelapa ikut menahan jatuhnya sinar matahari.

Berjarak kurang lebih 90 kilometer dari Pelabuhan Dwikora, Pontianak, perjalanan menuju Pantai Kijing bisa ditempuh dua jam dengan menggunakan mobil. Lamanya perjalanan tersebut karena kondisi lalu lintas di dalam kota Pontianak yang tak lepas dari kemacetan. Tiba di perbatasan Pontianak-Mempawah, kecepatan kendaraan bisa dipacu di atas angka 60 km/jam.

Pantai Kijing dengan pemandangan alam yang eksotis kini makin banyak menarik perhatian masyarakat Kalimantan Barat. Semua berawal dari informasi tentang akan dibangunnya pelabuhan internasional di kawasan itu.

Adalah PT Pelabuhan Indonesia II (Persero)/IPC yang menginisiasi pembangunan pelabuhan tersebut untuk mengantisipasi semakin meningkatnya pertumbuhan volume bongkar muat (troughput). Untuk proyek pembangunan dengan luas lahan 200 hektare tersebut, Pelindo II telah menyiapkan dana sebesar Rp 14 Triliun.

Saat ini PT Wijaya Karya sebagai pelaksana mulai menggarap pembangunan konstruksi jalan penghubung serta dermaga maupun area pengelola pelabuhan.

Ditargetkan, pembangunan tahap I pelabuhan tersebut selesai tahun 2019 dan langsung beroperasi. Percepatan ini dilakukan mengingat volume bongkar muat yang terus tumbuh di Pelabuhan Dwikora, Pontianak.

Setiap tahun, troughput pelabuhan yang dikelola Pelindo II Cabang Pontianak tersebut mengalami kenaikan rata-rata 8 sampai 12 persen. Sebagai contoh, tahun 2017 lalu, throughput mencapai 244.485 TEUs. Angka ini naik dari tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 209.520 TEUs.

Padahal, kapasitas eksisting hanya sebesar 300 ribu TEUs. Jika pertumbuhan stabil 10% setiap tahun, hanya dalam jangka waktu 4 tahun ke depan, kongesti pelabuhan menjadi ancaman serius bagi perekonomian Kalimantan Barat.

Data pada Bank Indonesia Kalimantan Barat menyebutkan pertumbuhan ekonomi pada triwulan I mencapai 5,11% (yoy) atau naik dalam periode yang sama di tahun 2017 lalu sebesar 4,94%.

Angka pertumbuhan diperkirakan terus meningkat hingga akhir tahun sebagaimana hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang dilakukan Kantor Perwakilan Bank Indonesia setempat yang menunjukkan adanya kenaikan kegiatan usaha pada Triwulan II-2018, dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.

Dari sisi transaksi perdagangan, komoditas utama seperti karet, bouksit, dan CPO masih menjadi primadona provinsi ini. Bahkan dengan luas lahan 1,4 juta hektare lahan perkebunan sawit, Kalimantan Barat optimis bisa memberikan kontribusi yang lebih besar lagi terhadap produksi CPO. Saat ini, produksi CPO Kalbar sebesar 2,2 juta ton atau sebesar 11% dari produksi nasional.

Kepala Perkebunan Provinsi Kalimantan Barat, Florentinus Anum, seperti dikutip Antara, menyatakan optimis produksi maupun produk turunan komoditas tersebut akan terus meningkat. Hal ini sejalan dengan kebijakan Pemprov yang menyediakan lahan seluas 125 Ha sebagai kawasan industri pengolahan produk tersebut.

Komoditas unggulan lainnya seperti karet dan bouksit juga mengalami peningkatan. Bulan Oktober ini perusahaan BUMN Aneka Tambang menandatangani kerja sama hilirisasi industri bouksit dengan perusahaan asal China untuk mengolah bahan tambang tersebut menjadi alumina. Begitu pun dengan karet yang akan terus ditingkatkan produksinya baik melalui kebijakan peremajaan maupun hilirisasi industri agar memiliki nilai tambah yang lebih baik.

Contingency Plan
Dengan berbagai potensi ekonomi terutama 3 komoditas tersebut, manajemen IPC Pelindo II cabang Pontianak terus berupaya agar semua aktivitas bongkar muat di pelabuhan ini bisa berjalan dengan lancar tanpa terkendala faktor keterbatasan lahan maupun dermaga.

General Manager IPC Pelindo II cabang Pontianak, Adi Sugiri, menyatakan telah melakukan langkah-langkah antisipasi agar pertumbuhan volume bongkar muat bisa terus dilayani dengan baik. Saat ini dari panjang dermaga 812 meter, dermaga untuk terminal petikemas (405 meter), sedangkan sisanya untuk non petikemas (multipurpose).

Menurutnya, selain menerapkan sistem kapal berjadwal (windows system), pihaknya juga memastikan kesiapan (avaibility) alat-alat bongkar muat, peningkatan utilitas dermaga, auto gate system, maupun implementasi aplikasi pendukung kegiatan bongkar muat non peti kemas (NPK TOS).

“Tahun ini kami juga mengalokasikan dana sebesar Rp90 miliar untuk pengadaan 3 unit reach stacker, mobile crane serta pengerukan alur,” ungkapnya, Rabu (17/10).

Sejauh ini, dengan berbagai upaya tersebut, kegiatan bongkar muat di Pelabuhan Dwikora, Pontianak bisa berjalan dengan lancar. Manajer Terminal Petikemas, Hendri Purnomo, menyebut waktu inap petikemas (dwelling time) di pelabihan ini rata-rata 2,5 hari sampai 3 hari. Sedangkan YOR (yard occupancy ratio) 50%-60%. Sedangkan turn round time (TRT) truk rata-rata 15 menit.

Rendahnya dwelling time maupun YOR tersebut merupakan hasil kerja sama dengan pihak pelayaran yang dengan segera memindahkan petikemas dari lapangan penumpukan ke depo-depo yang berada di luar pelabuhan. Saat ini terdapat 7 perusahaan pelayaran yang melakukan aktivitas bongkar muat yakni Lintas Kumala Abadi, Panurjwan, Tanto, SPIL, Meratus, New Ship Singapura dan Tempuran Mas (Temas).

Meski aktivitas bongkar muat saat ini masih bisa berjalan dengan lancar, manajemen IPC Pelindo II cabang Pontianak telah menyusun contingency plan dalam bentuk pengoperasian buffer area di kawasan Pelabuhan Nipah Kuning. Pelabuhan yang berjarak 6 kilometer dari Pelabuhan Dwikora Pontianak tersebut memiliki buffer area seluas 4 hektare yang bisa menampung 2000 boks petikemas.

Adi Sugiri menambahkan, pengoperasian buffer area maupun dermaga Pelabuhan Nipah Kuning akan membantu mengurangi kepadatan bongkar muat di pelabuhan eksisting saat ini. Untuk mewujudkan hal tersebut, manajemen IPC Pelindo II saat ini terus berkomunikasi dengan pihak Pemerintah Kota Pontianak terkait peningkatan kapasitas jalan sepanjang 800 meter yang menjadi akses masuk menuju kawasan tersebut.

Berbagai upaya itu paling tidak menjadi solusi jangka pendek dari kecenderungan makin meningkatnya volume kegiatan bongkar muat di Pelabuhan Pontianak sebelum Pelabuhan Kijing tahap I beroperasi tahun 2019 mendatang.

Bagi pemerintah dan masyarakat di Provinsi Kalimantan Barat, upaya yang dilakukan IPC Pelindo II baik peningkatan kapasitas Pelabuhan Dwikora maupun pembangunan Pelabuhan Kijing merupakan jawaban dari persoalan keterbatasan infrastruktur dasar yang selama ini menjadi kendala dalam pembangunan ekonomi. Selain persoalan lainnya seperti listrik maupun jalan raya yang kini juga tengah diupayakan penyelesaiannya oleh pemerintah.

Pembangunan Pelabuhan Kijing juga mendorong optimisme berjalannya program-program pemerintah setempat dalam pembangunan industri hilir maupun kegiatan ekspor impor dalam jumlah yang lebih besar.

Dengan demikian, akan memicu munculnya dampak ikutan (multiplier effect) seperti peningkatan lapangan kerja, pendapatan pajak, aktivitas ekonomi masyarakat, peningkatan devisa maupun tumbuhnya pusat-pusat hunian maupun ekonomi yang baru. Pada gilirannya, hal ini berdampak terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Di sisi lain, seperti diungkapkan Presiden Jokowi dalam ajang pertemuan tahunan IMF dan World Bank di Bali, 8-14 Oktober lalu, saat ini telah terjadi konflik perdagangan dunia di antara negara-negara maju. Kondisi ini, menurut presiden, persis seperti dalam serial film televisi “Game of Thrones” yaitu antara pihak yang menang maupun kalah sama-sama menanggung kerugian. Kerugian tersebut tak hanya dialami negara yang terlibat langsung dalam perang dagang, namun negara-negara lainnya, termasuk Indonesia.

Bagi Indonesia, fenomena perang dagang tersebut tentu tidak bisa dihadapi hanya dengan berpangku tangan. Karena itu, Presiden Jokowi pun mengajak semua pihak melakukan inovasi maupun kolaborasi.

Dalam konteks saat ini, pembangunan Pelabuhan Kijing merupakan upaya inovatif untuk meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia di kancah perdagangan internasional. Dengan demikian, seburuk apapun fenomena perang dagang, Indonesia bisa bersiap untuk membendung dampak negatif yang diilustrasikan “Game of Thrones” tersebut. Keberadaan Pelabuhan Kijing bisa memperluas cakrawala hubungan dagang Indonesia khususnya Provinsi Kalimantan dengan negara-negara lainnya.

Good job Indonesia. The Port of Kijing is coming.***  [Karnali Faisal]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *